Biografi Prof. Dr. KH. Abdul Mukti Ali

 
Biografi Prof. Dr. KH. Abdul Mukti Ali

Riwayat dan Kelahiran

Abdul Mukti Alilahir di Cepu, Blora, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923, adalah mantan Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Pembangunan II. Ia juga terkenal sebagai Ulama ahli perbandingan agama yang meletakkan kerangka kerukunan antarumat beragama di Indonesia sesuai dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika atau istilah yang sering dipakainya "Setuju dalam Perbedaan." Ia juga terkenal sebagai cendekiawan muslim yang menonjol sebagai pembaharu pemikiran Islam melalui Kajian Keislaman (Islamic Studies).

Mukti Ali memiliki nama kecil Soedjono (Sujono), namun sumber lain ada yang menyebutkan Boedjono (Bujono). Sedangkan nama Abdul Mukti Ali sendiri ia dapat dari pemberian KH. Hamid Pasuruan ketika menjadi gurunya. Ia adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Mukti Ali hidup di kalangan keluarga yang berkecukupan.Ayahnya bernama Idris, atau Haji Abu Ali (nama yang digunakan setelah menunaikan haji) adalah seorang pedagang tembakau yang cukup sukses. Sedangkan ibunya bernama Mutiah, atau Hj. Khodijah (nama yang digunakan setelah menunaikan haji) adalah seorang saudagar kain.

Meskipun Haji Abu Ali memiliki pendidikan yang sangat rendah, yakni hanya diperolehnya dari mengaji kitab di pesantren di Cepu, namun ia termasuk orang tua yang sangat memikirkan pendidikan anaknya.

Masa Pendidikan

Pada usia delapan tahun, Mukti Ali menempuh pendidikan formalnya dengan masuk HIS (Hollandsch Inlandsche School), sekolah milik Pemerintah Hindia Belanda setingkat Sekolah Dasar. Di samping itu, ia juga mengaji (belajar agama Islam) di Madrasah Diniyah (Sekolah Islam) di Cepu, yang kegiatan belajarnya berlangsung sore harinya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di HIS dan mendapat sertifikat pegawai pemerintah Belanda (Klein Ambtenar Examen), Mukti Ali melanjutkan dikirim ke Pondok Pesantren di Cepu untuk belajar al-Qur'an kepada Kiai Usman. Di bawah asuhan Kiai Usman yang terkenal tegas, Mukti Ali belajar membaca al-Qur'an dengan fasih dan tartil menurut kaidah ilmu tajwid.

Pada pertengahan tahun 1940, Mukti Ali lalu dikirim ayahnya untuk belajar di Pondok Pesantren Termas, Pacitan, di bawah asuhan KH. Dimyati dan puteranya KH. Abdul Hamid Dimyati. Ia intensif mempelajari berbagai kitab klasik seperti Nahwul Wadlih, Balaghatul Wadhihah, Jurumiyah, Alfiyah, Taqrib, Iqna', 'Mustalah Hadis', 'Jam'ul Jawami', dan lain-lain.

Di pesantren tradisional ini Mukti Ali mengaji di bawah asuhan kiainya dan banyak belajar dan berdiskusi dengan para seniornya. Di antara para senior Mukti Ali tersebut adalah KH. Abdul Hamid (asal Lasem yang kemudian menetap di Pasuruan) dan KH. Ali Ma'sum (Rais Aam Syuriyah PBNU 1981-1984). Di Pesantren ini juga Mukti Ali bersama KH. Ali Ma'sum sempat merintis berdirinya madrasah, yang kemudian KH. Ali Ma'sum menjadi kepala sekolah dan Mukti Ali menjadi wakilnya.

Setelah selesai belajar agama di Pesantren Termas, Mukti Ali malanjutkan pendidikan agamanya di Pesantren Hidayah, Saditan, Lasem, Rembang di bawah asuhan KH. Maksum, ayah dari KH. Ali Ma'sum, sahabat dan gurunya di pesantren Termas. Meskipun kedua pesantren yang pernah ia singgahi untuk belajar tersebut berbasis Nahdlatul Ulama, namun Mukti Ali tumbuh dan berkembang menjadi ulama intelektual dan ulama pembaharu yang berpengaruh.

Setelah menuntaskan pendidikan agamanya di berbagai pesantren, Mukti Ali pergi ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Islam (STI) yang saat itu baru saja berdiri. Ia memutuskan Fakultas Agama sebagai pilhannya. STI inilah yang kelak Ia sempat ikut terjun ke politik kala menjadi anggota Dewan Wakil Rakyat Blora pada 1946. Tapi itu tak lama.

Tahun berikutnya ia kembali meneruskan belajar di Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta—kelak jadi Universitas Islam Indonesia. Lagi-lagi studinya harus terhenti karena Agresi Militer Belanda kedua pada akhir 1948. Ia kemudian ikut bertempur dengan bergabung dalam Angkatan Perang Sabil pimpinan Kiai Abdurrahman dari Kedungbanteng).

Usai Revolusi mereda, Mukti Ali berniat meneruskan studinya yang terputus. Pada Maret 1950, ia berangkat ke Mekkah bersama adiknya untuk berhaji sekaligus belajar Islam. Namun sampai di sana, ekspektasinya tentang Mekkah buyar.

“Bagi Mukti Ali sendiri, Mekkah di tahun 1950an itu ibarat ‘desa besar’ dihiasi dengan pola kehidupan masyarakat abad pertengahan. Orang-orang yang hidup di Mekkah juga tidak mempunyai tingkat pendidikan yang lebih baik dari umumnya masyarakat Indonesia,” tulis Ali Munhanif (hlm. 280).

Ia lalu memutuskan pergi ke Pakistan dan mendaftar di Universitas Karachi. Pada 1955, Mukti Ali lulus sebagai sarjana spesialis sejarah Islam. Atas saran Anwar Harjono, mantan Sekjen Masyumi, ia kemudian pergi ke Kanada untuk meneruskan studi di Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal.

Semasa di McGill ia mulai mendalami metode studi agama-agama dan membangun pertemanan dengan profesor-profesor kajian Islam di universitas itu. Pada masa inilah pemahaman Mukti Ali tentang teologi Islam berkembang. Biangnya adalah Profesor Wilfred Cantwell Smith yang memperkenalkannya pada pendekatan komparatif dalam mempelajari Islam.

Tentang ini, Mukti Ali, sebagaimana dikutip Ali Munhanif , mengatakan, “Kalau boleh saya menyebut, pendekatan itu adalah ‘pendekatan holistik’ terhadap agama. Suatu pendekatan yang banyak mempengaruhi jalan pikiran saya, atau bahkan dalam konteks yang lebih luas, mengubah sikap saya dalam memahami hidup manusia.”

Lima tahun kemudian, Mukti Ali mampu menamatkan program tingkat sarjana mudanya sekaligus melanjutkan program Ph.D di universitas yang sama. Pada bulan Agustrus 1955, ia tiba di Montreal, Kanada, untuk melanjutkan belajarnya di Universitas Mc Gill dengan mengambil spesialisasi Ilmu Perbandingan Agama.

Kembali ke Indonesia

Sepulang dari Kanada pada 1957, selama beberapa tahun Mukti Ali mengabdi sebagai dosen di IAIN Jakarta. Sesuai spesialisasinya, ia mengajar ilmu perbandingan agama. Apa yang ia ajarkan itu adalah sesuatu yang baru bagi keilmuan Islam di Indonesia masa itu. Dan mata kuliah itu sangat diminati.

Untuk alasan inilah, sebuah program studi dibuka di IAIN Jakarta dan Yogyakarta pada 1960, yang diberi nama program Jurusan Perbandingan Agama. Mukti Ali segera ditunjuk Departemen Agama untuk memimpin program itu dan merumuskan kurikulumnya.

Menjabat Menteri Agama

Mukti Ali dilantik menjadi Menteri Agama menggantikan K.H. Muhammad Dachlan Kabinet Pembangunan I. Kemudian diangkat lagi pada periode kedua (1973-1978) pada Kabinet Pembangunan II Orde Baru. Tak banyak yang mengetahui mangapa seorang yang tak berlatar belakang politik, dipercaya menjadi Menag. Beberpa analisis, ditunjuknya Mukti Ali memimpin Departemen Agama adalah untuk melakukan pembaruan kebijakan. Dengan keahliannya di bidang ilmu perbandingan agama, dan keaktifan di forum antarumat beragama, ia dianggap kompeten. . See - https://ibtimes.id/a-mukti-ali-dan-delapan-tugas-pokok-saat-menjadi-menteri-agama/

Mukti Ali dilantik menjadi Menteri Agama menggantikan KH. Muhammad Dachlan Kabinet Pembangunan I. Kemudian diangkat lagi pada periode kedua (1973-1978) pada Kabinet Pembangunan II Orde Baru. Tak banyak yang mengetahui mangapa seorang yang tak berlatar belakang politik, dipercaya menjadi Menag. Beberpa analisis, ditunjuknya Mukti Ali memimpin Departemen Agama adalah untuk melakukan pembaruan kebijakan. Dengan keahliannya di bidang ilmu perbandingan agama, dan keaktifan di forum antarumat beragama, ia dianggap kompeten.

Kewafatannya

Beliau meninggal dunia dalam usia 81 tahun pada 5 Mei 2004, sekitar pukul 17.30 di Rumah Sakit Umum Dr Sardjito, Yogyakarta. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga di Desa Kadisoko, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Ia meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, dan empat orang cucu. Istrinya, Siti Asmadah, memandang Mukti Ali sebagai sosok suami yang sangat sabar. "Bapak itu jarang sekali marah-marah dan sabar sekali," tuturnya.

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber