Biografi KH. Zainal Abidin Munawwir

 
Biografi KH. Zainal Abidin Munawwir

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1        Lahir
1.2       Wafat
1.3       Riwayat Keluarga  

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Menjadi Pengasuh Pesantren 
 

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Jasa, Karya, dan Karir
4.1       Jasa-jasa Beliau
4.2       Karya-karya Beliau
4.3       Karier Beliau

5          Kisah Teladan
5.1       KH. Zainal Abidin Munawwir Merupakan Salah satu Sosok Kiai Teguh dalam Ilmu Fiqih
5.2       Memotong Kepala Boneka
 

6          Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)

7          Referensi

 

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

     1.1       Lahir

KH. Zainal Abidin Munawwir bin KH. Muhammad Munawwir bin KH. Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashori atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Zainal Abidin Munawwir lahir pada 31 Oktober 1931 M atau bertepatan pada 18 Jumadil Akhir 1350 H di Bantul, Yogyakarta. Beliau merupakan putra kesembilan dari pasangan KH. Munawwir dengan Ny. Hj. Khodijah (Sukistiyah).

Selain itu, KH. Zainal Abidin Munawwir terkenal sebagai ulama yang ahli dalam ilmu qiraat al-Qur’an dan dijuluki sebagai ulama ahli fiqihnya daerah Yogyakarta di masa sekarang. Beliau juga termasuk salah satu Pengasuh Pesantren al-Munawwir Krapyak


     1.2       Wafat

KH. Zainal Abidin Munawwir tutup usia pada sabtu malam, pukul 18.30, 15 Februari 2014, di ndalem beliau. Sebelumnya, beliau sempat dirujuk ke rumah sakit karena kondisi kesehatan beliau yang semakin menurun. Seketika itu juga, beliau pergi kerahmatullah. Jenazahnya  dimakamkan dipemakaman keluarga di Kampung Sorowajan, Pedukuhan Glugo, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.

     1.3       Riwayat Keluarga 

KH. Zainal Abidin Munawwir melepas masa lajangnya dengan menikahi Ny. Hj. Ida Fatimah., M.Si, putri KH. Abdurrahman dari Bangil, pasuruan, Jawa Timur. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai tiga anak, diantaranya, Muhammad Munawwir, khoiruzzad dan Ning Khumairo’

 

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
 

     2.1       Masa Menuntut Ilmu

Sejak kecil, KH. Zainal Abidin Munawwir memulai pendidikannya dengan belajar di pondok pesantren al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta yang di asuh oleh ayahnya sendiri, KH. Muhammad Munawwir. Selain itu, beliau juga belajar kepada kakak iparnya, KH. Ali Maksum. Di bawah asuhan sang kakak ipar, semenjak kecil perkembangan keilmuan beliau ditempa dengan sangat ketat dan disiplin terutama dalam bidang ilmu fiqih.

Bahkan tak jarang beliau mendapat hukuman jika melakukan kesalahan. Hal yang sama juga berlaku untuk saudara-saudara beliau yang lain. Menurut KH. Zainal Abidin Munawwir sendiri, jika terhadap ‘ahlu bait’ KH. Ali Maksum memang sangat keras. Tidak ada waktu santai, semuanya diharuskan untuk bisa menguasai kitab-kitab kuning yang beliau ajarkan.


     2.2       Guru-Guru Beliau

Guru KH. Zainal Abidin Munawwir sewaktu dia belajar di pesantren Munawwir adalah ayahnya sendiri dan kakak Iparnya adalah:

  1. KH. Muhammad Munawwir. (Ayah beliau)
  2. KH. Ali Maksum                    ( Kakak Ipar )


     2.3       Menjadi Pengasuh Pesantren

Beliau memimpin pesantren kurang lebih dari tahun 1989 hingga 2014. Di dalam masa kepemimpinannya tersebut, KH. Zainal Abidin Munawwir dan para pengasuh Krapyak yang lain berhasil mengembangkan lembaga pendidikan, seperti Madrasah Huffaz I dan II, Madrasah Salafiyah I-IV, perguruan tinggi ilmu salaf Al-Ma’had Al-Aly, Majelis Taklim dan Majelis Masyayikh. Secara struktural, KH. Zainal Abidin Munawwir menjadi petinggi di seluruh lembaga pendidikan pondok pesantren Krapyak. Akan tetapi secara khusus, KH. Zainal Abidin Munawwir hanya mengelola lembaga pendidikan yang sesuai dengan keilmuannya, seperti Madrasah Salafiyah II dan perguruan tinggi Ma’had Aly Al-Munawwir.

3          Penerus Beliau

     3.1       Anak-anak Beliau

Anak-anak KH. Zainal Abidin Munawwir yang menjadi penerus beliau adalah:

  1. Muhammad Munawwir
  2.  khoiruzzad
  3. Ning Khumairo’


     3.2   Murid-murid Beliau

Murid-murid KH. Zainal Abidin Munawwir yang menjadi santri beliau di pesantren Munawwir adalah:

  1. KH. Habib Syakur
  2. KH Munawwir A.F
  3. KH. Ghazalie  Masroeri
  4. KH.  Said Aqil Siradj
  5. KH Muchid
  6. Nyai Hj. Duroh Nafisah
  7. Nyai Hj. Luthfiyah

4          Jasa, Karya, dan Karir


     4.1       Jasa-jasa Beliau

              a. Menjadi Penentu Kriteria Petugas Hilal Kemenag

Salah satunya adalah memberikan nasihat, arahan serta teguran kepada masyarakat yang melakukan sesuatu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai contoh, pada saat penentuan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha di Yogyakarta. Menurut Mbah Zainal, tanggal 1 Syawal banyak ditentukan oleh keberadaan hilal yang dapat dilihat oleh orang dalam posisinya berada di sebelah timur Yogyakarta. Jika melihat hilal dari sebelah Barat Yogyakarta, maka belum bisa menentukan 1 Syawal. Sosok yang melihat hilal harus tahu umur hilal, bertempat di mana, yang melihat juga harus disumpah serta yang menyumpah juga harus jelas. Pendapat Mbah Zainal mengenai hilal ini, sampai sekarang dijadikan sebagai dasar penentuan 1  Syawal di Kementerian Agama Republik Indonesia.

            b. Menjadi Pengurus Organisasi Islam

Di organisasi keormasan, Mbah Zainal pernah menjabat sebagai pengurus Tanfidziyah NU DIY periode 1963-1971 M, pengurus Syuriah NU DIY 1971-1985 M, Mustasyar NU DIY 1985-1997 M, dan menjadi Pengurus Wilayah sekaligus Pengurus Besar Jam’iyyah Thariqah Mu’tabarah al-Nahdliyah 1997-2011 M.

    4.2       Karya-karya Beliau

KH. Zainal Abidin Munawwir termasuk ulama yang produktif dalam menulis kitab, ada belasan kitab-kitab karya beliau antara lain :

  1. Tarikhu al Hadharah Al Islami
  2.  Al Furuuq, Al Muqthathafat
  3. Ta’rifu Ahlissunnah Wa Al Jama’ah
  4.  Wadhaifu Al Muta’allim
  5. Gharib Al Nadlir Bi Kasyf Min Mas’uliyat Al Muta’allim Bahtsan Fighiyyan
  6. Kitabus Shiyam
  7. Manasik Haji
  8. Majmu’ur Rasa’il
  9. Ahkamul Fiqhi
  10.  Al Insya’ 


    4.3       Karier Beliau

Selain sebagai pengasuh di Pondok Pesantren al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, KH. Zainal Abidin Munawwir juga aktif dalam berbagai organisasi baik politik, keagamaan, maupun keormasan, berikut karier beliau:

  1. Pengasuh Pesantren al-Munawwir, Krapyak
  2. Ketua Golongan Partai Islam (1964)
  3. Anggota DPRD DIY (1967-1971)
  4. Anggota DPRD DIY/ketua fraksi PPP (1971-1977).

 

5          Kisah Teladan

     5.1       KH. Zainal Abidin Munawwir Sosok Kiai Pemegang Teguh Ilmu Fiqih

Banyak sekali contoh dan peristiwa yang dapat dijadikan tauladan tentang bagaimana cara memegang teguh ilmu fiqh, di tengah gempuran globalisasi. Salah satu contoh adalah ketika di sekitar jalan pondok ketika itu diberi patung.

KH. Zainal Abidin Munawwir memanggil beberapa santri senior untuk menghadap ke rumahnya. Kiai berpendapat bahwa hukum melihat patung apalagi membuatnya adalah haram. Beliau pun menyuruh para santrinya untuk mendatangi si pembuat patung untuk mengatakan padanya agar tidak menaruhnya dipinggir jalan. Jika tidak, maka para santri siap untuk memindahkannya atau paling tidak menutupinya dengan kain agar tidak terlihat orang yang lewat.

Tak disangka, setelah para santri mengutarakan maksud KH. Zainal Abidin Munawwir, si pembuat patung marah besar bahkan mengancam akan menggempur pondok dan melaporkan ke pengadilan.KH. Zainal Abidin Munawwir tetap pada pendiriannya, bahwa patung itu harus dipindah atau pun menutupinya dengan kain. Akhirnya para santri pun mendatangi si pembuat patung kedua kalinya. Si pembuat patung akhirnya mengalah meski sebelumnya harus bernegoisasi dengan alot.


     5.2     Memotong Kepala Boneka

Tidak hanya dalam lingkup luar, keteguhan beliau dalam memegang hukum fiqih juga diterapkan pada keluarga beliau. Salah satu contoh ketika istri beliau Hj. Ida Fatimah M.Si membeli bantalan kursi mobil yang kebetulan terdapat boneka yang berbentuk kucing. Melihat itu, KH. Zainal Abidin Munawwir pun langsung memotong kepala boneka itu dan menghilangkannya. “Waduh, harganya mahal kok dirusak, kenapa kepala bonekanya dihilangkan”, tanya Hj. Ida. Kemudian dijawab oleh KH. Zainal Abidin Munawwir bahwa jika kepalanya hilang tidak apa-apa karena sudah tidak sempurna, mau diberi nyawa pun tetap tidak akan bisa hidup seperti umumnya.

6          Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)

Sedangkan dalam organisasi keormasan beliau pernah menjabat sebagai Pengurus Tanfidliah NU DIY (1963-1971), Pengurus Syuriah NU DIY (1971-1985), Mustasyar NU DIY (1985-1997), Pengurus Wilayah sekaligus Pengurus Besar Jam’iyyah Thariqah Mu’tabarah al-Nahdliyah

KH. Zainal Abidin Munawwir aktif dalam berbagai forum bahts al-masa’il baik tingkat kepengurusan NU tingkat cabang, wilayah, hingga muktamar. Sesuai dengan kesaksian KH. Ma’mun Muhammad Mura’i (mantan pengurus NU Sleman, dosen UIN Yoogyakarta dan Ma’had ‘Ali) saat diadakannya muktamar NU ke 31 di Donuhudan, Solo, jawa tengah, “Salah satu kiai sepuh yang aktif dalam arena bahtsul masa’il adalah KH. Zainal Abidin Munawir, susah rasanya mencari profil kiai sepuh seperti beliau.”

 

8          Referensi

https://www.almunawwir.com/

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya