Biografi KH. Abdullah Syathori

 
Biografi KH. Abdullah Syathori

Daftar Isi Profil KH. Abdullah Syathori

  1. Kelahiran
  2. Nasab KH. Abdullah Syathori
  3. Wafat
  4. Keluarga
  5. Pendidikan
  6. Mendirikan Pesantren
  7. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  8. Melakukan Pemberdayaan Perempuan

Kelahiran

KH. Abdullah Syathori atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Kiai Syathori lahir pada tahun 1905 di dusun Lontang Jaya, desa Panjalin, Majalengka. Tiga Km sebelah barat Babakan Ciwaringin Cirebon. Meski tidak diketahui secara pasti tanggal dan bulan kelahirannya, beberapa sumber menyebutkan beliau lahir pada hari Sabtu, sehingga beliau mendapat julukan pada waktu kecil, yaitu ‘tunen’ merupakan kependekan dari ‘metu sabtu puput senen’.

Mbah Kiai Syathori terlahir dari keluarga ulama dan bangsawan. Darah ulama mengalir dari jalur ayahnya KH. Sanawi bin Abdullah bin Muhamad Salabi dari Lontang Jaya. KH. Sanawi adalah seorang ulama penghulu yang merintis berdirinya Pondok Pesantren Dar Al-Tauhid dengan mendirikan langgar (musholla).

Meski perpindahan domisili beliau ke Arjawinangun belum di ketahui secara pasti, akan tetapi dari hipotesa yang berdasarkan pekerjaan, beliau berpindah karena tugas seorang penghulu sementara. KH. Abdullah bin KH. Hasanuddin (KH. Muhammad Salabi) kakek Mbah Kiai Syathori adalah sosok ulama dan pejuang di zamannya dalam mengusir penjajah, terutama ketika terjadi ‘Perang Kedongdong’.

KH. Abdullah dan beberapa para kyai lain turut terjun ke medan peperangan, meski banyak yang gugur namun KH. Abdullah terhitung tokoh ulama yang selamat. Dari jalur ibu, mbah kyai Syathori merupakan ulama berdarah bangsawan. Ibundanya, Nyi Hj. Arbiyah putri kiai Abdul Aziz bin Arja’in adalah keturunan Sultan Banten dari Sura Manggala yang memerintah kesultanan Banten pada tahun 1808.

Dan pada ujung silsilah Mbah Kiai Syathori bertemu dengan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Mbah Kiai Syathori hidup dalam suasana keagamaan dan displin pendidikan ilmu yang tinggi. Berkat kecerdasan dan didikan orang tuanya, Mbah Kiai Syathori telah mampu menghafal Juz ’Amma dengan fasih. Selain dikenal sebagai anak yang cerdas dan rajin belajar, Mbah Kiai Syathori kecil juga dikenal sebagai anak periang dan suka berolahraga, khususnya sepak bola.

Nasab KH. Abdullah Syathori

  1. Sunan Gunung Jati Cirebon
  2. Maulana Hasanudin
  3. Maulana Yusup
  4. Muhammad
  5. Sultan Al-Makhir
  6. Sultan Abdul Ma’ali
  7. Sultan Ageng Tirtayasa
  8. Sultan Abu Nasiri
  9. Sultan A. Mahasyim
  10. Sultan M. Syifa
  11. Sultan Kuh-Arif
  12. K. Agung Sanawi
  13. Kyai Sholeh Penghulu Cirebon
  14. Kyai Arja’in Penghulu Kesepuhan
  15. Abdul Aziz Penghulu Kesepuhan
  16. Hj. Arbiyah binti Kyai Abdul Aziz (menikah) KH. Sanawi bin Abdullah bin Muhamad Salabi.
  17. Abdullah Syathori 

Wafat

Tepat pada hari Kamis, tanggal 6 Februari 1969 M atau 19 Dzulqa’dah, Mbah Kiai Syathori berpulang ke Rahmatullah. Hari itu adalah hari berkabung bagi masyarakat Arjawinangun khususnya, dan masyarakat muslim Cirebon pada umumnya. Kepulangan beliau karena penyakit jantung yang dideritanya. Masyarakat sangat kehilangan karena wafatnya.

Banyak kisah menarik disebutkan seputar wafatnya Mbah Kiai Syathori, diantaranya adalah saat menjelang pemakaman beliau. Saat itu Arjawinangun bagai lautan manusia. Semua masyarakat mengungkapkan kesedihannya dengan menghantarkan kiai tercinta ke maqbarah. Sepanjang rumah Mbah Kiai Syathori hingga ke maqbarah Kiruncum sekitar 1 Km dipenuhi manusia yang mengantarkan jenazah.

Lembaga pemerintahan, institusi pemerintah dan swasta di Arjawinangun dan Junjang pada hari itu meliburkan diri, turut berduka atas wafatnya Mbah Kiai Syathori. Bukan hanya itu, santri dan msyarakat mendo’akan beliau dengan membaca al-Qur’an di maqbarah selama 40 hari secara terus menerus.

Ada kesaksian yang unik yang di ceritakan H. Sayidi, salah seorang staf pengajar pesantren saat masih dipimpin Mbah Kiai Syathori. Menurutnya tanda-tanda Mbah Kiai Syathori wafat jelas diisyaratkan oleh Mbah Kiai Syathori sendiri. Dengan beberapa indikasi:

  1. Setengah bulan sebelumnya, Mbah Kiai Syathori minta orang-orang dari desa Gintung untuk datang dan melakukan bersih-bersih di pesantren dan rumah pengasuh. Ini dilakukan dengan alasan bahwa beliau akan kedatangan tamu, manusia yang sangat banyak jumlahnya.
  2. Tiga hari sebelum wafat, Mbah Kiai Syathori menyatakan bahwa beliau akan membangun Pesantren yang tidak ada di dunia ini.
  3. Pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.00 WIB pada hari wafatnya Mbah Kiai Syathori menyatakan bahwa dirinya akan tidur untuk selama-lamanya.

Sekitar pukul 11.00 WIB kemudian beliau pulang ke Rahmatullah. H. Sayidi juga menceritakan bahwa banyak Kiai-Kiai Cirebon dan luar Cirebon untuk berta’ziyah, mensholatkan, dan mengantarkan ke maqbarah. KH. Sanusi dari pesantren Bababkan Ciwaringin datang dengan para santrinya dengan berjalan kaki.

Rombongan ta’ziyah dari Pesantren Buntet dipimpin KH. Hawi. Setelah selesai melaksanakan sholat jeazah untuk almaghurlah Mbah Kiai Syathori, KH. Hawi berbicara di hadapan santri dan para hadirin semua.

Beliau menyatakan bahwa : “Mbah Kiai Syathori ini kelihatannya saja meninggal, tetapi sesungguhnya masih hidup “bal ahya’un ‘inda rabbikum”. Buktinya apa? Lah, wong aku salam kok Kyai Syathori malah menjawabnya. Mayit mana yang bisa menjawab salam? Almarhum ini sungguh bukan manusia biasa seperti kita-kita ini”.

Keluarga

Mbah Kiai Syathori melepas masa lajangnya dengan menikahi Ny. Hj. Masturoh binti Adzro’i bin Muhammad Nawawi (Ki Glembo). 

Ny. Hj. Masturoh adalah santri putri cerdas yang sejak kecil dibesarkan dan dididik oleh ibunya sendiri yaitu Ny. Hj. Miryati binti H. Said dan juga bersama dengan ayah tirinya, KH. Rofi’i bin KH. Nawawi Kali Tengah Karena Ny. Hj. Masturoh ditinggal ayah kandungnya, KH. Adzro’i, sejak kecil. KH. Adzro’i dan KH. Rofi’i sediri adalah kakak beradik.

Pernikahan Mbah Kiai Syathori dengan Ny. Hj. Masturoh diduga kuat berlangsung pada tahun 1927. Mbah Hasyim Asy’ari hadir dalam acara akad nikah atas undangan KH. Rofi’i. Setelah melaksanakan akad nikah, atas dorongan orang tua dan mertuanya, Mbah Kiai Syathori pergi ke baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, pesta pernikahan diselenggarakan secara meriah pada tahun 1928.

Selanjutnya untuk beberapa lama Mbah Kiai Syathori menetap di Kali Tengah Plered Cirebon. Ini dikarenakan selain Mbah Kiai Syathori mengikuti keluarga istrinya di Kali Tengah, juga karena Mbah Syathori mengikuti tradisi kesantrian dan keulamaan di Cirebon.

Pendidikan

Menginjak usia remaja, orang tua Mbah Kiai Syathori mengirimkannya ke beberapa pesantren untuk menimba ilmu pengetahuan agama. Untuk pertama kalinya, Mbah Kiai Syathori menimba ilmu di pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, khususnya kepada KH. Ismail bin Adzro’i bin Nawawi dan juga kepada KH. Dawud, murid KH. Kholil Bangkalan.

Setelah dari Babakan, Mbah Kiai Syathori menimba ilmu di pesantren Ciwedus, Cilimus Kuningan, di bawah asuhan KH. Sobari (1916), yang juga murid KH. Kholil Bangkalan. KH. Sobari adalah ulama yang kharismatis pada zamannya, banyak ulama Jawa Barat yang belajar kepadanya. Selain Mbah Kiai Syathori, muridnya yang lain adalah KH. Sanusi yang kemudian menjadi ulama kharismatis di babakan ciwaringin dan KH. Abdul Halim. 

Mbah Kiai Syathori sangat mengagumi dan terpengaruh oleh KH. Sobari, terutama dalam melantunkan lagu-lagu barzanji (marhabanan) yang dilakukan secara ekspresif dan juga melalui sikap mencintai serta menghormati keluarga dan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Merasa tidak puas hanya belajar di Pesantren Cirebon dan sekitarnya, Mbah Kiai Syathori melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Jamsaren Solo, asuhan KH. Idris Jamsaren murid KH. Sholeh Darat Semarang. Secara bersamaan, Mbah Kiai Syathori juga sekolah di Mambaul ‘Ulum yang terletak di Kauman dekat Keraton Solo, Jawa Tengah. Madrasah ini didirikan atas kerjasama kolonial dengan Keraton Surakarta Hadiningrat, dengan tujuan meluluskan calon ulama sekaligus juga penghulu.

Di Jamsaren Solo inilah karakter keilmuan dan kealiman Mbah Kiai Syathori mulai terbentuk. KH. Idris di kenal sebagai kiai spesialis dalam bidang ilmu fiqh (Islamic Law) dan Bahasa Arab. Dari KH. Idris lah, Mbah Kiai Syathori banyak belajar dan rajin ngaji, menghafal, serta muthala’ah berbagai kitab. Bangunan pengetahuan (Epistemologi keilmuan) Mbah Kiai Syathori mulai terbentuk di sini.

Selanjutnya Mbah Kiai Syathori belajar di Pesantren Tebuireng yang waktu itu diasuh oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, murid istimewa KH. Kholil Bangkalan. Selain dikenal sebagai pendiri NU, Mbah Hasyim juga dikenal sebagai tokoh pembaharu pendidikan Pesantren.

Selain mengajarkan ilmu agama dalam Pesantren, Mbah Hasyim juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato. Meski sempat mendapat kecaman dari kolonial, Pesantren Tebuireng menjadi masyhur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah.

Di Pesantren Mbah Hasyim inilah Mbah Kiai Syathori memiliki kesempatan langsung untuk belajar dan memperkaya kajian dan bacaan keilmuan. Kitab tafsir besar seperti Tafsir Baidlawi dan kitab-kitab yang dikembangkan di Makkah pada waktu itu dikenalkan dan dikaji di pesantren ini. Sebagai kitab yang digunakan sebagai pegangan mengaji di pesantren ini, sehingga memiliki sanad yang langsung (muthasil) sampai kepada penulisnya (Mushanif).

Dalam hal ini, Mbah Hasyim mengijazahi Mbah Kiai Syathori dengan kata-kata “ijazah ammah wa muthlaqah tammah’’ yang tertulis dalam kitab al-Kifayah al-Mustafid dengan maksud menerangkan sanad kitab karya KH. Mahfudz Termas.

Selain belajar, mengaji, dan muthala’ah di pesantren Tebuireng, Mbah Kiai Syathori juga di percaya Mbah Hasyim untuk mengajar Alfiyah ibn Malik. Di antara santri yang mengaji padanya adalah KH. Muhammad Ilyas, mantan Mentri Agama pada zaman Orde Lama, dan putra gurunya sendiri yang juga mantan menteri agama RI, yakni KH. Wahid Hasyim bin KH. Hasyim Asy’ari.

Mbah Hasyim senang dan kagum dengan cara mengajar Mbah Kiai Syathori. Hingga dalam suatu kesempatan Mbah Hasyim berkata di hadapan para santri: “Arek-arek Cirebon, Indramayu lan liyan-liyane, yen ora bisa belajar maring aku, cukup kae karo Syathori”.

Tidak hanya demikian, Mbah Kiai Syathori pun berniat belajar ke guru dari guru-gurunya, yaitu KH. Kholil Bangkalan. Mbah Kiai Syathori sempat bertemu pada pengajian pasaran bulan ramadhan di pesantren Madura.

Saat itu, KH. Kholil  membaca doa, para santri termasuk Mbah Kiai Syathori serentak mengamininya. Kemudian Mbah Kiai Syathori bertekad akan mengikuti pegajian KH. Kholil pada bulan Syawal berikutnya. Namun sebelum Syawal itu tiba, Mbah Kholil Bangkalan yang dikenal sebagai wali Madura Jawa itu berpulang ke rahmatullah pada tahun 1925.

Mbah Kiai Syathori memang sangat mengagumi KH. Kholil Bangkalan. Mbah Kiai Syathori menyatakan bahwa dalam tubuh dan perut gemuk Mbah Kholil, kalau dibedah, isinya nadzam Burdah dan Alfiyah. Mbah Kholil memang sejak muda dikenal hafal seribu deret Nadzam Alfiyah ibn Malik dengan sangat baik. Bahkan hafal meski dibaca secara terbalik, dari nadzam akhir secara runtut ke nadzam yang pertama, atau dalam istilah Jawa disebut nyungsang.

Mendirikan Pesantren

Setelah beberapa lama tinggal di Kali Tengah Plered Cirebon, Mbah Kiai Syathori kemudian pindah ke daerah asalnya yaitu Arjawinangun Cirebon. Perpindahan ini dimungkinkan karena dua hal. Pertama, karena permintaan ayahandanya KH. Sanawi agar beliau mengembangkan ilmu di daerah asalnya.

Kedua, karena Kali Tengah Plered pada dasarnya adalah daerah perdagangan dan bisnis, sementara pribadi Mbah Kiai Syathori tidak terlalu cenderung pada bisnis. Karena itu, Mbah Kiai Syathori memilih Arjawinangun karena kecenderungannya pada pengembangan keilmuan. Ini terjadi pada tahun 30-an.

Mbah Kiai Syathori, pendiri dan pengasuh Pesantren Arjawinangun, adalah sosok Kiai yang tidak terlepas dari karakter dan prilaku khas para kiai Pesantren.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Mbah Kiai Syathori bukan hanya kiai Pesantren yang bergelut dengan lembaran-lembaran kitab kuning, tetapi juga aktif dalam ranah sosial dan politik dengan telibat aktif di NU antara tahun 50-an hingga 70-an. Mbah Kiai Syathori pernah menjadi Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Beliau juga dikenal dengan ide-ide dan langkah progresifnya. Sebut saja sikap yang diambilnya dalam menghadapi persoalan pada saat itu, di mana orang diharamkan menulis al-Qur’an dengan kapur tulis karena takut debunya diinjak-injak saat dihapus. Hampir seluruh Kiai Cirebon mengharamkan menulis al-Qur’an dengan kapur tulis. Namun Mbah Kiai Syathori menghalalkan dan melakukannya.

Selain itu, Mbah Kiai Syathori juga dikenal sebagai kiai kharismatik, santri kesayangan, dan santri teladan Mbah Hasyim Asy’ari. Karena itulah, Mbah Kiai Syathori sangat dihormati, disegani, dan menjadi rujukan umat dan birokrasi negara dalam hal-hal yang terkait dengan hukum syara’. Menurut para santrinya, masyarakat sangat segan dan hormat kepada beliau.

Melakukan Pemberdayaan Perempuan

Mbah Kiai Syathori juga melakukan langkah-langkah khusus, yang sekarang ini bisa disebut Pemberdayaan Perempuan. Ini dilakukan dengan menyelenggarakan pengajian keagamaan secara khusus bagi perempuan. Mbah Kiai Syathori dikenal sangat tekun dan teliti dalam memperhatikan, memelihara, dan mengembangkan pengajian dan madrasahnya. Jika memiliki jadwal mengajar, beliau tidak pernah meninggalkan kelas, sampai para siswanya memahami dengan baik apa yang disampaikannya.

Beliau mendedikasikan seluruh hidup dan waktunya untuk mengajar dan mengembangkan Pesantren. Setiap waktu shalat, beliau selalu memimpin para santrinya berjama’ah, kecuali ada udzur. Sehabis jama’ah Subuh, beliau mengajarkan al-Qur’an kepada para santrinya sampai pukul 06.30. Selanjutnya, dari 08.00 – 10.00 beliau mengadakan pengajian kitab dengan pola madrasah untuk santrinya yang dewasa.

Setelah itu, beliau mengadakan pengajian kitab dengan pola yang sama untuk para santri yang kecil hingga pukul 12.00. Setelah istirahat sejenak, beliau memimpin shalat Dzuhur. Mulai sekitar pukul 13.00, kegiatan beljar mengajar bagi para santri dilakukan lagi sampai pukul 17.00. Setelah jama’ah Maghrib, beliau kembali mengadakan pengajian kitab kuning sampai pukul 20.00. Waktu yang tersisa dipergunakan untuk istirahat, kadang untuk menerima tamu.

Di usia 50-an, Mbah Kiai Syathori semakin istqomah hidupnya. Kegiatannya tidak lain di seputar musalah, Pesantren. Dan setiap habis sholat Jum’at, beliau berziarah ke maqbarah ayahnya, KH. Sanawi. Setelah itu, beliau mampir ke rumah-rumah penduduk, untuk sekedar berbincang-bincang ringan, menyelami dan melayani masalah yang mereka hadapi.

Sumber:  

  • Dzikroyat, cetakan ke-29 tahun 1435 H/2014 M.
  • Buku Pemandu Kitab Kuning 2007, penulis Prof. DR. A. Chozin Nasuha, M.A
 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya