Biografi Tuan Guru Sani

 
Biografi Tuan Guru Sani

Daftar Isi Profil Tuan Guru Sani

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Sahabat Karib Dr. KH. Idham Chalid
  6. Wasiat Tuan Guru Sani
  7. Teladan

Kelahiran

KH. Muhammad Sani atau yang disapa dengan Guru Sani lahir di 1918 di Banjarbaru di Kalimantan Selatan.

Wafat

Guru Sani wafat pada tahun 1986 di Pesantren Al Falah Banjarbaru.

Pendidikan

Pada masa mudanya Guru Sani belajar di Madrasah Ibtidaiyah Sei Pandan, Alabio, Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan. Masa mudanya digunakan untuk belajar ilmu pengetahuan agama Islam dengan sistem salafiyah, diberbagai kampung. Ia sangat rajin belajar dan membaca kitab kuning, apalagi setelah ia berpindah ke kota Banjarmasin yang menuntut ia harus rajin membaca dan belajar. Belajar mandiri secara otodidak terus ia kembangkan hingga akhir hayatnya.

Sejak muda perjalanan hidupnya serat dengan perjuangan untuk memajukan pendidikan di masyarakat. Ia banyak mengedepankan masalah fiqih dan tasawuf yang bertitik tekan pada keikhlasan manusia. Ia juga aktif sebagai muballigh atau guru agama, baik di masjid, langgar dan majlis taklim.

Beliau juga adalah seorang tokoh yang sangat sederhana. Setiap pagi, kecuali hari Jumat, jam 06.00 beliau sudah datang ke pesantren dari kediaman beliau di Banjarmasin yang berjarak sekitar 23 km dengan menaiki taksi. Sesampai di pesantren guru-guru masih makan di ruang makan, beliau sudah siap dengan pakaian kerja, yaitu celana bawah lutut, baju dalaman, dan kopiah putih.

Kemudian beliau mengambil cangkul untuk membersihkan lingkungan pesantren, menanaminya dengan pohon buah-buhan, sehingga lingkungan pesantren menjadi asri dan hijau, disamping buah-buhan yang dihasilkan dapat dinikmati oleh para santrinya.

Dalam satu kesempatan beliau bernasihat agar jangan malas menanam tanaman, karena hasilnya adalah untuk anak cucu, generasi yang akan datang. Menurut beliau apa yang kita makan sekarang adalah tanaman yang ditanam oleh generasi terdahulu. Karena Nabi menganjurkan agar kita menanam, sebagaimana Hadits Nabi: “Siapa saja yang menanam tanaman, apakah buahnya dimakan manusia, atau dimakan binatang, atau dimakan burung, maka semua itu adalah sedekah dari orang yang menanamnya.”

Saat jam istirahat mengajar, beliau sering berkumpul dengan guru-guru dan karyawan di kantor pesantren sambil memberikan nasihat. Beliau mengharapkan agar mereka selalu bersemangat dan ikhlas dalam mengabdi di pesantren. Bagi guru-guru pesantren, baik yang tinggal di pondok maupun yang pulang pergi, beliau tekankan jangan hanya sekedar mengajar, tetapi juga harus mendidik dan memberikan kepada para santri teladan yang baik.

Kegigihan beliau dalam membangun pesantren ditunjukkan dengan seringnya, dan bahkan secara rutin meminta bantuan sumbangan dari para pedagang di pasar-pasar tradisional di dekat kediaman beliau. Konon Guru Sani sempat diberi gelar sebagai tukang tagih pajak (penadah pajak) disebabkan ketegasan beliau dalam melaksanakan penagihan.

Guru Sani bahkan menentukan sediri besaran yang harus disumbangkan oleh para dermawan. Karena itulah Guru Sani sangat dikenal oleh para pedagang, khususnya masyarakat kampung Alabio, dan dianggap sebagai tuan guru mereka. Pada bulan puasa Guru Sani juga suka menjamu berbuka puasa masyarakat di sekitar langgar beliau.

Untuk membangun pesantren beliau bahkan tidak segan membeli rumah yang dijual oleh penghuninya untuk dibongkar dan bahan-bahan yang masih bisa digunakan akan dibangun lagi di pesantren. Sekalipun letak rumah yang akan dijual itu lokasinya cukup jauh dari pesantren.“Suatu ketika kami dengan beberapa santri yang lainnya diajak beliau ke Alabio untuk membongkar rumah yang telah dibeli oleh Muallim.” Ujar salah seorang alumni yang juga menjadi guru di pesantren, ustadz Ibrahim Nawawi, dalam suatu kesempatan kepada penulis. Hasil bongkaran dari rumah ini kemudian dibangunkan beberapa buah asrama.

Guru Sani adalah seorang figur yang pandai menjalin silaturrahmi, termasuk kepada para tokoh dan pejabat, baik lokal maupun nasional. Karena kedekatannya itulah beliau tidak sungkan meminta kepada Gubernur Kalimantan Selatan di masanya agar bongkaran dari Asrama Tatas (dulu asrama ABRI, sekarang TNI) yang sekarang tempatnya telah dibangun masjid raya Sabilal Muhtadin agar diserahkan kepada beliau untuk pembangunan pesantren Al Falah ketika itu. Kemudian hasil dari bongkaran tersebut beliau bangunkan asrama dan dan gedung belajar.

Mendirikan Pesantren

Guru Sani adalah salah seorang pendiri (muassis) sebuah pesantren terbesar di Kalimantan Selatan pendiri Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru.

Menurut Guru Sani masyarakat Kalimantan Selatan masih perlu perhatian dalam bidang pendidikan. Karena masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin masih sangat tertinggal jauh jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Nusantara ini, terutama dibandingkan dengan pulau Jawa.

Sekitar tahun 1981, muallim Guru Sani, menerima sumbangan dari kerajaan Saudi Arabia, dalam bentuk uang sebesar Rp. 63.000.000.

Sebuah angka yang lumayan besar di kurun itu. Uang sumbangan Raja Saudi ini kemudian dibangunkan asrama santri sebanyak tujuh pintu, yang kemudian diberi nama dengan nama Raja tersebut yaitu asrama Malik Abdul Aziz, sebagai penghargaan atas jasa beliau. Belasan tahun kemudian, sekitar tahun 1995 Duta Besar (Dubes) Kerajaan Arab Saudi Syekh Abdurrahman Al Alim berkunjung ke Pondok Pesantren Al Falah dan beliau menyempatkan diri untuk melihat asrama hasil sumbangan dari rajanya tersebut.

Mungkin saja, dengan berteman dengan Idham Chalid inilah beliau punya akses, atau bisa juga melalui Idham Chalid sendiri untuk meminta bantuan ke kerajaan Arab Saudi. Tetapi sepanjang hidup beliau tercatat sebanyak 22 kali berhaji baik sendiri maupun membawa rombongan, barangkali juga kontak beliau dengan Saudi yang begitu intensif tersebut menyebabkan beliau punya akses untuk berhubungan dengan pihak kerajaan Saudi.

Relasi Pondok Pesantren Al Falah dengan Timur Tengah relatif baik. Termasuk dengan universitas terkemuka Mesir, Al Azhar di Cairo. Universitas Al Azhar Cairo Mesir dengan Surat Keputusannya tahun 1995 mengakui lulusan pondok pesantren Al Falah sederajat dengan lulusan Aliyah di Al Azhar Cairo. Sehingga lulusan Pondok Pesantren Al Falah bisa langsung diterima di perguruan tinggi di Al Azhar.

Bukan hanya Al Azhar, Madinah University juga mengakui lulusan Pondok Pesantren Al Falah. Dulu sempat beberapa orang yang berkuliah di sana. Tapi di Al Azhar rupaya lebih bergengsi, mungkin sampai sekarang. Sekalipun masuk tanpa tes dari Al Azhar tidak berlaku lagi. Hingga akhirnya sekarang bertebaranlah alumni Pondok Pesantren Al Falah yang berlatar belakang pendidikan universitas di Timur Tengah ini.

Sahabat Karib Dr. KH. Idham Chalid

Konon, KH. Muhammad Sani sejak lama berteman karib dengan Dr. KH. Idham Chalid seorang tokoh nasional dan pernah menjabat sebagai ketua PBNU serta mantan ketua MPR asal Kalimantan Selatan. Suatu saat Guru Sani dipercayakan oleh Idham Khalid untuk membangun sebuah Madrasah di Jakarta yang diberi nama Darul Ma’arif. Setelah pembangunan mandrasah selesai, Guru Sani ditawari oleh Idham Chalid untuk memimpin madrasah tersebut. Namun tawaran Idham Chalid ditolak dengan halus oleh beliau. Beliau mengatakan ingin membangun pesantren di daerahnya Kalimantan Selatan.

Wasiat Tuan Guru Sani

Diantara wasiat Guru Sani kepada para santri adalah; pertama, hendaklah para santri selalu pakai baju kurung berwarna putih, kupiah putih agar hatinya seputih pakaiannya. Kedua, hendaklah para santri selalu mematuhi guru-gurunya agar ilmu-ilmu yang telah dipelajari menjadi ilmu yang beberkah baik di dunia mapun di akhirat.

Ketiga, agar para santri setiap kali selesai salat Magrib membaca wirid bersama-sama (berjamah) dilanjutkan dengan membaca surah Yasin, surah Waqi’ah dan surah Tabarak.

Tujuannya menurut beliau agar para santri terhindar dari godaan syaitan dan supaya orang tua-orang tua mereka dimurahkan rezeki dan para santri dapat ilmu yang bermanfaat.

Keempat, sekalipun dalam keadaan cape dan lelah, tadarus Al-Qur’an, salat Dhuha, salat Tahajjud, mutala’ah kitab jangan sampai ditinggalkan. Kalau niat mengerjakan menunggu waktu lapang bisa saja tidak terkerjakan, karena sudah terbiasa tidak mengerjakan, maka akan sulit mengerjakannya. Karena menurut beliau lagi, sebaik-baik amalan adalah amalan yang dikerjakan secara terus-menerus, sekalipun sedikit.

Kelima, menurut beliau, ilmu yang telah didapatkan agar diamalkan dan kemudian harus diajarkan ke orang lain walaupun sedikit. Menjadi seorang guru bukan berarti harus menguasaai ilmu yang banyak. Kalau misalnya para santri pandai membaca Alquran, maka ajarkanlah orang membaca Alquran, kalau tahu tata-cara berwudhu yang benar, maka ajarkanlah orang lain berwudhu yang benar. Karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain.

Muallim Guru Sani adalah seorang yang rendah hati, setiap kali ada acara kerja bakti dengan para guru dan pekerja-pekerja lainnya beliau selalu ikut bergotong-royong. Pakaian resmi sehari-hari beliau adalah bersarung, baju jas, kopiah haji dan disertai dengan surban yang selalu menutup kepala beliau.

Mengakhiri tulisan ini saya akan mengutip ucapan muallim Guru Sani, sebagaimana diceritakan oleh Habib Abdullah Al Habsy salah seorang murabbi (pengasuh) pertama Pondok Pesantren Al Falah, yang beliau katakan berulang-ulang dalam beberapa kesempatan. Ujar muallim: “Aku kada baharap banyak yang jadi orang alim yang sakolah di pondok ni, tapi saikung gin dalam saratus orang sudah cukup.” (saya tidak berharap semuanya menjadi orang alim yang belajar di pesantren ini, satu orang saja dari seratus, itu sudah cukup).

Saya memahami ini bukan sebagai ungkapan fesimis Muallim, tetapi beliau menyadari bahwa tidak semua santri-santrinya kelak akan menjadi orang yang ahli dalam bidang agama secara mendalam. Misalnya ada satu atau dua orang dalam seratus itu sudah cukup. Sisanya biarlah mereka bergelut dan berjuang dalam bidang dan keahlian masing-masing, asalkan itu dapat bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya, dalam bentuk apapun.

Teladan

Guru Sani dikenal sebagai seorang figur yang sangat dipercaya oleh masyarakat saat itu, karena kejujuran dan itegritas serta kepribadian terpuji yang dimiliknya.