Biografi KH Masduqi Ali

 
Biografi KH Masduqi Ali

KH Masduqi Ali, konon adalah sekretaris pribadi Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, beliau adalah sosok ulama yang sangat kharismatik dan diakui kealimannya oleh ulama lainnya di zamannya. Saat masih nyantri di pesantren Tebuireng Jombang, beliau termasuk santri yang sangat cerdas.

KH Masduqi Ali beliau juga pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Mu’allimin yang didirikan pada tahun 1951.

Riwayat dan Kelahiran

Masduqi Ali lahir Tahun 1903 di sebuah rumah sederhana yang terletak di Blok Masjid, Gang Kelapa, Desa Asem Kecamatan Lemah Abang Kabupaten Cirebon. Tanggal dan bulan yang tepat, baik secara kalender Hijriyah maupun Masehi, kapan Masduqi bayi dilahirkan sangat sulit penulis
dapatkan informasinya.

Di kampung yang nan-asri itu, dari kecil sampai remaja, Masduqi dibimbing oleh Sang Ayah yang bernama Kyai Ali, yang berasal dari Desa Kedung-Jumbleng Kecamatan Argasunya Cirebon dan ibu bernama Nyai Satiah, yang asli dari Desa Asem. Kyai Ali, di samping mengasuh pesantren warisan dari ayah serta kakeknya, juga mempunyai tanah garapan untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan bertani.

Masa Menuntut Ilmu

Masduqi belajar sekolah formal di sekolah desa atau Volkschool (Sekolah Rakyat) yang masa belajarnya hanya tiga tahun. Di sekolah itu, siswa hanya diajari membaca, menulis, berhitung. Setelah Masduqi Ali menyelesaikan sekolah Sekolah Rakyat (SR), kepada beberapa krabat
sang ayah berucap akan memesantrenkan sang anak ke Jawa Timur.

Tapi, salah-satu keluarga berucap: “Mau mesantren? Nanti siapa yang akan mengelap ingusnya di sana?” Sebagai tanda kepedulian anggota keluarga bahwa Masduqi masih kecil untuk dipondokkan. Tetapi sang ayah tetap pada pendiriannya dan telah diputuskan Masduqi kecil di bawa untuk menimba ilmu ke pondok pesantren yang dikelola oleh paman bernama Kyai Harun di daerah Gedangan Mojokerto Jawa Timur.

Tapi oleh Kyai Harun, Masduqi malah diserahkan ke temannya semasa mesantren dahulu dan telah mempunyai Pondok Pesantren yang berada di Tebuireng Jombang, yaitu Hadrotusysyeh KH. Hasyim Asy'ari. Kenapa pamannya yang berasal Cirebon bisa tinggal di Jawa Timur? Ternyata di situ terdapat sebuah tanah yang telah diwakafkan dan diserahkan kepada KH. Hasyim.

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini mempersilahkan dan menawarkan bagi siapa saja boleh tinggal dan membangun bangunan di atas tanah tersebut, dengan catatan hanya untuk di buat lembaga pendidikan pesantren dan tidak selainnya. Ternyata, tidak ada seorang pun yang sanggup dan mampu menempati tanah tersebut. Mengatasi kelangkaan tersebut, KH. Hasyim berucap: “ini harus orang Cirebon!”. Maka, atas restu dan do’a dari Mbah Yai Hasyim, Kyai Harun dari Cirebon-lah yang sanggup tinggal dan membangun juga mengelola pesantren di situ.

Ketika sudah sampai Jombang, sang ayah berucap kepada Masduqi kecil, “Kamu mesantren di sini, saya akan menanam pohon Nangka dan jika pohon tersebut belum berbuah, maka kamu jangan pulang.” Sehingga menurut cerita, ketika sang ibu wafatpun, Masduqi tidak sampai menjumpai untuk terakhir kali.

Kisah Masduqi di pesantren layaknya kisah seperti santri pada umumnya. Tapi ada sedikit cerita yang unik, dahulu Abdurrahman Wahid kecil, bisa dikatakan mempunyai perilaku yang tidak mudah diatur. Suatu hari sang ayah Gus Dur, Wahid Hasyim, bercerita kepada Masduqi tentang kenakalan
anaknya itu. Masduqi memohon pada Wahid untuk menemani Gus Dur dan sejak itulah Gus Dur kecil juga dibimbing oleh Masduqi Ali.

Saat Masduqi berumur masih remaja, sekira umur 17an, bersama seorang santri lainnya bernama Rosyid disuruh oleh KH. Hasyim Asy'ari untuk membuat Pesantren dan Madrasah di daerah Tuban. Tetapi karena berbagai hambatan, baik secara dhohir dan terutama bathin, sehingga tidak
konsentrasi untuk meneruskan dan menyelesaikan program dari sang Kyai.

Bahkan karena sesuatu hal, Masduqi sampai sakit yang secara medis tidak diketahui penyebabnya. Namun bisa disembuhkan melaluinya perawatan dan ketelatenan sang Paman, yaitu Kyai Harun. Disebabkan kejadian tersebut KH. Hasyim berucap: Tempat di sini (Tuban) jangan diurus oleh orang Cirebon. Akhirnya tempat tersebut diganti oleh seorang dari Jawa Timur (cucunya sekarang bernama Gus Rohib).

Karena kecerdasannya beliau kemudian diambil menantu oleh KH Muhammad Amin (Ki Madamin) Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon atas usulan putra tertua Ki Madamin yang juga teman belajarnya di pesantren; Ki Solihin. Solihin muda, yang sosoknya diabadikan dalam film “Sang Kiai” merupakan santri Mbah Hasyim yang selalu menemaninya kemana pun sang kiai pergi, termasuk menemaninya saat dalam penjara untuk ikut merasakan susahnya sang guru dalam bilik jeruji.

Pengasuh Gus Dur

Menurut almarhum Kiai Bulqin (Mang Bulqin), murid Kiai Masduqi saat di Tebuireng yang kemudian tinggal di Jalan Jambrut (samping kantor PBNU), selain menjadi katibnya Mbah Hasyim, Kiai Masduqi juga sempat mengasuh Gus Dur saat masih kanak-kanak. Tak heran Gus Dur sendiri seringkali sowan ke Pesantren Babakan, untuk bertemu “sang pengasuhnya” tersebut, bahkan saat KH Ali Yafie mengundurkan diri dari Rais ‘Aam PBNU, Gus Dur yang saat itu menjadi Ketua umum Tanfidziah PBNU sempat mengusulkan nama KH Masduqi untuk posisi Rais ‘Aam yang kosong tersebut, namun Allah punya kehendak lain, beliau keburu wafat pada tahun 1991.

Setahun sebelum pelaksanaan Munas Alim Ulama di Lampung (1992). Namun demikian, Gus Dur tetap meminta musyawirin (peserta Munas) bahwa penggantinya adalah wakil dari Jawa Barat, yang kemudian menyepakati KH Ilyas Rukhiyat dari Pesantren Cipasung, yang saat itu menjadi Rais Syuriyah Jawa Barat untuk ditetapkan sebagai Rais ‘Aam menggantikan KH Ali Yafie.

Pernikahan Beliau

Ketika mesantren di Jombang, Masduqi Ali mempunyai teman asal Cirebon bernama Sholihin, putra dari KH. Muhammad Amin Pesantren Babakan, salah satu Kyai berpengaruh di Cirebon. Karena kenal, tahu kualitas keilmuan, serta keakraban antar keduanya, Kyai Sholihin menawari sang adik bernama Munjiah untuk dinikahi sang kawan, singkat cerita menikahlah keduanya.

Menurut pengakuan Ny. Hj Munjiah, sendiri, beliau ketika menikah masih muda, yaitu berumur 16 tahun, sedangkan KH. Masduqi telah berumur 35 tahunan. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai mempunyai anak 11 anak, yaitu: Ahmad, Amin, Salim, Yahya, Subhi, Husni, Himayyah, Hamidah, Maghfuroh, Muhammad Sholeh, dan Shadaddy.

Menurut Sa’dullah Affandi, KH. Masduqi merupakan sosok ulama yang sangat disiplin, tegas dalam mengambil keputusan. Tulisan beliau yang indah membuat penulis semakin ingin mendalami ilmu agama, setiap usai berjamaah shalat subuh, beliau mengajari santrinya di serambi masjid dan
selalu mengukir goresan kapurnya di papan tulis dengan tulisan arab indah bergaya khat naskhi.

Memang selain beliau, di pesantren Babakan ada beberapa kiai yang mempunyai tulisan berkaligrafi seperti KH Tamam Kamali dengan tulisan khath riq’ah-nya, KH Muntab yang fanatik dengan gaya diwani-nya, juga ada master kaligrafer, yakni Kiai Qasim Muqawi, guru khath yang menginspirasi bakat seni saya, di samping kiai-kiai di atas tadi.

Sa’dullah merasa sangat beruntung bisa belajar langsung ke KH Masduqi Ali, dahulu ayahnya menitipkan ke beliau beralasan ingin tabarrukan (ngalap berkah), karena KH Masduqi Ali saat itu (1984) adalah sesepuh Pesantren Babakan bersama KH Fathoni Amin. KH. Masduqi merupakan
sosok ulama yang alim, baik dalam disiplin ilmu fiqih, mantiq, balaghah dan nahwu.

Di lingkungan Pesantren Babakan, KH. Masduqi memang dikenal sosok yang dianggap “galak”, namun sebenarnya berhati lembut dan tegas. Sa’dullah lebih lanjut menuturkan contoh sifat lembut dan tegas dari KH. Masduqi Ali.

Ada satu hal yang menarik, ketika ayah Sa’dullah menitipkannya dan minta didoakan agar selama dia mondok supaya diberi kesabaran. Mendengar itu Kiai menjawab dengan nada tinggi: “kamu ini kaya Tuhan saja, gak boleh itu minta sabar, karena sabar itu sifat Allah yakni Asshobur. Bapak Sa’dullah terdiam sambil menunduk, baru kemudian kiai cerita yang lain, bahwa kiai kenal kakek Sa’dullah dan pernah ngaji sama kiai Masduqi. Padahal kakek Sa’dullah lebih sepuh, beliau mencontohkan bahwa orang dulu itu tawaddu’ mau ngaji sama yang lebih muda, walaupun belum tentu lebih alim. Dan belakangan Sa’dullah baru tahu kalau Kiai Masduqi Ali dengan kakeknya, sahabat santrinya.

Mendirikan Pondok Pesantren 

Semenjak KH. Masduqi Ali di Babakan, karena ada beberapa santri yang ikut mengaji, maka beliau berniat akan mendirikan pesantren yang lebih condong dengan apa yang diajarkan di pesantren dahulu, yaitu ilmu-ilmu keagamaan semisal Alqur'an, Hadits, Fiqih dan lain-lain. Oleh sebab itu, beliau soan kepada sang guru, di samping sebagai izin meminta restu, juga meminta nama untuk pesantren yang akan didirikan.

Maka berangkatlah beliau ke Jombang. Ketika sudah sampai dan sowan kepada KH. Hasyim Asy'ari, KH. Masduqi Ali mengemukakan usulan sebuah nama yang sudah ada di benak. Tiba-tiba Hadrotussyeh berkata: “Nah... itu, saya juga sudah ada gambaran jika nama yang akan saya kasih itu mirip sama dengan apa yang kamu ucapkan.” Setelah disetujui dan direstui, serta do'a sang guru, maka resmilah nama pesantren tersebut dengan nama: Miftahul Muta'allimin.

Adapun santri pada saat itu disamping berasal dari Jawa Barat, juga berasal dari Madura, Kudus, serta Pekalongan. (H. Mu'min -Santri Ndalem serta keponakan). Oleh karena itu, ketika lokasi pesantren berpindah untuk tujuan pengembangan, karena mempertimbangkan peristiwa tersebut, nama pesantren tidak diganti. Sekarang Pondok Pesantren Miftahul Muta'allimin mulai berbenah dan berkembang.

Disamping mempunyai asrama perempuan, yaitu Miftahul Muta'aallimat dan Madrasah Pesantren bernama MQL-N (Madrasah Qismu Al-Layaly Wa Annahri), juga anak cucunya mendirikan pesantren, yaitu: Al Hayat (KH. Yahya + Ny. Pu); Raudlatul Banat (Abah Hud bin Yahya + Hj. Himayyah); Al-Kautsar (Hj. Hamidah + KH. Muhaimin); Madinah Ar-Rasul (Habib Husain); Daar Al Zahra (Habib Abu Bakar); Al-Ghiyas (Habib Muhammad).

Di samping pesantren, juga terdapat pendidikan formal, yaitu MTs dan Aliyah Miftahul Muta'allimin, SMP, SMK Progresive MR serta Kampus STAIMA Babakan.


Disiplin, Keras, Kelembutan, dan Keberkahan KH. Masduqi Ali

Di kalangan masyarakat santri, figur KH. Masduqi Ali, secara umum kerap dipersepsikan masyarakat sebagai pribadi yang integratif dan merupakan cerminan tradisi keilmuan dan kepemimpinan, ‘alim, menguasai ilmu agama (tafaqquh fi al-din) dan mengedepankan penampilan perilaku berbudi yang patut diteladani umatnya. Semakin tinggi tingkat kealiman dan rasa tawadlu’ kiai akan semakin tinggi pula derajat penghormatan yang diberikan santri dan masyarakat.

Sebaliknya, derajat penghormatan umat kepada kiai akan berkurang seiring dengan minimnya penguasaan ilmu dan rendahnya rasa tawadlu’ pada dirinya, sehingga tampak tak berwibawa lagi dihadapan umatnya. Konsepsi kewibawaan KH. Masduqi Ali ini telah mendifinisikan fungsinya menjadi etika normatif dunia pesantren, yang oleh budayawan Mohamad Sobary disebut sebagai tipe kewibawaan tradisional.

Ciri pertamanya adalah, penggunaan kekuasaan pribadi yang dihimpun melalui peranan masa lampau dari seseorang sebagai penyedia, pelindung, pendidik, sumber nilai-nilai, dan status unggul dari mereka yang memiliki hubungan ketergantungan yang mapan dengan orang tersebut. Adapun indikasi kewibawaan yang lain sosok KH. Masduqi Ali, bahwa sumber-sumber kewibawaan tradisional tersebut terletak pada posisinya menjadi sesepuh (orang yang dituakan), sebagai sosok ayah, orang yang dapat dipercaya, orang yang dihargai, berkedudukan resmi, memiliki penguasaan ilmu pengetahuan agama, dan posisinya sebagai pemangku lembaga agama (pesantren).

Derajat kewibawaan-kharismatik dari KH. Masduqi Ali ini dalam bentuk penghormatan serta ketaatan massa yang bersifat total dan, bahkan menurut Bahasa Sobary, ada ciri taqlid buta, sehingga terhadap penilaian suatu perkara tertentu tak lagi perlu ada pertanyaan, gugatan atau diperdebatkan secara kritis.

Hal ini diperoleh KH. Masduqi Ali atas konsekuensi logis dari segi penguasaan yang mumpuni terhadap ilmu-ilmu agama juga diimbangi oleh pancaran budi pekerti mulia, penampakan akhlak al-karimah yang menyebabkan kiai, di mata umatnya, dipandang bukan semata teladan ilmu, melainkan juga sebagai teladan laku: suatu elemen keteladanan yang bersifat sangat fundamental.

Unsur berkah keteladanan yang membawa implikasi pada kecintaan, dan kepatuhan atau ketaatan mutlak kepada sang pemimpin kharismatik KH. Masduqi Ali sehingga dianggap memiliki karomah. Oleh karenanya, secara otomatis pada dirinya dinilai sebagai orang berotoritas. Adalah bukti nyata
bahwa fenomena kewibawaan spiritual kharismatik KH. Masduqi Ali ternyata telah melintas batas rasionalitas.

Apapun yang dikatakan orang, masa bodoh! Demikian adalah prinsip yang dipegang kuat- kuat di kalangan santri tradisonal meskipun kadang kala ia telah berada di luar habitatnya. Atas dasar inilah maka kemudian muncul pola hubungan patron-klien antara KH. Masduqi Ali dan santrinya yang bersifat unik serta menarik diamati.

Sebagai ilustrasi, menurut keyakinan santri, mencium tangan KH. Masduqi Ali merupakan berkah dan dinilai ibadah, meski orang-orang yang berpandangan puritan mengejeknya sebagai “kultus” individu, dan karena itu syirik. Mereka tetap tak peduli, sebab mereka beranggapan tidak mencium “tangan” yang sebenarnya, karena perbuatan tersebut sedang memberikan penghormatan yang dalam kepada suatu “otoritas”, yaitu KH. Masduqi Ali.

Dengan demikian, predikat nilai ke-Kiai-an yang berotoritas dan menyandang kewibawaan spiritual kharismatik dari KH. Masduqi Ali bukanlah sangat bergantung pada garis keturunan atau karena dari factor nasabiah, melainkan harus pula ditempuh dengan cara-cara yang rasional, karena tergantung kepada derajat kealiman juga diimbangi oleh teladan perilaku berbudi (akhlak al-karimah).

Dalam arti, secara teoritik dan formal bahwa seorang pengasuh pesantren KH. Masduqi Ali memang harus memiliki kompetensi yang memadai dan telah pula memiliki religious commitment yang kuat. Yaitu penampilan sosok pribadi yang integratif antara ilmu dan amaliahnya. 

Aspek-aspek komitmen religius yang kuat dari KH. Masduqi Ali itu meliputi, aspek keyakinan (the belief dimension), ritual peribadatan beserta aurad-dzikirnya (religious practice: ritual and devotion), pengalaman keagamaan (the experience dimension), pengalaman batiniah/rohaniah (spiritual dimension), pengetahuan agamanya maupun kosekuensi-konsekuensi amaliah seorang Muslim yang terbentuk secara baik.

Maka tidak mengherankan dengan potensi dan kompetensi tersebut kalau seorang kiai pesantren menduduki posisi puncak yang kukuh dalam struktur sosial terutama dalam lingkaran komunitas pesantren. Munculnya fenomena kewibawaan kharismatik tersebut juga dapat ditelaah secara kritis dalam perspektif konsepsi-teori relasi-kuasa model Michel Foucault (2002), yang mendaraskan adanya kuasa pengetahuan sehingga melahirkan otoritas dan power pada seseorang karena memiliki kewibawaan kharismatik.

Pada telaah kasus lain, bisa dianalisa bahwa, meskipun kedudukan KH. Masduqi Ali berada di puncak struktur sosial pesantren, bukan berarti ia tetap berposisi sebagai subyek kekuasaan, apabila hal itu dilihat dari perspektif relasi kuasa-pengetahuan. Kemungkinan dalam hal ini posisi KH. Masduqi Ali sebagai pengasuh dan santri adalah sama, sebagai obyek power walaupun keduanya berbeda status, yakni obyek daripada pengetahuan yang “menghegemoni” tadi. telah diketahui bahwa sebagai pewaris Nabi, apa yang dilakukan KH. Masduqi Ali adalah semata-mata karena dilandasi doktrin ikhlas-lillahi ta’ala, demi mengharap ridlo Allah Swt dan derajat darul akherat.

KH. Masduqi Ali mengabdikan hidupnya di pesantren karena untuk merealisasikan sabda Rasul Saw: “Sampaikan dariku meskipun cuma satu ayat”. Juga perintah Rasulallah Saw yaitu, “Barangsiapa menyimpan suatu ilmu (agama) maka ia karena ulahnya itu besok di akherat akan disiksa dengan cemeti dari api neraka”. Pendek kata, tugas mengampu pesantren, mendidik dan membimbing santri adalah kewajiban agama yang sudah semestinya menjadi tanggung jawab KH. Masduqi Ali sebagai penjaga tradisi pesantren.

Sementara di pihak lain, kepatuhan dan penghormatan yang diberikan santri kepada KH. Masduqi Ali adalah karena demi mendapatkah berkah (kebaikan) dari Allah Swt, juga berharap agar ilmunya nanti bermanfaat. Ritus yang mereka jalani itu termasuk bagaian dari mengamalkan ajara tradisi agama.

Disebutkan dalam korpus resmi pesantren, yaitu dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allimkarangan Syaikh Zarnuji (1963: 60), sebagai berikut: “Mereka yang mencari pengetahuan hendaklah selalu ingat bahwa mereka tidak akan pernah mendapatkan pengetahuan atau pengetahuannya tidak berguna, kecuali kalau ia menaruh hormat kepada pengetahuan tersebut dan juga menaruh hormat kepada guru yang mengajarkannya.

Hormat kepada guru/kiai bukan hanya sekedar patuh. Dikatakan pula oleh Imam Ali ra, “Saya ini adalah hamba dari orang yang mengajari saya (Rasulallah), walaupun hanya satu kata saja.”

Para santri harus menunjukkan rasa hormat dan takzim serta “kepatuhan mutlak” kepada KH. Masduqi Ali dan ustdznya, bukan manivestasi dari penyerahan total kepada orang-orang yang dianggap memiliki otoritas, tetapi karena suatu keyakinan atas kedudukan guru sebagai penyalur
kemurahan (barokah) Tuhan yang dilimpahkan kepada murid-muridnya, baik ketika hidup di dunia maupun di akherat.

Lebih lanjut, Syaikh Zarnuji (1963: 63) mengatakan, menurut ajaran Islam, murid (santri) harus menganggap guru/kiai seperti ayah kandungnya sendiri, sebagai-mana dikatakan dalam sebuah hadits Nabi Saw: “Dan sesungguhnyalah, orang yang mengajarmu walaupun hanya sepatah kata dalam pengetahuan agama adalah ayahmu menurut ajaran Islam”. Hadits ini memberikan justifikasi bahwa apabila santri tidak taat dan patuh pada kiainya berarti secara terang-terangan telah menyalahi apa yang telah dianjurkan oleh baginda Rasul Muhammad Saw.

Berdasarkan korpus resmi ala pesantren, seperti dijabarkan dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim dan kitab-kitab sejenisnya yang memberikan kontribusi pada sistem nilai yang dianut warga pesantren asuhan KH. Masduqi Ali, kemudian diintrodusir sedemikian rupa dalam praktek-praktek kehidupan
santri baik dalam bentuk konvensi-konvensi atau menjadi teknik-teknik disipliner sehingga menjadi tatanan etis yang mengatur hubungan kiai dan santri.

Yang terus dipelihara (reproduksi), kemudian disosialisasikan dari waktu ke waktu, dari satu generasi ke generasi berikutnya dan akhirnya
terinternalisasi pada diri setiap santri. Melalui cara itulah tertib sosial (social order) di lingkungan pesantren Miftahul Muta’allimin asuhan KH. Masduqi Ali, bisa ditegakkan.

Sedangkan tindakan apapun yang mencoba menyimpang darinya akan dicap indisipliner, mbalelo dan pantas mendapatkan sangsi (ta’zir) atau dikenakan denda. Adapun sangsi yang ada bisa dalam bentuk sangsi moral, sosial ataupun berupa sangsi fisik, seperti cukur rambut, membersihkan selokan, dan untuk kasus pelangaran yang parah bisa dipulangkan kepada orang tua (di-boyong).


Kendati demikian, haruslah diakui bahwa ketaatan mutlak kepada KH. Masduqi Ali, adalah satu disiplin yang keras dalam pengamalan tradisi sehari-hari, kebersamaan dan persaudaraan di kalangan para santri merupakan hal-hal yang esensial dalam kehidupan pesantren. Mungkin inilah gaya
indoktrinasi model pesantren.

Dapat pula dikatakan sebagai ruh yang semestinya menopang keberlangsungan hidup pesantren sehingga bisa dipertahankan sampai sekarang. Bahkan dampak pengaruh dari aturan-aturan tersebut membentuk kebiasaan yang terus melekat dan mewarnai perilaku santri hingga berpengaruh pada kehidupan setelah masa-masa tinggal di pondok dulu.

Menelusuri lebih jauh dunia pesantren, maka lazim ditemukan, bahwa pada umumnya setiap santri yang ingin belajar mengaji pada KH. Masduqi Ali akan mengatakan kalau tujuan belajar ke pesantren tidak lain karena untuk tabarukan kepada kiai. Berkah yang dimaksud itu adalah nikmat Allah Swt berupa kesuksesan dalam menuntut ilmu, yang menurut keyakinan mereka dapat diperoleh lantaran atas budi baik serta do’a-do’a yang diberikan oleh sang guru, selain berkah do’a kedua orang tua di rumah.

Menurut tradisi Miftahul Muta’allimin asuhan KH. Masduqi Ali, untuk memperoleh berkah itu pada galibnya santri akan menempuhnya melalui dua cara, yaitu; pertama, melakukan riyadhah (olah rohani). Orang Jawa menyebutnya tirakat atau laku keprihatinan (asketisisme). Pada umumnya santri yang melakukan riyadhah akan memperbanyak amalan puasa sunah, sholat-sholat sunah (qiyamul-lail) atau bacaan wirid tertentu.

Hal ini dilakukan selain sebagai upaya mensucikan kondisi rohaniah-spiritual (batin) selain sebagai upaya memperoleh berkah dari Allah Swt. Dengan riyadhah santri berupaya menapaki tangga spiritualitas untuk menjalin hubungan yang lebih dekat kepada Sang Khalik.

Kedua, melakukan pengabdian (khidmah) kepada kiai dan pesantren. Bila santri hendak menempuh cara berkhidmah maka mereka akan berusaha membantu meringankan tugas-tugas kiai/ustadz, misalnya bertindak sebagai khadamatau membantu di rumah kiai seperti, menangani pekerjaan di dapur, menjaga kebersihan rumah, merawat anak kiai, membantu pekerjaan di sawah, atau menangani pekerjaan lainnya.

Atau dengan melakukan pekerjaan yang berhubungan langsung dengan urusan pesantren, seperti membantu mengurusi administrasi dan keuangan pesantren, menjadi badal mengajar dan menangani tugas-tugas pondok lainnya.

Berbeda dengan keadaan yang biasa terjadi di luar arena pesantren, di dalam lingkungan pesantren, menjadi khadam kiai di mata penilain para santri merupakan suatu kehormatan tersendiri. Karena bermula dari sinilahlah ia bisa dekat dengan KH. Masduqi Ali. Artinya mudah diingat dalam
do’a kiai, sehingga kebanyakan para santri ‘tradisional’ tetap berkeyakinan; dengan mendapat barokah do’a dari kiai berarti semakin terbuka lebar pintu barokah Tuhan baginya dan bertambah mudahlah untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Dari sudut pandang yang lain, dapat dianalisis bahwa munculnya tradisi penghormatan (pemuliaan) terhadap sang guru/kiai sejak awal bisa dirunut dari gagasan tentang “ilmu” yang khas dalam pandang masyarakat santri. Ilmu di dalam khazanah pesantren dipahami sebagai “limpahan
karunia ketuhanan” (al-athaf rabbaniyyah) yang mengandung berkah.

Sumber ilmu adalah Allah Swt, dan tujuan utama daripada pengamalan ilmu juga dalam rangka pendekatan diri kepada-Nya. Ada sebuah ayat dalam Al-Qur’an (al-Baqarah: 269) yang menjelaskan; “wa man yu’ta al-hikmatafaqat u’tiya khairan katsira”, barang siapa dikaruniai Allah suatu hikmah atau kebijaksanaan, maka dia memperoleh kebaikan yang banyak. Dijelaskan pula dalam surat al-Mujadalah, ayat 11;“..., niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Memang demikianlah adanya dalam pandangan agama Islam, ilmu pengetahuan memperoleh kedudukannya yang sangat tinggi. Dengan mengutip sebuah Hadits Rasullah yang menerangkan tentang keutamaan ilmu, seperti termaktub dalam kitab “Irsyad al-Ibad” karangan Syaikh Zainuddin al-Malibary disebutkan, “Kepada ahli ibadah yang bukan ahli ilmu malaikat akan mempersilahkannya untuk langsung masuk ke dalam surga sendiri, namun kepada ahli ibadah yang juga ahli ilmu malaikat akan memberikan kepadanya kebebasan untuk mengajak bersama masuk ke dalam surga siapa saja yang dikehendaki”.

Berkenaan dengan itu, Syaikh Zarnuji dalam Ta’lim Al-Muta’allim, salah satu kitab klasik yang menjadi referensi utama pesantren tradisional berkomentar; “adapun sebabnya ilmu itu mulia karena ia merupakan alat (wasilah) untuk bertaqwa, yang dengan itu orang akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan kebahagian abadi dalam kehidupan di akherat kelak”.

Itulah sebabnya, orang yang berilmu disebut orang alim (Arab; al-‘alim) serta menempati kedudukan atau derajatnya yang tinggi dalam pandangan Islam yang kemudian hal ini juga sangat mempengaruhi pandangan masyarakat pesantren. Pola indoktrinasi ini pula yang sekiranya membentuk struktur berpikir (social stok of knowledge) dalam mindset Miftahul Muta’allimin asuhan KH. Masduqi Ali, sehingga memiliki corak pandangan yang berbeda dengan para sarjana atau akademisi dari kalangan kampus.

Walhasil, bahwa kewibawaan spiritual kharismatik muncul pada diri KH. Masduqi Ali, bukan diperoleh dengan tanpa usaha yang sungguh-sungguh, tetapi derajat itu diperoleh justru setelah melewati proses “dialektika kepatuhan” dalam koridor rasionalitas yang terbilang unik. Pada dasarnya hal itu muncul lantaran karena terbentuknya pola relasi kiai-santri yang besifat reprosikal dan mutualistik. Wallahu ‘alam bi al-sawab.

 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber