Biografi KH. Moh. Hasan Mutawakkil 'Alallah., S.H., M.M

 
Biografi KH. Moh. Hasan Mutawakkil 'Alallah., S.H., M.M

Daftar Isi Profil KH. Moh. Hasan Mutawakkil 'Alallah, S.H., M.M

  1. Kelahiran
  2. Pendidikan
  3. Mengasuh Pesantren
  4. Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)
  5. Karier

Kelahiran

KH. Moh. Hasan Mutawakkil 'Alallah, S.H., M.M lahir pada tanggal 15 April 1959 di Genggong. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Hasan Saifourridzall dengan Nyai Hj. Himami Hafshawaty.

Pendidikan

Ketika baru berusia sebelas tahun, Mutawakkil kecil sudah dipondokkan ayahandanya ke Pondok Pesantren Madrasatul Ilmi Syari’ah Sarang, Rembang Jawa Tengah pimpinan Kiai Imam. Namun pendidikannya di pesantren ini berjalan singkat, hanya 9 bulan. Anak kedua dari enam bersaudara itu pun lantas melanjutkkan pendidikan agamanya di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo Kediri, sekaligus menempuh pendidikan menengah pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Lirboyo. Saat di Lirboyo, ia sudah menyenangi pelajaran Nahwu, Sharaf, Balaghah (ilmu alat), Ilmu Fiqh, Tafsir dan Hadits.

Selama sebelas tahun (1979-1981), dirinya mendalami agama di bawah asuhan KH. Marzuki dan Romo Kiai Mahrus Ali. Pemuda Mutawakkil juga sempat mengenyam pendidikan tinggi di Fak. Syari’ah Universitas Tribhakti Kediri dan ikut aktif di organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Setelah berhasil menggamit Sarjana Mudanya, dirinya melanjutkan kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Baru setahun menempuh kuliah, dirinya mendapat beasiswa untuk belajar di Al Azhar Kairo, Mesir.

Pada tahun 1983, ia berkesempatan untuk mencari pengalaman study tour ke luar negeri, semisal ke Frankrut-Jerman, Polandia, Belgia dan Belanda.

Mengasuh Pesantren

Di tengah keasyikannya menuntut ilmu ternyata ia dijemput pulang oleh sang ayahanda, yakni KH. Saifurrizal pada tahun 1985. Setelah dijemput pulang, ia langsung mengajar di Pesantren Zainul Hasan. Tak berapa lama setelah ia pulang, ibunda dan ayahandanya pulang keharibaan Allah Swt.

Akhirnya beliau dipasrahi kepengasuhan menggantikan abahnya KH. Hasan Saifurrizal yang beliau rasa merupakan amanah berat yang harus dijalankan karena menurut beliau perjuangan agama adalah pertanggung jawaban di dunia dan akhirat. Dan beliau menikah dengan seorang muslimah dari Jember bernama Nyai Hj. Muhibbatul Lubabah dan dikaruniai enam orang putri.

Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU)

Sosok kiai yang dikenal sangat menyukai angka sembilan ini akhirnya terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama dalam dua periode. Hingga hari ini beliau dalam kiprahnya menjadi Ketua PWNU Jatim banyak sekali inovasi yang mampu membangkitkan kembali gairah NU Jatim.

Sesuai manhajnya di antara beliau mendirikan TV 9, channel televisi yang menjadi sarana dakwah Aswaja yang “santun menyejukkan” sekaligus beliau menjadi direktur utamanya. Selain itu beliau juga sangat aktif dan bersemangat dalam pengkaderan dan mengawal Nadlatul Ulama menjaga Aswaja di daerah daerah.

Karier

  1. Pengasuh dan Ketua Yayasan Pesantren Zainul Hasan Genggong
  2. Ketua Yayasan Hafshawaty
  3. Ketua (Tanfidziyah) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur
  4. Presiden Komisaris TV9 Nusantara
 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya