Biografi KH. Dalhar Munawwir

 
Biografi KH. Dalhar Munawwir

Daftar Isi Profil KH. Dalhar Munawwir

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pengasuh Pesantren
  6. Kisah Teladan

Kelahiran

KH. Dalhar Munawwir atau yang lebih akrab disapa Mbah Dalhar lahir pada Kamis Pon, 14 Sya’ban atau 6 Juli 1933. Beliau merupakan putra ketujuh dari sembilan bersaudara dari pernikahan KH. Muhammad Munawwir dengan istri ketiganya yaitu Nyai Hj Salimah.

Ayah beliau, KH. Muhammad Munawwir merupakan pendiri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak.

Adapun selsilah nasab, beliau dari jalur ayahnya, adalah KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad bin KH. Hasan Bashori (Ajudan Pangeran Diponegoro pada masa perang Diponegoro tahun 1825- 1830

Wafat

KH. Dalhar Munawwir wafar pada hari Rabu, 18 November 2009, jam 10.00 WIB. Kiai sederhana dan bersahaja itu ‘berpulang’ di usianya yang ke- 76 tahun disebabkan penyakit radang paru- paru. Jenazah dikebumikan keesokan harinya pada Kamis, 19 November 2009 jam 10.00 WIB.

Ribuan orang dari berbagai kalangan memenuhi sepanjang Jalan Ali Maksum untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Sebelum disemayamkan, jenazah disholatkan di Masjid Pondok Pesantren Al-Munawwir. Kemudian dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir di komplek makam keluarga Dongkelan sesuai wasiat KH. Dalhar Munawwir, dan berada di sebelah barat istri tercintanya, Nyai. Hj. Rr Siti Makmunah.

Keluarga

Pada tahun 1958 di usia 25 tahun, KH. Dalhar Munawwir melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hj Rr. Makmunah, putri seorang kiai dari Purworejo Jawa Tengah, yaitu KH. Raden Ahmad Siroj atau Kiai Ahmad Jambul.

Buah dari pernikahannya, mereka dikaruniai lima anak laki- laki, diantaranya: Fuad Asnawi, Fathoni, Fairuzi Afiq, Faishol Majdi, dan Fahmi, serta seorang anak perempuan bernama Fanny Rifqoh.

Pendidikan

Sejak kecil, KH. Dalhar Munawwir mendapat pendidikan agama di lingkungan pesantren. Beliau pertama kali belajar al-Qur’an langsung kepada ayahnya, KH. Muhammad Munawwir hingga beliau beranjak remaja. Sepeninggal ayahnya, KH. Muhammad Munawwir pada tahun 1942 M beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Krapyak diasuh oleh KH. Ali Maksum (menantu KH. Muhammad Munawwir) yang merupakan kakak ipar beliau.

Pada waktu itu, KH. Dalhar Munawwir beserta saudara-saudaranya yang lain seperti KH. Ahmad Warson Munawwir, KH. Zuhdi Dakhlan, KH. Hasyim dan KH. Nursidi mengaji kepada KH. Ali Maksum untuk mendalami al-Qur’an. Selain itu, beliau berguru kepada KH. Abdul Qodir Munawwir yang tak lain adalah kakak beliau.

Rihlah keilmuan tidak hanya didalami di lingkungan pondok saja, beliau juga belajar kepada KH. Nahrowi Dalhar yang merupakan pengasuh serta pendiri pesantren di Watucongol Magelang sewaktu Pasanan (Pengajian di bulan Ramadhan).

KH. Dalhar Munawwir juga pernah menimba ilmu langsung kepada KH. Siroj (Payaman), KH. Musyfa’ (Kaliwungu), KH. Dimyathi (Comal Pemalang),KH. Bisri Mustofa (Rembang), dan KH. Suyuthi (Rembang).

Menjadi Pengasuh Pesantren

Pada periode awal, Pondok Pesantren Putri Krapyak diasuh langsung oleh muassis (pendiri) Nyai Hj Salimah beserta putra- putri beliau sampai pada beliau wafat tahun 1967. Selanjutnya, dalam mengasuh para santri diteruskan oleh putra- putri beliau yaitu KH. Dalhar Munawwir, Nyai Hj Jauharoh Munawwir, dan menantu beliau, KH. Mufid Mas’ud.

Pada tahun 1975 an, KH. Mufid Mas’ud dan Ibu Nyai Jauharoh Munawwir pindah ke daerah Candi, Ngaglik, Sleman sehingga Pondok Putri Krapyak diasuh oleh KH. Dalhar Munawwir.

Di bawah asuhan KH. Dalhar Munawwir, pesantren ini menjadi semakin berkembang dengan masuk dan bertambahnya santri putra yang datang dari berbagai penjuru daerah di Jawa bahkan hingga luar Jawa seperti Bali, Sumatera, dan daerah lainnya. Pada masa inilah bersamaan dengan berubahnya nama Pondok Pesantren Putri Krapyak, menjadi Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Nurussalam.

Kata “Nurussalam” (cahaya keselamatan) sendiri disandarkan kepada pendiri pertama Pondok Putri yaitu Ibu Nyai Hj Salimah Munawwir yang tak lain merupakan ibu kandung KH. Dalhar Munawwir.

Pada tanggal 9 Februari 1948, Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Nurussalam tercatat secara resmi di kantor Departemen Agama Yogyakarta (sekarang Kantor Kementrian Agama Yogyakarta), dengan Piagam Nomor B. 8406, setelah lebih kurang tiga dasawarsa berdiri.

Di mata para santri, KH. Dalhar Munawwir merupakan sosok guru yang sangat perhatian, tidak pernah memandang keturunan dan bagaimana latar belakangnya, semua diperlakukan dan diperhatikan sama, tentunya dengan kasih sayang sama pula. Tak hanya ilmu al-Qur’an yang diajarkan oleh KH. Dalhar Munawwir, tetapi beliau juga mengajarkan tentang fiqih, tauhid, dan ilmu keislaman lainnya (Islam kontemporer dan kekinian).

Metode dan sistem pengajaran yang diajarkan pun tidak pernah dipersulit dan mempersulit santri agar sistem belajar mengajar selalu menarik dan mudah dicerna, seperti menulis (meringkas) kitab sebagai acuan dan pedoman pembelajaran bagi santri, seperti kitab “An- Namiqotu fil Qowa’idil Fiqhiyyah” sebuah kitab yang membahas tentang qawaidul fiqh atau kaidah- kaidah fiqih, terdiri dari 40 kaidah berbahasa Indonesia-Arab, juga mengirim santri dalam delegasi forum diskusi Bahtsul al- Masail untuk menumbuhkan pemikiran kritis dalam diri santri.

Berkaitan dengan teks khotbahnya beberapa alumni banyak yang mengakui kejelian dan kehebatan beliau dalam menyusunnya. “Dalam khotbahnya, Kiai Dalhar selalu mendoakan keamanan Indonesia”, ujar Dr. H Tantowi dalam acara “Bedah Khotbah KH. Dalhar Munawwir”. Perkara ini sungguh penting, mengingat maraknya ujaran kebencian dan usaha mempolitisir agama oleh pendakwah dalam khotbahnya. Khotbah lantas menjadi medium dalam itikad memobilisasi kepentingan politik tertentu.

Sebenarnya, meminta kebaikan bagi bangsa dan negara di dalam khotbah itu merupakan pakem atau struktur khotbah yang ada sejak era Sahabat Rasulullah saw. Jadi kalau ada khotbah yang didoakan hanya umat Islam tanpa mendoakan bangsa dan negara yang dihuni, itu apologis.” lanjut alumni Nurussalam yang juga menjadi dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.

Adapun ketika disinggung mengenai seberapa dominan nilai nasionalis yang ada dalam khotbah-khotbah Kiai Dalhar, KH. Aliyyul Munif Qostolani menjelaskan bahwa Kiai itu menerjemahkan sebuah konsep dalam laku. “Jadi, jika mengingat pengamalan dan pengalaman ketika nyantri di Mbah Dalhar, laku Kiai Dalhar sudah sangat nasionalis”.

Perlu diketahui, menurut KH. R Mahfudz Hamid, dalam proses penyusunan khotbah, teks yang dipakai Kiai Dalhar ditulis sendiri.  “Khotbah Kiai Dalhar itu dibuat sendiri dan ditulis-tulis sendiri.” Karena dibuat sendiri oleh Allahu Yarham KH. Dalhar Munawwir, karakter khotbahnya pun sangat padat. Bahkan, kata Dr. H Tantowi, “Orang belum ngantuk, Mbah Dalhar sudah barakallahu li wa lakum…”.

Kisah Teladan

Letak Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek Nurussalam yang berada di tengah-tengah lingkungan heterogen merupakan salah satu faktor di mana KH. Dalhar Munawwir harus selalu berinteraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar agar tercipta kerukunan dan pergaulan di masyarakat. Sikap beliau terbuka dan luwes dengan masyarakat dengan tidak memandang jabatan, organisasi, ataupun agama yang dianut. Hal ini yang membuat beliau disegani serta tidak pernah tebang- pilih dalam bergaul.

Masyarakat sekitar juga tidak meragukan ketokohan serta keluarga KH. Dalhar Munawwir yang begitu terbuka dan interaktif terhadap masyarakat sekitar. Bahkan ketika beliau “mulang ngaji”, tak hanya santri melainkan masyarakat sekitar pun diperbolehkan mengikuti pengajian beliau.

Pengajian beliau tidak hanya dilakukan di lingkungan pondok, akan tetapi juga di luar pondok seperti “pengajian rutinan” di Krapyak Wetan (Mergo Hasanah), di Saman Salakan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul (barat Kasongan), daerah Ndiro, Sewon serta di daerah Samas, Bantul. Kebanyakan dari pengajian beliau sifatnya selapanan atau 40 hari sekali.

Selain itu, beliau juga memiliki pengajian rutinan yang diberi nama Qodamatul Hujjat (pelayan haji) yang terbentuk setelah kepulangan haji serta berbagai kalangan yang bertempat tinggal di sekitar kota Yogyakarta dengan tujuan mendalami spiritualitas dan penguatan solidaritas (ukhwah) diantara rekan- rekan beliau. Bahkan pengajian tersebut, atas izin Allah, mampu mendirikan sebuah masjid (terletak di perempatan ringroad jalan Imogiri Barat) yang merupakan salah satu symbol dalam syiar Islam.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya