Biografi KH. Ahmad Muthohar

 
Biografi KH. Ahmad Muthohar

Daftar Isi Profil KH. Ahmad Muthohar

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Teladan
  5. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrahman bin Qoshidil Haq lahir pada tahun 1962. Beliau merupakan putra kelima dari KH. Abdurrahman.

Saudara beliau, KH. Fathan bin Abdurrahman adalah sosok yang meneruskan kepemimpinan Pesantren Futuhiyyah bersama dengan dua keponakannya, KH. Muhammad Shodiq Luthfil Hakim Muslih dan KH. Muhammad Hanif Muslih, sepeninggal KH. Muslih bin Abdurrahman.

Wafat

KH. Ahmad Muthohar wafat pada usia 79 tahun sekitar pukul 03.30, pada tanggal 22 juni 2005 M bertepatan 15 Jumadil Ula 1426 H, saat melaksanakan sholat tahajud, yang rutin dilakoninya selama berpuluh-puluh tahun. Beliau wafat meninggalkan 8 putra-putri dari para istrinya, 4000-an santri, dan puluhan ribu anggota thoriqoh.

Pendidikan

Dalam perjalanan pendidikannya, KH. Ahmad Muthohar merupakan salah satu ulama yang berkesempatan menimba ilmu dari Syekh Yasin bin Isa Al Fadani, ulama Makkah asal Padang Sumatera Barat, bergelar “Al Musnid Dunya” (ulama ahli sanad dunia), berkat keahliannya dalam hal ilmu periwayatan hadits.

Teladan

Salah satu hal yang patut menjadi teladan dari KH. Ahmad Muthohar adalah keistiqomahan dalam beribadah. Meski harus dengan menaiki kursi roda dan didorong oleh santri dari kediaman menuju masjid, beliau tetap semangat, bahkan masih sempat keliling ke kamar-kamar pesantren untuk membangunkan santri yang tidur atau sekedar mengingatkan waktu sholat jamaah.

Sepanjang masa itu, Kiai Ahmad Muthohar merupakan sesepuh yang mengampu pengajian santri dan bertindak sebagai imam sholat maktubah di Masjid An Nur Pondok Pesantren Futuhiyyah, disamping sebagai imam sholat Jumat di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, Kauman, Mranggen.

Sedang struktur tata kelola organisasi pesantren (termasuk pengelolaan yayasan) dipimpin oleh dua putra KH. Muslih bin Abdurrahman, yakni KH. Muhammad Shodiq Luthfil Hakim Muslih dan dibantu adiknya KH. Muhammad Hanif Muslih.

KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrahman terkenal sebagai sosok ulama yang istiqomah. Para santri menjadi saksi keistiqomahannya dalam hal ubudiyah. Sepanjang hayat, kecuali pada saat benar-benar udzur, beliau senantiasa melaksanakan sholat maktubah berjamaah dengan para santri.

Disamping menjadi imam Masjid An Nur Pesantren Futuhiyyah, sehari-harinya KH. Ahmad Muthohar bin Abdurrahman juga mengajarkan kitab-kitab salaf.

Karya-Karya

Semasa hidup, KH. Ahmad Muthohar dikenal sebagai penulis produktif. Tak kurang dari 30 judul kitab kuning karyanya membahas berbagai disiplin ilmu, diantara kitab nahwu, shorof (tata bahasa), aqidah (ketahuidan), akhlak (budi pekerti), fiqih (hukum Islam), tafsir, hingga mawaris (tentang pembagian warisan).

Di kalangan nahdliyyin, karya-karya KH. Ahmad Muthohar cukup dikenal dan masih dipakai untuk pembelajaran agama hingga sekarang, yaitu:

  1. kitab Imrithi
  2. Al Wafiyyah fi Al Fiyyah (Nahwu)
  3. Akhlaqul MArdliyyah (akhlak)
  4. Tafsir Faidurrahman (tafsir)
  5. Al Maufud (Shorof)
  6. Syifaul Janan dan Tuhfatul Athfal (tajwid)
  7. kitab Rahabiyyah (warisan)
  8. Tsamrotul Qulub (bacaan wirid sesudah shalat)

Sebagian besar karya KH. Ahmad Muthohar diterbitkan oleh penerbit Thoha Putra Semarang, yang memang dikenal sebagai penerbit kitab-kitab klasik. Selain itu, ada pula sejumlah karyanya yang dirilis oleh penerbit Malaysia.

Selain penulis produktif, KH. Ahmad Muthohar juga merupakan sosok penting di kalangan nahdliyin, hingga wafat tahun 2005, beliau adalah Mustafadl Jam’iyyah al Mu’tabarah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah An Nahdliyyah.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya