Biografi Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub., M.A

 
Biografi Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub., M.A

Daftar Isi Profil Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub., M.A

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Kiprah
  7. Karya-Karya

Kelahiran

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub., M.A lahir pada 2 Maret 1952 di Desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Beliau merupakan anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan H. Yaqub dan Hj. Habibah.

Wafat

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub., M.A wafat pada 28 April 2016 di Tangerang Selatan, Banten, dalam usianya yang ke 64. Jenazah beliau dimakamkan di belakang area masjid Muniroh Salamah, di dalam kawasan pesantren.

Putra semata wayangnya, Zia Ul Haramain kini meneruskan Pondok Pesantren Darus Sunnah yang telah didirikan oleh ayahnya.

Keluarga

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub., M.A melepas masa lajangnya dengan menikahi Ulfah Uswatun Hasanah, muridnya di Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ), pada 5 Mei 1990. Buah dari pernikahannya, beliau di karuniai seorang putra Zia Ul Haramain.

Pendidikan

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub., M.A memulai pendidikannya dengan belajar dari SD sampai SMP di Batang kota kelahirannya.

Setelah selesai pendidikan formal di kampung halamannya, beliau melanjutkan pendidikannya di Pesantren Seblak, Jombang sampai tingkat Tsanawiyyah dari1966 sampai tahun 1969.

Pada tahun 1969-1972 beliau melanjutkan kembali dengan belajar di Pondok Pesantren Tebuireng, pada pertengahan tahun 1972 ia melanjutkan menuntut ilmu pada Program Studi Syariah di Universitas Hasyim Asy’ari Jombang dan selesai pada tahun 1975.

Dalam perkembangan intelektual Ali Mustafa, guru-gurunya sangat berpengaruh dalam hidupnya. Selama berada di Tebuireng Jombang, ia banyak menekuni kitab-kitab kuning di bawah asuhan para kiai senior antara lain: KH. Idris Kamali, KH. Adlan Aly, KH. Shobari, dan KH. Syamsuri Baidawi. Di Tebuireng, dia juga pernah belajar dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk bidang studi Bahasa Arab dan kitab Qatr al-Nadā pada tahun 1971.

Di samping belajar, beliau juga mendapat tugas mengajar di almamaternya tersebut untuk kajian kitab-kitab kuning dan bahasa Arab, sampai awal tahun 1976.

Pada pertengahan tahun 1976, beliau mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintahan Arab Saudi, beliau masuk di Fakultas Syariah, di Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud, Riyadh, Saudi Arabia. Pada tahun  1980 beliau dapat menyelesaikannya.

Kemudian masih di kota yang sama beliau melanjutkan studi di Universitas King Sa’ud Departemen Studi Islam, Jurusan Tafsir Hadis. Pada studi s2 ini, beliau dapat menyelesaikannya pada tahun 1985

Setelah lulus S2 ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Kemudian pada tahun 2005 beliau  melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Nizamia Hyderabad India.

Pada pertengahan tahun 2008, Ali Mustafa Yaqub mampu menyelesaikan program doktor pada konsentrasi Hukum Islam di universitas tersebut, dengan judul desertasi Ma’āyīr al-Ḥalāl wa al-Ḥarām fī al-Aṭ’imah wa al-Asyribah wa al-Adwiyah wa al-Mustakhḍarāt al Tajmīliyyah Alā Ḍaū‟ al-Kitāb wa al-Sunnah” di bawah bimbingan Muhammad Ḥasan Hitou, Direktur Lembaga Studi Islam Internasional di Frankfurt Jerman.

Selain itu, tokoh yang sangat berpengaruh dalam intelektualnya khususnya di bidang hadis adalah Muhammad Muṣṭafā al-A‟ẓāmī. Guru hadisnya di Universitas King Saud Riyadh. Ulama kontemporer pakar fiqh dan Tafsir Waḥbah al-Zuhailī juga merupakan gurunya. Dari beliau pula Ali Mustafa belajar untuk produktif dalam menulis.

Selama 9 tahun kuliah di Arab Saudi, Ali Mustafa juga rajin menghadiri halaqah-halaqah di luar kampus, misalnya halaqah hadis kutub al-sittah yang diasuh oleh Abdul ‘Azīz bin Abdullah bin Bāz (w.1999 M) yang berjarak 30 km dari tempat tinggal Ali di Riyadh.

Nampaknya, dari interaksi dengan halaqah inilah Ali Mustafa mendapat inspirasi untuk mendirikan pesantren khusus hadis kemudian hari di tanah air. Di samping itu, Ali Mustafa juga menghadiri perkuliahan-perkuliahan yang dibawakan oleh al-Aziz ‘Alū Syaīkh dan tokoh-tokoh lain.

Pentingnya dakwah mendorong kuat Ali Mustafa untuk mendedikasikan seluruh tenaganya untuk aktivitas dakwah Islam. Sehingga sepulang dari Timur Tengah, Ali ingin mengabdikan diri berdakwah di Indonesia Timur (Papua), tetapi takdir berkata lain.

Pertemuannya dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika pulang dari belajar di Saudi Arabia pada tahun 1985 di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengubah paradigma berpikir Ali Mustafa sejak masa kuliahnya itu. Menurut Gus Dur, berdakwah tidak mesti harus ke Papua (Irian Jaya) apalagi Timur-Timur. Jakarta adalah medan dakwah yang juga butuh perhatian khusus.

Mendirikan Pesantren

Pada tahun 1989, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub., M.A bersama keluarganya mendirikan pesantren Darussalam di desa kelahirannya, Kemiri, Batang. Kemudian, pada tahun 1997 ia mendirikan Pesantren Darussunnah di Pisangan Barat Ciputat yang spesialis mempelajari Hadis dan Ilmu Hadis untuk mahasiswa.

Dan pada tahun 2014, ia mendirikan Pesantren dan Madrasah Darussunnah 6 tahun untuk tingkat Tsanawiyyah dan Aliyah.

Kiprah

Setelah pertemuan tahun 1985 dengan Gus Dur tersebut, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub., M.A mengajar di Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta untuk mata kuliah Hadis dan Ilmu Hadis. Ia juga pernah mengajar beberapa di Perguruan Tinggi diantaranya, Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, Pengajian Tinggi Islam Masjid Istiqlal Jakarta, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Institut Agama Islam Shalahuddin al-Ayyubi (INNISA) Tambun Bekasi, Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyyah Jakarta. Selain itu, ia juga aktif mengajar hadis dan ilmu hadis di berbagai tempat.

Dalam dunia organisasi, ia pernah menjadi Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Riyadh. Setelah kembali ke Indonesia ia pernah menjadi pengasuh Pesantren al-Hamidiyyah Depok (1995-1997) dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyyah Jakarta (1991-1997). Di samping itu, tahun 1990-1996 ia diamanahi menjadi Sekretaris Jendral Pimpinan Pusat Ittihadul Muballighin.

Kemudian untuk periode kepengurusan 1996-2000 ia diamanahi menjadi Ketua Dewan Pakar, merangkap ketua Departemen Luar Negeri DPP Ittihadul Muballighin. Ia juga aktif sebagai anggota Komisi Fatwa MUI Pusat sejak 1986-2005, Ketua Lembaga Pengkajian Hadis Indonesia (LepHi), pengasuh rubrik Hadis majalah Amanah Jakarta, dan pengasuh rubrik mudzakaroh majalah Panji Masyarakat dan Wakil Ketua Dewan Syari’ah Nasional.

Selain itu, pada tahun 1997-2010 ia menjadi Wakil Ketua Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tahun 2005-2010 sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat. Dan pada tahun 2005 pula Ali Mustafa diangkat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal hingga Januari tahun 2016. Tahun 2010 ia juga diangkat sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Fatwa hingga tahun 2015.

Ali juga dipercaya sebagai Penasihat Syariah Halal Transactions of Omaha Amerika Serikat tahun 2010 hingga 2016. Pada tahun 2013 hingga 2016, Ali Mustafa juga mengemban amanah sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM).

Ali Mustafa juga tercatat sebagai Guru Besar Hadis pada Institut Ilmu alQur’an (IIQ) Jakarta (1998-2016), Guru Besar Hadis dan Ilmu Hadis Program Magister Fakultas Dirasat Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2012-2016), Guru Besar Hadis dan Ilmu Hadis Program Magister STAIN Pekalongan Jawa Tengah (2012-2016), Advisor to Darul Uloom, New York, USA (2013-2016), Anggota Lajnah Pentashih al-Qur’an Depag RI, anggota Dewan Syariah Majelis al Zikra, Anggota Dewan Syariah Bank Bukopin Syariah, dan lain-lain.

Selain berkiprah di dalam negeri, tokoh hadis yang pernah mendapatkan penghargaan Setyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2008 ini juga sering melakukan tugas luar negeri. Di antaranya adalah menjadi anggota Delegasi MUI untuk mengaudit pemotongan hewan di Amerika (2000), anggota Delegasi Departemen Agama RI untuk Studi Banding tentang Metode Pelestarian al-Qur’an di Iran, Mesir, dan Saudi Arabia (2005), dan menjadi peserta sekaligus pemakalah dalam Konferensi Internasional tentang Penerapan Fatwa di Kuala Lumpur, Malaysia (2006).

Karya-Karya

  1. Memahami Hakikat Hukum Islam (Alih bahasa dari Prof. Dr. Muhammad Abdul Fattah al-Bayanuni, 1986)
  2. Nasihat Nabi Kepada Pembaca dan Penghafal Quran (1990)
  3. Imam al-Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits (1991)
  4. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Alih bahasa dari Prof. Dr. Muhammad Mustafa Azami, 1994)
  5. Kritik Hadis (1995)
  6. Bimbingan Islam Untuk Pribadi dan Masyarakat (Alih Bahasa dari Muhammad Jamil Zainu, terbit di Saudi Arabia, 1418 H)
  7. Sejarah dan Metode Dakwah Nabi (1997)
  8. Peran Ilmu Hadis dalam Pembinaan Hukum Islam (1999)
  9. Kerukunan Umat dalam Perspektif al-Quran dan Hadis (2000)
  10. Islam Masa Kini (2001)
  11. Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafi’i (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Abd. Al-Rahman al-Khumays, 2001)
  12. Aqidah Imam Empat Abu Hanifah, Malik, Syafi’I, dan Ahmad (Alih Bahasa dari Prof. Dr. Abd. Al-Rahman al-Khumays, 2001)
  13. Fatwa-fatwa Kontemporer (2002)
  14. MM Azami Pembela Eksitensi Hadis (Karya Bersama KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dkk, 2002)
  15. Pengajian Ramadhan Kiai Duladi (2003)
  16. Hadis-hadis Bermasalah (2003)
  17. Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan (2003)
  18. Nikah Beda Agama Dalam Perspektif Alquran dan Hadis (2005)
  19. Imam Perempuan (2006)
  20. Haji Pengabdi Setan (2006)
  21. Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal (2007)
  22. Pantun Syariah ‘Ada Bawal Kok Pilih Tiram’ (2008)
  23. Toleransi Antar Umat Beragama (Bahasa Arab dan Indonesia, 2008)
  24. Kriteria Halal dan Haram untuk Pangan, Obat, Kosmetika dalam Perspektif al-Quran dan Hadis (2009)
  25. Mewaspadai Provokator Haji (2009)
  26. Islam di Amerika (2009)
  27. Islam Between War and Peace (Bahasa Inggris, Arab, dan Indonesia, 2009)
  28. Kidung Bilik Pesantren (2009)
  29. Ma’âyir al-Halâl wa al-Harâm fî Ath’imah wal Asyribah wal Adawiyah wal Mustahdharat at-Tajmiliyyah ‘ala Dhau’ al-Kitâb wa as-Sunnah (2010)
  30. Kiblat, antara Bangunan dan Arah Kabah (Dalam Bahasa Arab dan Indonesia, 2010)

Masih ada 20 buku lagi yang tak dapat kami cantumkan di sini.

 
 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya