09 Jun 2019 Β· 2.527 dibaca · Sejarah
Oleh MUSAFIR ZAMAN*
LADUNI.ID, Jakarta - Namanya muncul kuat dalam peristiwa-peristiwa lewat tengah abad ke-19 Masehi (ke-13 Hijriah). Masa itu, Belanda sedang berupaya keras menanamkan pengaruhnya di Sumatera Timur lewat jalan-jalan yang licik. Dan ia pada waktu itu adalah panglima angkatan bersenjata Aceh Darussalam.
Namanya, sebagaimana terpahat pada nisan kuburnya, ialah Tuanku Pangiran Husain. Ia adalah putra dari sang pembela tanah air Islam, Almarhum Paduka Sri Sultan Manshur Syah Zhillu-Llah fil 'Alam, Sultan Aceh Darussalam.
Gerak Tuanku Pangiran Husain, atas perintah Ayahandanya, ke kawasan Sumatra Timur pada 1854, segera menggelisahkan Belanda. Dengan armada yang terdiri dari 200 kapal perang, ia telah berhasil menyelesaikan tugasnya, dalam tempo yang singkat, menyatukan berbagai kekuatan di Sumatra Timur untuk menghadapi Belanda.
"Beberapa pengakuan telah dicapai, yang isinya bahwa kedaulatan Aceh memanglah daerah-daerah tersebut. Aceh memberi gelar kepada Tengku Ngah Langkat yang sebegitu jauh
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan β tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+