Biografi KH. Imam Faqih Asy’ari

 
Biografi KH. Imam Faqih Asy’ari

Riwayat dan Kelahiran

KH. Imam Faqih Asy’ari adalah seorang yang berhasil dalam hidupnya, alim arif dan bijaksana dalam segala langkahnya, sudah semenjak kecil beliau diberi nama Imam Faqih, lahir di sebuah desa yang tak jauh dari kota Pare, tepatnya di desa Tertek kecamatan pare kabupaten kediri. Beliau lahir pada hari Senin legi tanggal 01 Januari 1917 M Bertepatan pada tanggal 07 Robiul awal 1335 H. di tengah–tengah lingkungan yang alami, keluarga yang islami, penuh dengan kesederhanaan pada kehidupan kedua orang tua beliau, bukan kesederhanaan karena tidak punya harta sama sekali atau keterpaksaan sebagaimana pola hidup yang sering kita lihat.

Memang kedua orang tua beliau yang bernama H. Asy’ari dan Nyai Hj. Halimah itu selalu dalam kesederhanaan. Hal ini beliau lakukan dalam rangka meriyadlohi putra-putri beliau. Beliau setiap harinya selalu bepuasa kecuali hari-hari yang diharomkan. Suatu hal yang sangat sensitif sekali, bahkan perlu dicatat bahwa beliau bapak H. Asy’ari sangat mencintai Kyai atau Ulama’. Ini diwujudkan ketika sudah memiliki dua putra.

Semenjak kecil beliau KH.Imam Faqih Asy'ari sudah dididik oleh orang tuanya dengan disiplin agama, terutama tentang membaca Al-qur'an dan Al Barzanji. Disamping itu beliau rajin mengaji kepada K. Danuri ( Semanding Pare).

Berkelana Menuntut Ilmu

Sekitar tahun 1925 M, tepatnya beliau masih berumur 8 tahun, dan dalam keadaan belum dikhitankan, beliau sudah mulai menyelami samudra keilmuan religi yang begitu luas lagi dalam. Dengan satu tekad yang tak tergoyahkan, beliau nyantri di pesantren Tebu Ireng Jombang yang saat itu masih diasuh oleh KH.Hasyim Asy'ari seorang 'Alim 'Allamah yang merupakan pendiri Jam'iyyah NU.

Dengan padas kurun itu, pesantren Tebu Ireng merupakan suatu pesantren yang bisa dikata begitu maju. Ini terbukti dengan diterapkannya sistem pendidikan yang memadukan antara pendidikan modern yang berupa madrasah dan sistem klasik yang berupa sorogan, bandungan, halaqoh dan ngaji weton.

Kedatangan Kiai Imam faqih Asy'ari di Tebu Ireng ditemani oleh kakak kandungnya yaitu Nyai Hj. Fatimah. Ketika itu beliau masih berusia 10 tahun. Sampai di Tebu Ireng beliau bertempat di Ndalem Kiai Alwi ( adik kandung KH. Hasyim Asy'ari ). Dalam pergaulan pesantren beliau juga ditemani oleh rekan sedaerahnya yaitu Bp. Muhsin ( putra H. Anwar Tretek ). Sesaat setelah beliau berdiam di Ndalem Kiai Alwi, dengan penuh kesungguhan,beliau langsung masuk di Madrasah salafiyyah di Sifir awal dan tsani hingga kelas lima, adapun pelajarannya beliau ilmu Tajwid dan setingkatnya.

Sebelum beliau menamatkan sekolah MI pada tahun 1930 M. dalam kesehariaannya beliau bergantung kepada kakaknya, karena beliau saat itu masih kanak-kanak. Namun hal itu tak terulang lagi setelah beliau tamat sekolah MI.

Setelah mereka menamatkan belajarnya di tingkat Ibtidaiyyah di Tebu Ireng,sebagian ada yang pindah ke Lembaga Pendidikan yang lain dan sebagian meneruskan belajarnya di Tebu Ireng. 

Pada tahun 1933 M, Beliau mulai nyantri di pondok Lirboyo. Pindahnya beliau dari Tebu ireng bukan karena menghindari tugas, ( sebab beliau mandengar dari temannya bahwa beliau akan diangkat jadi guru atau pembantu kiai ) atau beliau takut dita'zir atau diusir. tetapi semua itu semata-mata dilakukan beliau karena sifat tawadu'nya yang merasa belum mampu.

Namun kenyataannya tak sesuai dengan harapan beliau karena baru tujuh bulan di Lirboyo beliau dipanggil oleh Kiai Jauhari (ayah Gus Ma'sum) untuk diberi amanat : Faqih…! Koe saiki kudu mu lang moco lan nulis marang bocah cilik-cilik iku ! ( Faqih kamu sekarang harus mengajar membaca dan menulis kepada anak-anak kecil ). Dengan sepontan dalam hati kecil beliau beliau berkata : aku ngalih soko Tebu ireng kerono kanggo nambah ilmu, e weruh-weruh pak kiai nindakake amanat marang aku. Ya…Allah mugi-mugi panjenengan tulung kulo lan jiwo kulo.

Timbulah kebingungan dalam hati beliau karena tujuan pindah ke Lirboyo untuk menambah ilmu, tapi malah mendapat amanat dari Kiai Jauhari. Setelah direnungkan secermatnya lantas beliau menyadari, Mungkin dengan jalan ngajar inilah ilmuku akan bertambah. Akhirnya beliau berkenan memenuhi amanat dari kiainya. Semua itu beliau lakukan dengan rasa tulus, ikhlas dan ridla Allah semata.

Terangkatnya beliau KH. Imam Faqih Asy'ary menjadi guru di Lirboyo adalah sebuah sosok seorang santri yang mempunyai jiwa besar dan hormat pada orang tuanya, ini terbukti begitu beliau terangkat menjadi guru, beliau terus pulang guna berpamitan dan sungkem kepada orang tuanya, kemudian berangkat lagi ke Lirboyo untuk memenuhi tanggung jawabnya.

Disamping diangkat menjadi guru beliau juga diberi tugas mendirikan suatu lembaga pendidikan berbentuk madrasah, hal ini bukan berarti beliau adalah pendiri pertama Madrasah Lirboyo, karena sebelumnya lembaga Madrasah di Lirboyo yangsudah pernah didirikan sebanyak tujuh kali. Namun begitu setelah didirikan lalu mati entah apa sebabnya.

Jadi dalam hal ini beliau hanyalah sebagai orang yang pertama menstabilkan dan mengefektifkan lagi lembaga Madrasah di pondok Lirboyo, maka ustadz Imam Faqih kemudian hari ditunjuk oleh kiai sebagai Roisul Madrasah (Kepala madrasah). Sedangkan sistem pendidikan di Madrasah Lirboyo disamakan dengan Madrasah salafiyah Syafi'iyah Tebu Ireng -Jombang .

Di Lirboyo Mbah Faqih terkenal sebagai seorang guru yang telaten. Waqila, belum pernah ditemukan seorang guru yang sangat telaten seperti halnya Mbah Faqih baik dalam mengajar 'amrithy, Alfiyah, Jauharul Maknun serta 'Uqudul Juman. Semuanya memakai sistim imla' setiap 9/10 bait ditulis terus diberi ma'na gandul kemudian pada keesokan harinya setiap murid harus berdiri disampingnya Mbah Faqih untuk hafalan.

Proses seperti ini selalu di lakukannya setiap hari. Bukti ketelatenan beliau yang lain misalnya dalam mengajar beliau sering memberi tafsiran yang dalam setiap seminggu sekali buku dari siswa-siswa di kumpulkan (waktu mengembalikan biasanya pada hari sabtu). Anehnya tidak satupun yang terlewatkan dalam pengoreksiannya.

Pernikahan Beliau

Tepatnya pada hari Kamis bulan J. Akhir tahun 1942 M. Mbah faqih pulang dari Lirboyo untuk membaktikan diri kekampung halamannya. Selang lima hari terhitung dari kepulangannya dari Pon.Pes Lirboyo beliau melaksanakan sunah Rasul atau Nikah dengan seorang Ning berasal dari Jombangan Pare ( Putri Kiai Abu Umar ) Pengasuh Pon.Pes Miftahul Ulum. Setelah menjadi menantu kiai Abu Umar beliau mendapat mandat penuh dari sang mertua untuk membantu proses belajar di Pondok Jombangan.

Setelah mendapat kepercayaan penuh beliau mbah Imam Faqih langsung mendirikan madrasah pada bulan Syawal. Walaupun sebelumnya sudah ada Madrasahnya, namun hanya untuk anak-anak kecil. Dengan kedatangan mbah Imam Faqih, Mardasah di Jombangan stabil, tertib dan lebih maju serta berkembang. Untuk menarik simpati, Madrasah dimasukkan sore, beliau bukan saja membantu di Madrasah namun juga membantu pelaksanaan pengajian kitab kuning hingga tampak lebih maju. meski demikian, beliau tetap rutin pada hari kamis datang ke pondok Lirboyo untuk sowan kepada kiainya.

Merintis Pesantren di Sumbersari Kediri

Dengan berbekal sejumlah santri, pendidikan klasikal atau madrasah umum pada mulanya han- ya dibuka pada klas 1V Ibtidaaiyyah dan klas V ibtidaaiyyah. Dalam pelaksanaan pendidikan ini belum ada tempat kokoh. Waktu itu dikediaman beliau masih berupa rumah kecil yang berdinding bambu, dan sebelah baratnya ada bangunan tak berdinding. Tempat ini merupakan tempat pendi dikan setiap harinya sebagai ajang menuntut ilmu.

Mengingat sikon yang seperti ini, para santri tak tinggal diam, merekapun harus berusaha memper baiki keada an untuk sarana pendidikan. Searah dengan berjalanya waktu, sekitar kurang dari 5 bulan didirikan bangunan baru yang lebih baik. Setelah selang beberapa bulan pandidikan madrasah berjalan lancar, maka nama beliau mulai dikenal masyarakat sekitar.

Dan akhirnya banyak santri datang dari luar daerah dengan tujuan menuntut ilmu. setelah melihat keadaan yang seperti itu, be liau mengambil kebijaksanaan untuk mengelola adanya pendidikan yang mengarah lebih maju. Maka diusahakan pengajar dari murid yang sudah mampu untuk membantu memberikan pendidikan dikelas bawahnya. Diantara tenaga pengajar tadi adalah:

1. Bpk. Sirojuddin.
2. Bpk. Khamim.
3. Bpk. Toha.
4. Bpk. Mukhtar.
5. Bpk. Abdul Karim.

Pada tahun 1949 M. Pendidikan rutin sempat terlambat dengan terjadinya Agresi. Setelah keadaan dirasa cukup aman, pendidikanya segera di lanjutkan kembali dan didirikan pula sebuah mushola yang sederhana dan terbangun dari bambu. Kemudian pada tahun 1957 M. beliau mulai membuat madrasah dan pondok yang berada disebelah utara mushola yang sampai sekarang masih berdiri kokoh ( kamar umum ).

Setelah itu, beliau Kiai Imam Faqih Dan Kiai Khamim berinisiatif untuk memberi nama madrasah tersebut  beliau berdua selalu bermusyawarah dengan melihat lingkungan sekitar yang banyak ditanami pohon salam, maka beliau berdua mendapatkan inspirasi bahwa madrasah tersebut diberi nama '' MADRASAH ISLAAMIYYAH DAARUSSALAMAH".

Sekitar beberapa bulan setelah agresi Belanda keadaanpun mulai pulih kembali seperti sediakala. Maka pendidikan segera dimulai, dan didirikan pula musholla yang sederhana ( terbuat dari bambu ). Bersama dengan berputarnya waktu para santri terus bertambah dan mengakibatkan pondokan dari bambu sudah tidak muat lagi untuk menampung.

Hal inilah yang mendorong hasrat beliau untuk membangun pondokan yang permanen. Baru pada tahun 1958 M. beliau berhasil membangun pondokan yang bahannya diambil dari bekas rumah beliau didesa Tretek Pare. Lokasi bangunan tersebut berada disebelah utara musholla, dan sampai sekarang masih berdiri kokoh ( kamar umum ).

Pada awalnya Pondok Pesantren DARUSSALAM menyelengarakan pendidikan salaf saja yaitu : PAUD/TK dan Madrasah Diniyah Salafiyah/Klasikal ( MI,MTs, MA & MMD ). Kemudian pada tahun 1993 menyelengarakan Pendidikan Kesetaraan melalui Program Wajar Dikdas Salafiyah 9 tahun (tingkat ULA/SD, WUSTA/SMP & MA MU’ADALAH/SMA serta Program Paket C).

Kemudian pada tahun 2013 berdirilah Perguruan Tinggi STISFA (Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Faqih Asy’ari) sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agara RI, Nomor : 779 Tahun 2013, tentang Persetujuan Pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta tahun 2013.

Menunaikan Ibadah Haji

Pada tahun 1960 M. Mbah Faqih berkeinginan menunaikan ibadah Haji. Dengan segala persiapanya beliau mendaftarkan diri secara resmi melalui undian, tapi ternyata undian beliau tidak keluar saat itu. Maka beliau mengoper alihkan de- ngan membuat balai rumah. Setelah membangunnya selesai, beliau mengikuti undian Hajji lagi.

Alhamdulillah, undian kali ini memberi kesempatan pada beliau untuk menunaikan jbadah Haji dengan menaiki kapal laut. Hal ini terjadi pada tahun 1961 M. Sepulang dari tanah suci beliau merehab dan memperluas mushola yang tadinya terbuat dari bambu diganti dengan tembok, terjadi pada tahun 1962 M.

Pulang ke Rahmatullah

Setelah berhasil mengkoordinir pondok dan madrasah yang syarat dengan kemajuan dari ber bagai aspek dengan sistem pendidikan Islami Syalafi telah membawa kemenangan gemilang dalam mencetak generasi islam yang bermutu dan siap pakai. Dan menjadi sunnatulloh yang tak mungkin lagi kita ingkari bahwa alam telah berubah.

Setiap sesuatu yang berubah itu baru. maka sudah tak hayal lagi jika, semakin hari umur kita berkurang dan kondisi semakin melemah yang akhirnya semakin tak berdaya.

Begitu juga yang dialami mbah Faqih, dari hari ke hari kondisi beliau semakin melemah disebabkan kesehatan yang semakin berkurang sehingga sudah tidak memungkinkan lagi melakukan aktifitas sebagaimana sebelumnya, dan beliau lebih banyak baristirahat selama kurang lebih empat bulan terakhir sebelum kewafatan beliau.

Di tengah-tengah para santri sedang giat-giatnya belajar dan memusatkan fikiran demi keberhasilannya dengan suasana alam yang diselimuti kabut pagi dan dinginnya sisa angin malam, beliau telah kembali ke pangkuan Illahi Robbi dengan tenang. Tepatnya pada hari ahad tanggal 27 Dzul hijjah pukul 03.00 dini hari dalam usia 80 tahun.

 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber