Biografi KH. Muhaiminan Gunardho

 
Biografi KH. Muhaiminan Gunardho

Daftar Isi Profil KH. Muhaiminan Gunardho

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Mursyid Thariqah
  7. Karomah

Kelahiran

KH. Muhaiminan Gunardho lahir pada 30 Maret 1936 di Jetis Kauman, Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung. Beliau merupakan putra R. Abu Hasan (KH. Sumomihardho), yang masih terhitung keturuan Sultan Hamengkubuwono II dengan Ibunya, Hj. Mahwiyah, putri KH. Badrun, sesepuh kota Parakan yang juga ulama berpengaruh karena kedalaman ilmu yang dimiliki.

Wafat

KH. Muhaiminan Gunardo wafat pada usia 74 tahun, atau lebih tepatnya pada 02 Oktober 2007 sekitar pukul 17.45 WIB. Beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman Kiai Parak, tidak jauh dari kediaman beliau.

KH. Muhaiminan Gunardo merupakan seorang tokoh panutan yang sangat dikenal masyarakat luas. Selain itu, beliau juga banyak memberikan sumbangan spiritual bagi kehidupan masyarakat.

Keluarga

Pada tahun 1965, KH. Muhaiminan Gunardho melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Jayyidah binti H. Anwari. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai dua putra dan tiga putri, diantaranya Hj. Su`ad Jauharoh (15 September 1960), Hj. Kausar Asyafi`ah (13 April 1964), KH. Khaidar Muhaiminan (18 Desember 1967), KH. Nauval Muhaiminan (27 Desember 1972), dan KH. Baha`Jogo Sampurno (1 Maret 1975).

Pendidikan

KH. Muhaiminan Gunardho memulai pendidikan dengan bersekolah SR (Sekolah Rakyat) di desa Parakan Kulon. Sore hari mengikuti pendidikan di Madrasah Ibtida'iyyah Al Iman masih di kota Parakan. Pendidikan SR beliau sempat terhenti karena meletusnya perang Clash I. Setelah perang selesai, beliau kemudian menyelesaikan pendidikan SR-nya di SR Mojosari Temanggung. Beliau kemudian berpindah ke Magelang untuk melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah Al Iman Magelang dan sore hari di SMP Muhammadiyah Jambon Magelang.

Karena prestasinya beliau termasuk pelajar yang mendapat kesempatan untuk belajar di Al Qahirah (Kairo) Mesir, namun karena waktu itu kurang mendalami bahasa arab dan sang Ibunda tidak mengijinkan, beliau tidak jadi berangkat. Beliau menuruti nasehat Ibu untuk meneruskan belajar di pondok pesantren.

Beliau nyantri di Pondok Pesantren Payaman asuhan Romo Agung KH. Siradj Payaman. Pendidikan beliau pada waktu itu berada di bawah pengawasan KH. Muhlasin, menantu KH. Siradj, di Pondok Jurang. Sejak usia muda KH. Muhaiminan Gunardho memiliki minat yang besar dan kegemaran belajar bela diri pencak silat.

Karena hobinya dengan pencak silat, di manapun berada, beliau menyempatkan diri untuk menuntut ilmu bela diri kepada pendekar-pendekar pencak di daerah itu. Ketika masih di Payaman Magelang, beliau berkenalan dengan Ki Marto Jotho, seorang pendekar pencak silat yang masyhur waktu itu. Seiring perjalanan waktu, hobi pencak silat ini terus beliau tekuni.

Dari Payaman beliau mengaji di Pondok Bendo, Pare, Kediri selama beberapa tahun. Dari Bendo ini beliau melanjutkan mengaji di Pondok Tebuireng, Jombang, kemudian ke pondok Dersemo Surabaya. Beliau juga tabarruk nyantri kepada Syekh Masduqi Lasem, KH. Ma’shum Lasem, KH. Baidhowi Lasem serta kepada para ulama masyhur pada zamannya.

Mendirikan Pesantren

Pada awalnya, sekitar tahun 1950, KH. Muhaiminan Gunardho mulai mengajar ngaji kitab kuning kepada pemuda-pemudi parakan. Dan dengan ilmu kepesantrenan yang dimotifasi dengan ilmu bela diri, murid beliau semakin berkembang dan bertambah.

Masyarakat menganggap bahwa kegiatan ilmu bela diri merupakan kegiatan paten khususnya bagi mereka yang masih muda. Pengajian yang diberikan lebih diprioritaskan pada ilmu nahwu shorof, fiqh dan lain sebagianya.

Lokasi pengajiannya di rumah peninggalan ayahandanya yaitu R. Abu Hasan (KH. Sumomihardho). Dorongan situasi dan lingkungan memberikan kekuatan terhadap perjuangan KH. Muhaiminan Gunardho. Sehingga kegiatan-kegiatan pengajian dan persilatan berjalan dengan rutin, menjadikan daya tarik kepada masyarakat sehingga semakin banyak masyarakat yang berdatangan.

Pada tahun 1954 dengan jumlah santri yang banyak, kemudian KH. Muhaiminan Gunardho mendirikan pondok pesantren yang beralamat di jalan Coyoudan 03 RT 01, RW 13 Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung. Pondok pesantren tersebut belum diberi nama, tetapi masyarakat parakan memanggil tempat pengajian KH. Muhaiminan dengan sebutan "Nggone Mbah Parak".

Beliau sendiri sebenarnya pernah memberi nama dengan "Manba'ul Falah", namun nama ini hilang karena orang lebih suka memanggil Pondok Kiai Parak. Dengan mengenang sejarah Bambu Runcing, dimana ayahanda beliau termasuk pelopornya, jadilah nama tersebut menjadi “Pondok Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing”.

Kisah penamaan Pondok Pesantren Kiai Parak Bambu Runcing, sebenarnya terdiri dari dua kelompok kata yaitu “Kiai Parak” dan “Bambu Runcing”. “Kiai Parak” diambil dari tokoh pembuka pertama kota Parakan, sedangkan “Bambu Runcing” diambil dari kegiatan perjuangan para ulama Parakan di masa-masa perjuangan.

Mursyid Thariqah

Dengan mengikuti jejak Mbah Dalhar Watucongol, KH. Muhaiminan Gunardo juga diangkat menjadi mursyid Tarekat Sadziliyah dan Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang bersanad sampai ke Rasulullah SAW. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Jami'yyah Thariqoh Muqtabaroh An-Nahdliyyah serta pimpinan thoriqoh Syadziliyah.

Karomah

Kemasyhuran KH. Muhaiminan Gunardo dan pesantrennya dalam dunia spiritualitas memang telah membuah bibir. Di luar aktivitas keilmuan dan kanuragan, pesantren yang terletak di dataran tinggi eks Karesidenan Kedu ini selalu ramai dikunjungi orang. Baik yang hendak berkonsultasi masalah kehidupan, berguru ilmu hikmah, maupun untuk mengaji tasawuf kepada KH. Muhaiminan Gunardo.

Ketika masyarakat dihebohkan dengan pembunuhan Kiai pada tahun 1999, yang terkenal sebagai “kasus ninja”,  KH. Muhaiminan Gunardo menjadi tujuan utama warga Nahdliyin yang ingin belajar membentengi diri. Seakan telah mendapat amanah dari Allah SWT, ulama Parakan secara turun-temurun selalu menjadi benteng pertahanan terakhir umat dalam menghadapi berbagai kesulitan.

KH. Muhaiminan Gunardo merupakan Kiai yang identik dengan ilmu hikmah dan kanuragan. Salah satu Karomah Kiai khos ini adalah ketika bermain pencak silat, orang disekitarnya merasakan tanah disekeliling beliau bergetar seperti ada gempa bumi. Salah satu ilmu andalan Beliau adalah Sasra Birawa yaitu ilmu tenaga dalam yang dapat memecahkan benda keras dari jarak jauh seperti ilmu yang dimiliki Mahesa Jenar.