Biografi KH. Munif Djazuli

 
Biografi KH. Munif Djazuli

Daftar Isi Profil KH. Munif Djazuli

  1. Kelahiran
  2. Mendirikan Pesantren
  3. Menguasai Banyak Bahasa
  4. Teladan

Kelahiran

KH. Munif Djazuli lahir di Ploso, Kediri. Beliau merupakan putra kelima dari enam bersaudara, KH. Ahmad Djazuli Utsman dengan Nyai Rodliyah Djazuli.

Saudara-saudara beliau diantaranya, KH. Achmad Zainuddin, KH. Nurul Huda, KH. Hamim (Gus Miek), KH. Fuad Mun’im, KH. Munif dan Ibu Nyai Hj. Lailatus Badriyah.

Mendirikan Pesantren

Untuk mempersembahkan cinta kasih beliau terhadap sang Ibu, Nyai Radliyah, KH. Munif Djazuli atas saran sang Ibu mendirikan Pondok Pesantren Queen Al-Falah yang terletak di sebelah barat Pondok Pesantren Al-Falah. Nama Queen sendiri menurut penuturan Kiai Munif-diambil dari potongan ayat “quu anfusakum wa ahliikum naroo”.

Namun menurut Ning Eva, nama Queen yang artinya ratu itu, adalah untuk memuliakan para pemegang Al-Qur’an, memuliakan ibu, para wanita, menjadikannya ratu. Dan seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Queen berkembang menjadi sebuah pesantren yang menampung santri yang ingin sekolah formal.

Betapa perhatian KH. Munif Djazuli terhadap keluarganya, para putra-putri, sangat luar biasa. Beliau bahkan sering menyuruh para mufattiys, atau semacam guru privat untuk mengajari putra-putri beliau. Dalam prinsip beliu, yang paling penting dalam hidup ini adalah adab, budi pekerti, tata karma. Ilmu atau kepandaian itu nomor sekian.

Sehingga beliau sendiri selalu mencerminkan budi pekerti yang luhur dalam kesehariannya, sabar, teguh, tidak pernah mengeluh. Bahkan dalam kondisi kritis ketika akan dibawa ke rumah sakit Dr. Soetomo Surabaya dan kebetulan saat itu satu di antara beberapa keponakan yang mengantarkan lupa tidak memakai peci, dengan tegas beliau menegur “Wes bosen ta dadi santri?” sontak, semua pun takut.

Dan merasa beruntung bagi yang waktu itu memakai peci. Beliau benar-benar sangat memperhatikan bagaiamana etika seorang santri, terlebih keluarganya. Jangan sampai seorang santri melepaskan identitas kesantriannya. Sungguh, telaga teladan yang tak akan habis jika kita meminumnya. Terus meneladani seorang kiai, untuk melanjutkan estafet pewaris para Nabi.

Menguasai Banyak Bahasa

KH. Munif Djazuli merupakan sosok yang sangat cerdas, menurut beberapa saksi, termasuk putra-putrinya, beliau itu menguasai banyak bahasa, mulai Arab, Inggris, Cina, Mandarin, Jepang, Prancis, Spanyol dan sebagaianya. Entah dari mana beliau belajar bahasa-bahasa dunia itu, padahal jika dirunut ke belakang riwayat pendidikan beliau, dulu sekolah rakyat (SR) saja beliau tidak lulus.

Kecakapan beliau dengan menggunakan bahasa-bahasa –yang secara logika hanya bisa dilakukan oleh orang yang pernah mempelajarinya- membuat banyak kalangan menyebut bahwa Kiai Munif adalah sosok yang sangat santun dalam berbahasa, tak ayal beliau sering menjadi penengah di antara keluarganya, selalu bisa menyatukan, memberi jalan tengah yang bisa diterima oleh semuanya. Hal ini mengigatkan pada mendiang kakaknya, KH Chamim Djazuli, Gus Miek.

Teladan

Mungkin banyak yang mengira, KH. Munif Djazuli, yang selalu berpenampilan stylist, pengampu pondok pesantren Queen Al-Falah yang begitu besar dan mewah adalah seorang hedonis. Namun asumsi itu tidaklah benar, karena ternyata beliau adalah sosok yang sangat sederhana.

Bahkan menurut cucu KH. Nurul Huda Djazuli, kakak KH. Munif Djazuli dan Agus Nailil Author itu tidak memiliki ndalem (rumah). Beliau dan ketiga belas putranya hanya tinggal dalam sebuah kamar yang letaknya di antara kamar-kamar para santri. Jadi bukan bentuk rumah yang beliau miliki untuk tempat tinggal, hanya kamar.

Hingga karena itu, Kiai Munif menjadi sosok yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Kamar yang selalu dalam keadaan gelap gulita, tanpa secercah cahaya. Mungkin dalam keadaan sunyi inilah beliau lebih bisa untuk bertafakur dan mendekat kapada Allah. Sungguh cermin kehidupan kiai besar yang jauh dari gemerlap dunia.

Dalam hidangan makanan, beliau juga sangat sederhana. Jangan dibayangkan di meja makan beliau tersaji berbagai menu makanan, yang ada hanya makanan-makanan sederhana, seadanya yang cukup untuk penyuplai gizi sebagai bekal ibadah saja. Dan beliau juga menerapkan hidup sederhana ini ketika menyambut para tamu besarnya.

Pernah saat itu mantan gubernur Jatim Imam Utomo, dan wakil gubernur Jatim saat ini Gus Ipul datang sowan. Kiai Munif hanya menghidangkan sajian sederhana, makanan yang beliau beli di depan pondok. Ini tak lain adalah untuk memberikan teladan betapa hidup itu tidak perlu bermewah-mewahan, cukup apa yang cukup untuk bekal beribadah saja.

Kesederhanaan ini selalu beliau tanamkan pada putra-putrinya, melalui cermin kehidupan beliau sehari-hari. Bahkan sempat ada yang menawarkan pada beliau agar putra-putrinya dibangunkan sebuah rumah, tapi beliau hanya menjawab, “Biar, sudah saya pasrahkan kepada Allah.” Bukan karena tidak mampu untuk membangun rumah yang mewah.

Bahkan andai ingin membangun istana beliau akan bisa. Namun beliau lebih memilih hidup sederhana. Dan mempersembahkan semua harta yang dimiliki hanya untuk umat saja. Bahkan sampai menutup mata, semua sawah, dan apa yang beliau miliki semua diberikan kepada orang lain.