Biografi KH Nahduddin Royandi Abbas

 
Biografi KH Nahduddin Royandi Abbas

Sekilas Riwayat Beliau

Mbah Din. Begitulah masyarakat Buntet Pesantren memanggil sosok KH Nahduddin Royandi Abbas. Beliau tercatat lahir pada tahun 1935. Beliau menuturkan sendiri kepada penulis, bahwa beliau lahir dua tahun sebelumnya, 1933. Hal ini bisa terjadi karena saat pembuatan kartu penduduk, agar lebih mudah, beliau minta disamakan dengan rekannya Kiai Faqih Murtadlo yang lahir dua tahun lebih muda darinya.

Pada masa pertempuran, meskipun belum genap usia baligh, putra bungsu Kiai Abbas Abdul Jamil Buntet itu sudah turut membantu jalannya peperangan. Bersama rekan seusianya, beliau disatukan dalam kelompok yang diberi nama Asybal. Selain dikader untuk menjadi pasukan hizbullah, beliau dan rekan-rekannya juga diberi tugas untuk menjadi telik atau mata-mata. Keikutsertaan beliau dalam pasukan yang dibentuk oleh ayahnya itu penulis dengar dari salah satu pejuang hizbullah saat itu, yakni KH Abdul Mufti Umar.

KH. Royandi Abbas sudah 56 tahun tinggal di London, persisnya sejak tahun 1959. Di sini, tak banyak yang mengenal siapa sesungguhnya beliau, sebagian besar hanya mengenalnya sebagai pensiunan local staff di KBRI. Padahal beliau ini murid langsung Ulama Nusantara di Masjidil Haram yang sangat terkenal, Syekh Yasin Alfadani dan Syekh Hamid Albanjari.

Sejak usia 18 tahun beliau sudah belajar kepada kedua gurunya tersebut di Kota Mekkah Al-Mukarramah. Saat ini, beliau diamanahkan sebagai pengasuh dan sekaligus tokoh sentral Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, menggantikan Kakak beliau yang wafat, KH. Abdullah Abbas.

Tinggal lama di Britania Raya tak menghentikan laju dakwah Islam yang disenanginya, beliau berinteraksi langsung dengan banyak kalangan di negeri ini termasuk dengan komunitas muslim dari India, Pakistan dan Bangladesh. Tak jarang beliau diundang ceramah atau memberikan motivasi keislaman, terutama yang terkait dengan gagasan Islam dan ekonomi pembangunan, tak kurang Bank Indonesia Pusat sempat beberapa kali memintanya sebagai nara sumber terkait dengan keahliannya di bidang itu.

Ketawadhu'annya benar-benar membumi, tinggal di sebuah apartement sederhana di Vivian Avenue di Kawasan Handon, tak jauh dari tempat saya tinggal di wisma caraka. Suatu pagi saya saya diundangnya untuk menikmati hidangan Nasi Goreng khas Ibu Nyai yang kini masih aktif bekerja di Kedutaan Brunei Darussalam. Kami berbincang banyak hal, hingga salah satu alasan mengapa beliau sangat mengapresiasi dakwah saya di negeri ini.

"Gagasan Islam Nusantara yang digulirkan lewat pendekatan motivasi itu mengena sekali untuk kaum muslimin di London, akar keislaman harus didasarkan kepada keilmuan para ulama yang menyampaikan kita kepada al-quran dan sunnah nabi. Dulu ada muballigh yang seenaknya menghina almarhum Gusdur, disebutnya Gusdur buta dan bila makan tak pakai etika, sisa nasi belepotan kemana-mana, saya tanyakan kepada si muballigh itu, kenalkah dengan menteri yang buta di Inggris di masa pemerintahan Tony Blair, bahkan setelah Blair menang pada periode kedua, sang menteri malah diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri, di negeri yang kata anda kafir ini penghargaan kepada mereka yang disable tak menghina secara fisik, tapi Anda tokoh agama, ceramah kemana-mana, mudah sekali merendahkan ulama sekelas Kyai Abdurrahman Wahid." Sang muballigh terdiam saja mendengar sanggahan KH. Royandi Abbas, lalu setelah itu ceramahnya tak segarang pertama, karena beliau memantaunya terus.

Beliau memang rendah hati, tapi pada saat menyaksikan ketidakbenaran dalam perilaku seseorang beliau amat keras dalam teguran, karena beliau merasa harus meluruskan kekeliruan orang tersebut.

Saya merasa menemukan ayah kedua setelah ayahanda KH. Muhali yang saat ini masih segar memimpin Yayasan Al-Wathoniyah Al-Hamidiyah di Klender, tegas, keras pada disiplin, tapi tetap memberikan respect pada keilmuan. Tidak seperti banyak tokoh agama sekarang, utamanya yang muda-muda, mudah sekali merendahkan para ulama sepuh yang berbeda pendapat dengan mereka, terutama pada gagasan Islam Nusantara. Berbekal popularitas, sudah berani menyebut ulama Nusantara dangkal.

Beliau, sosok tawadhu' yang menyembunyikan kebesarannya lewat aktivitas dakwah yang tak diketahui banyak orang, benar-benar sebuah ketulusan yang membumi. "Seandainya masih ada yang lain, saya tak mau menduduki posisi kakak saya di pesantren ini,” katanya merendah.

Semoga Allah merahmati, memberkahi dan meninggikan maqam beliau dalam khidmat kepada umat dan kepemimpinan beliau di Pesantren Buntet.

Masa Pendidikan

Pendidikan beliau dimulai dari lingkungannya sendiri di Pondok Pesantren Buntet. Sebagai bungsu, ia turut kakak-kakaknya mondok di Pesantren Lirboyo, dalam asuhan KH Abdul Karim. Konon, saat beliau bermain, Kiai Abdul Karim sungkan mengganggunya mengingat beliau salah satu putra Kiai Abbas, sosok penting pendirian Pondok Pesantren Lirboyo.

Selepas itu, beliau merantau jauh ke Makkah al-Mukarramah. Di sana, beliau mengaji pada Musniduddunya Syaikh Yasin al-Fadani dan Syekh Hamid Albanjari.

Beliau selalu diajaknya makan bersama, baik di kediaman Syaikh Yasin ataupun Kiai Dahlan. Bukan saja belajar ilmu pengetahuan, tetapi, beliau belajar kehidupan dari dua sosok alim tersebut. Hal paling berkesan bagi Mbah Din tentang sosok Kiai Dahlan adalah kesabarannya. Kiai asal Kediri itu saban pagi mengetuk pintu kamar santrinya, lalu mengajaknya sarapan bersama.

Hal tersebut tetap dilakukan manakala beliau umrah bersama putranya. Saat itu entah tahun berapa, beliau bersama putranya mampir ke ndalem Kiai Dahlan. Mengetahui siapa yang datang, Kiai Dahlan langsung memanggil istrinya. “Nyai, kemari. Ini ada cucu kita,” begitu ia menyambut kehadiran Mbah Din bersama putranya.

Di Saudi, beliau juga sempat menjadi pembimbing haji. Padahal saat itu, beliau masih usia 20 tahun. Untuk memuluskan pekerjaannya itu, beliau meminta sejumlah kain batik ke pengurus haji dari pemerintah Indonesia. Lalu beliau bagikan ke petugas haji dari Saudi. Mereka merasa senang dengan pemberian kain batik itu sehingga memudahkan Mbah Din muda untuk melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing haji di sana.

Sebelum berangkat ke Saudi, beliau sempat singgah dulu di Jakarta. Di ibukota, Mbah Din bekerja dengan berjualan. Penulis lupa berjualan apa saat itu. Beliau juga kenal dengan salah satu tokoh Lesbumi, yakni Jamaluddin Malik. Saat penulis berkesempatan mendampingi beliau bertemu dengan Imam Besar Masjid Istiqlal saat itu, KH Ali Mustofa Yaqub, beliau menunjuk salah satu jalan di Menteng. Di sana, beliau sering jumpa Jamaluddin Malik, katanya.

Pada tahun 1958, beliau bertolak ke Inggris guna melepaskan dahaga intelektualnya. Di negeri Ratu Elizabeth itu, beliau memperdalam ilmu ekonomi. Keahliannya pada bidang tersebut kerap kali menjadi rujukan. Tahun lalu, beliau diundang oleh Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo untuk mengisi seminar ekonomi syariah bersama beberapa pengasuh pesantren lainnya. Saat KH Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, konon beliau juga turut memberikan saran dan sumbangsih pemikiran guna menaikkan perekonomian Indonesia.

Pak Royandi, di Inggris beliau akrab disapa, selalu menduduki ranking pertama. Saingan ketatnya adalah orang Jerman. Saat ujian, beliau sangat menyesal karena beliau harus mengakui kehebatan mahasiswi asal Jerman itu.

Saat pertama kali didirikannya Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Inggris, beliau didapuk sebagai Rais Syuriyah. Kini, kepengurusan itu beliau serahkan ke orang-orang yang lebih muda.

Setahun sekali beliau pulang ke Indonesia sepeninggal kakaknya, KH Abdullah Abbas. Beliau meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Pesantren Buntet sejak tahun 2007. Tiba di Jakarta, beliau beberapa hari istirahat di kediaman putranya di Pejaten, Jakarta Selatan. Sejak tahun 2014, penulis selalu menyempatkan sowan ke beliau.

Tiap kali sowan, tentu selalu saja dijamu makan. Suatu kehormatan bisa makan satu meja bersama beliau. Sebagai santri biasa, tentu ada kebanggaan dan pastinya merasa tidak sopan dan tidak pantas. Tapi begitulah beliau. Siapapun diajaknya makan bersama, satu meja. Persis seperti yang beliau terima dari guru-gurunya.

Selalu Ikhlas, Jujur, dan Tawadlu

Beliau senantiasa mengingatkan pentingnya ikhlas, jujur, dan tawadlu. Pesan itu disampaikan berulang kali dalam setiap momen. Tiga hal itu, sepertinya, pondasi penting Mbah Din dalam berkehidupan.

Sehari sebelum Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon tahun 2017, penulis bersama rekan-rekan alumni Buntet Pesantren yang tergabung dalam wadah Forum Silaturahim Buntet Pesantren Cirebon (FORSILA BPC) Jakarta Raya sowan ke ndalem beliau di sebelah selatan Masjid Agung Buntet Pesantren. Saat itu, beliau ngendika, “Kalau kita ikhlas dan jujur, sebentar saja Indonesia akan makmur.”

Kalimat tersebut bukan sekadar ritmik, tapi penuh kedalaman makna. Indonesia saat ini krisis kejujuran dan keikhlasan. Hal tersebut dibuktikan dengan fakta banyaknya korupsi yang terungkap di berbagai sektor.

Saat sambutan pada Haul 2017 Buntet, beliau sampai berujar, “tak bosan” untuk mengingatkan tiga hal tersebut.

Menghadap Sang Khalik

Sesepuh Pondok Pesantren Buntet KH Nahduddin Royandi Abbas ini  menghembuskan nafas terakhir di Barnet Community Hospital, London, Inggris, Rabu (25/4).

Menginjak usia ke-84 tahun, Mbah Din wafat setelah beberapa hari terakhir menjalani perawatan intensif. Sebelum menghadap Sang Khalik, Mbah Din bermimpi bertemu dengan ayahnya, Kiai Abbas bin Abdul Jamil. Seperti diketahui, Kiai Abbas merupakan ulama Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Pahlawan Nasional.“Sebelum dirawat, Mbah Din bermimpi bertemu dengan ayahandanya Kiai Abbas. Pertemuannya pun diantar kakak-kakaknya. Mungkin itu firasat beliau,” ujar cucu dari Mbah Din, KH. Jimmy Mu’tashim Billah atau Kang Nemi, Rabu (26/4).

 

Sumber: Muhammad Syakir Niamillah Fiza
              Dari Berbagai Sumber