Biografi Prof. Dr. KH. Ali Yafie

 
Biografi Prof. Dr. KH. Ali Yafie

Daftar Isi Profil Prof. Dr. KH. Ali Yafie

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Guru-Guru
  5. Murid-Murid
  6. Mengasuh Pesantren
  7. Kiprah di NU
  8. Karya-Karya

Kelahiran

Prof. Dr. KH. Ali Yafie lahir pada tanggal 1 September 1926 di Donggala, Sulawesi Tengah. Beliau merupakan putra dari KH. Mohammad Yafie.

Keluarga

Sejak usia 19 tahun, Prof. Dr. KH. Ali Yafie melepas masa lajangnya dengan menikahi Hj. Aisyah, masih berusia 16 tahun. Kendati menikah muda, mereka mengarungi bahtera mahligai rumah tangga dengan bahagia. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai empat anak, yakni Saiful, Hilmy, Azmy dan Badru.

Pendidikan

Prof. Dr. KH. Ali Yafie berasal dari keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Sejak kecil dia sudah berkecimpung di dunia pesantren. Ayahnya KH. Mohammad Yafie, seorang pendidik, sudah mendidiknya soal keagamaan dengan memasukkannya ke pesantren.

Sang ayah mendorongnya menuntut berbagai ilmu pengetahauan, terutama ilmu pengetahuan agama sebanyak-banyaknya dari para ulama, termasuk ulama besar Syekh Muhammad Firdaus, yang berasal dari Hijaz, Makkah, Saudi Arabia.

Didikan orang tuanya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tertanam terus sejak kecil hingga kemudian diteruskan dalam mendidik putra-putranya dan santri-santrinya di Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad.

Guru-Guru

Prof. Dr. KH. Ali Yafie belajar ke beberapa kiai yang terkenal di Sulawesi. Guru-guru beliau diantaranya:

  1. Syekh Ali Mathar (Rappang)
  2. Syekh Haji Ibrahim (Sidraf)
  3. Syekh Mahmud Abdul Jawad  (Bone)
  4. Syekh As’ad Singkang
  5. Syekh Ahmad Bone (Ujung  Pandang)
  6. Syekh Abdurrahman Firdaus (Jampue Pinrang).

Murid-Murid

Sudah banyak santri-santrinya yang kini telah menjadi tokoh dan ulama-ulama. Di antaranya Mantan Menteri Agama Quraish Shihab, Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab, dan salah satu Ketua MUI Umar Shihab.

Mengasuh Pesantren

Prof. Dr. KH. Ali Yafie adalah pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare, Sulawesi Selatan yang didirikannya tahun 1947.

Kiprah di NU

Prof. Dr. KH. Ali Yafie mengawali kiprahnya di NU sejak muda. Pada 1957, ia dipercaya menjadi Rais Syuriyah PCNU Pare-pare. Aktivitasnya di NU tersebut, kemudian mengantarkannya terlibat dalam dunia politik. Namun, karir di politiknya tersebut tak ditekuni secara serius. Ia lebih memilih di jalur intelektual. Kiai yang menyandang gelar profesor tersebut, aktif mengajar di IAIN Alaudin, Makasar. Hingga mengantarkannya menjabat sebagai dekan.

Karir intelektualitas dari Kiai Ali inilah di kemudian hari mengantarkannya ke panggung Nasional. Pada Muktamar ke-27 di Situbondo, namanya mulai masuk jajaran pengurus Syuriyah PBNU. Lantas, jabatan-jabatan lain pun mulai bersusulan. Mulai dari menjabat sebagai pejabat sementara Rais Aam (1991-1992) PBNU, MUI, ICMI hingga Dewan Pengurus Syariat Bank Muammalat Syariat.

Karya-Karya

  1. Menggagas  Fikih  Sosial  dari Soal  Lingkungan  Hidup,  Asuransi  hingga Ukhuwah, (Bandung: Mizan,  1995), cet, III,  Teologi Sosial, Telaah Kritis Persoalan Agama dan Kemanusiaan, (Yogyakarta: LKPSM, 1997), cet. 1,
  2. Beragama Secara Praktis  Agar Hidup Lebih Bermakna,  (Jakarta: Hikmah, 2002), cet.  1 buku karya  Ali Yafie  ini adalah sebuah  penafsiran terhadap ajaran agama merupakan salah satu kunci yang menyebabkan agama selalu menemukan hubungan dan  kesesuaian nya, buku karya  K.H. Ali Yafie ini merupakan salah  satu bentuk tanggapan  seorang ulama terhadap  beragam perkembangan   sosial,   dan   beberapa   tulisan    beliau   di   Iqra‟   Media Pencerahan  Umat, yang  diterbitkan  oleh Yayasan  Berkat  Rahmat Allah, Jakarta.
  3. Di samping  itu ada  sebuah  buku  yang  diluncurkan  pada  peringatan 70 Tahun  KH   Ali.Yafie,  merupakan   kumpulan  tulisan   dari   para  ulama, cendekiawan,  politisi, pejabat,  pengusaha dll,  yang  diedit oleh  Jamal  D. Rahman, tahun 1997.