Biografi KH. Idris Kamali

 
Biografi KH. Idris Kamali

Riwayat dan Silsilah Beliau
Kiai Idris Kamali lahir di Makkah pada 1887 dan wafat di Kempek Cirebon pada 1987. Ayahnya Kiai Kamali adalah putra Kiai Abdul Jalil Kedongdong Cirebon. Beliau hanya memiliki seorang putra dari pernikahannya dengan Nyai Azzah Hasyim, Gus Abdul Haq.
Nama lengkap beliau adalah Kiai Idris bin Kamali bin Abdul Jalil Asy-Syarbuni. Kakeknya, Kiai Abdul Jalil berasal dari Ndoro, Pekalongan. Saat masih muda, kakeknya pergi ke Kedondong salah satu daerah di Cirebon, dan mendirikan pondok di daerah tersebut. Kiai Abdul Jalil dikaruniai dua anak yang bernama Kiai Kamali dan Kiai Harun.

Kiai Kamali berangkat ke Mekkah, dan mukim di tanah suci tersebut. Karena kealimannya terutama dalam bidang ilmu falak, qira’ah, fiqih dan tasawuf, beliau dipercaya mengajar di Masjidil Haram. Sebuah prestasi yang jarang dicapai kaum terpelajar Nusantara yang menuntut ilmu disana. Semua anaknya pun lahir di Mekkah. Salah satu diantara putranya yaitu Kiai Idris.

Pendidikan
Setelah kembali ke Indonesia, Kiai Kamali memondokkan salah satu putranya yang bernama Kiai Idris di Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal. Pesantren APIK sendiri diasuh oleh Kiai Irfan yang merupakan sahabat Kiai Kamali sewaktu di Mekkah. Setelah beberapa tahun mondok di Pesantren APIK, Kiai Idris dipercaya menjadi Lurah Pondok Pertama oleh Kiai Irfan pada tahun 1919.

Keluarga
Selanjutnya, setelah menimba ilmu di Pesantren APIK Kaliwungu beberapa tahun sampai menjadi Lurah Pondok. Kemudian Kiai Idris melanjutkan pengembaraan ilmunya di Pesantren Tebuireng Jombang asuhan Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari. Karena kealiman dan kepandaian Kiai Idris, oleh Mbah Hasyim diambil menjadi menantu dengan dinikahkan sama putrinya yaitu Nyai Azzah. Dari pernikahan tersebut, beliau mempunyai anak satu yaitu Gus Abdul Haq. Setelah Nyai Azzah wafat, Kiai Idris tidak menikah lagi dan kembali lagi ke Mekkah tahun 1973 dan pulang ke Indonesia tahun 1981.

Santri-santrinya
Di antara tokoh yang pernah ngaji sorogan ke beliau adalah Prof Dr KH Thalhah Hasan, (alm) Prof Dr KH Ali Mustofa Yaqub, KH Ma’ruf Amin, Prof Dr KH Said Aqil Siradj, Prof Dr Djamaluddin Miri, KH Abdul Hayyie M Naim,  KH Mustofa Mukhtar, dan sebagainya.

Karomahnya
Menurut Kiai Said Aqil Siradj yang masih ada hubungan kerabat dengan Kiai Idris. Ibunya Kiai Said adalah sepupu Kiai Idris, yaitu Afifah binti Harun bin Abdul Jalil menceritakan bahwa Kiai Idris mempunyai kelebihan/karomah yang banyak. Konon katanya, kebanyakan orang, terkadang beliau memberi uang hanya dengan ngronggoli (asal ambil saja).

Anehnya setiap beliau mengambil pasti nominalnya pas seperti yang dikehendaki. Ketika di Mekkah, Kiai Said Aqil juga menyempatkan diri ikut mengaji kitab Shahih Bukhari dan Ihya’ Ulumiddin ke Kiai Idris. Di Mekkah, Kiai Idris menghabiskan waktunya di Masjidil Haram setiap saat. Kiai Idris ketika di Mekkah tinggal di rumah Syaikh Khatib al-Maduri. Beliau tinggal satu rumah dengan Prof. Dr. Djamaluddin Mirri, Rektor Ma’had ‘Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng dan Dekan Fak. Ushuluddin IAIN Surabaya.

Kambing Keramat
Alkisah, seorang warga tak dikenal telah mencuri seekor kambing. Kambingnya gemuk dan ia bernafsu mencurinya. Setelah berhasil mencuri, kambing tersebut dimasak. Namun anehnya, setelah direbus berjam-jam, daging kambing tersebut tak kunjung matang. Warna merah dan darah di daging masih terlihat jelas. Bahkan sampai air dalam panci hampir habis tetap tidak matang.

Akhirnya ia mencari tahu apa sebabnya. Kemudian ada orang yang bercerita bahwa kambing itu milik Kiai Idris Kamali. Sontak, si pencuri gelagapan, lalu ia sowan ke beliau di Tebuireng dan meminta maaf.

Tak jarang pula, kambing-kambing Kiai Idris membuat sebuah gerombolan lalu jalan-jalan. Bukan hanya keluar desa tapi lintas kota. Para alumni pondok kerap menjumpai kambing Kiai Idris di Pare dan Kediri. Setelah ditelusuri, ternyata kawanan biri-biri itu naik kereta yang terkadang memang berhenti di depan pondok. Kalau sudah sampai luar kota, para alumni biasanya mengembakikan kambing itu kepada Kiai Idris.

“Kiai, kambingnya main-main sampai luar kota ini,” seloroh seseorang yang mengantarkan.

“Biarin saja, mungkin kambing-kambing saya itu sedang mencari pasangannya untuk dikawin,” jawab Kiai Idris santai.

Tak hanya itu, jamak didengar pula kisah tentang kekeramatan kambing Kiai Idris Kamali lainnya. Di antaranya, dialami oleh para penjual sayur-mayur di Pasar Cukir. Suatu ketika, seperti biasa kambing besar-besar itu dilepas begitu saja dan main ke pasar. Sesampainya di pasar, kambing-kambing itu memakan sayuran yang dijual dengan semaunya sendiri.

Seorang pedagang tidak terima, ia marah dan mencaci maki kambing tersebut. Sedangkan ada pedangan lain yang membiarkan sayur-mayurnya dimakan kambing Kiai Idris. Ajaibnya, pedagang yang tak terima itu seharian penuh dagangannya tidak laku terjual. Utuh seperti yang ia bawa dari sawah.

Sedangkan pedangan satunya yang memberi makan kambing Kiai Idrsi dengan sayur-mayur yang didagangnya mengalami keuntungan berlipat ganda. Dagangannya banyak dibeli orang dan habis. Setelah kejadian ini, para penjual di Pasar Cukir senantiasa mempersilakan kambing-kambing Kiai Idris makan dagangannya karena dipercaya membawa berkah.

Untuk merawat kambing-kambingnya, beberapa santri diamanati membeli makanan khusus dan disimpan di tempat khusus pula. Menjelang sore, santri-santri junior sangat senang jika memandikan kambing-kambing tersebut di kali depan pondok. Melihat banyak santri yang memandikan, Kiai Idris senantiasa menyediakan kue dan jajanan bagi mereka. Beliau juga menyiapkan rokok (terbuat dari daun kawung) bagi yang sudah berumur sebagai imbalan terima kasih beliau.


KH Mustofa Mukhtar Brebes adalah salah satu santri yang ditugaskan merawat kambing Kiai Idris Kamali. Beliau bercerita bahwa suatu ketika setelah dhuhur, kambing betina milik Kiai Idris beranak. Bukan hanya satu ekor, namun anaknya tiga ekor sekaligus. Dengan senang, ia lapor ke Kiai Idris.

“Kiai, kambingnya lahiran tiga ekor!”

“Kok cuma tiga, empat gitu!” timpal Kiai Idris spontan.

Si santri heran, lahiran tiga sekaligus saja sudah ajaib, eh Kiai Idris malah minta empat ekor. Dan subhanallah, selepas Salat Ashar, kambing tersebut melahirkan lagi satu ekor. Jadi jumlahnya empat, persis apa yang dikehendaki gurunya itu.

Meski banyak memelihara kambing, Kiai Idris tidak pernah pelit kepada santrinya. Jika ada kitab yang khatam dikaji, beliau memerintahkan untuk menyembelih kambingnya. Atau jika ada kambing beliau yang tertabrak di jalan raya dan hampir mati maka dengan segera beliau memerintahkan untuk menyembelihnya. Dagingnya disantap bersama-sama para santri. Jika sudah begini, para santri sangat senang, mereka menyebutnya dengan istilah ‘mayoran’.

 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber