Biografi KH. Imam Faqih Asy’ari

 
Biografi KH. Imam Faqih Asy’ari

Daftar Isi Profil KH. Imam Faqih Asy’ari

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren

Kelahiran

KH. Imam Faqih Asy’ari lahir pada hari Senin legi tanggal 01 Januari 1917 M atau  07 Robiul awal 1335 H di desa Tertek, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Asy’ari dengan Nyai Hj. Halimah.

Wafat

KH. Imam Faqih Asy’ari wafat pada hari Ahad tanggal 27 Dzulhijjah pukul 03.00 dini hari, di usianya yang ke 80 tahun.

Keluarga

KH. Imam Faqih Asy’ari melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang Ning berasal dari Jombangan Pare (Putri Kiai Abu Umar) Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Beliau menikah pada hari Kamis bulan Desember 1942 M.

Pendidikan

Semenjak kecil beliau KH. Imam Faqih Asy'ari sudah dididik oleh orang tuanya dengan belajar disiplin agama, terutama tentang membaca al-Qur'an dan Al Barzanji. Disamping itu beliau rajin mengaji kepada K. Danuri (Semanding Pare).

Kemudian, sekitar tahun 1925 M, tepatnya beliau masih berumur 8 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya dengan nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy'ari.

Kedatangan KH. Imam Faqih Asy'ari di Tebuireng ditemani oleh kakak kandungnya yaitu Nyai Hj. Fatimah. Selama di Tebuireng, beliau bertempat di Ndalem KH. Alwi (adik kandung KH. Hasyim Asy'ari).

Dalam pergaulan pesantren beliau juga ditemani oleh rekan sedaerahnya yaitu Bp. Muhsin (putra H. Anwar Tretek). Sesaat setelah beliau berdiam di Ndalem KH. Alwi, dengan penuh kesungguhan, beliau langsung masuk di Madrasah salafiyyah di Sifir awal dan tsani hingga kelas lima, adapun pelajarannya beliau ilmu Tajwid dan setingkatnya.

Sebelum beliau menamatkan sekolah MI pada tahun 1930 M. dalam kesehariaannya beliau bergantung kepada kakaknya, karena beliau saat itu masih kanak-kanak. Namun hal itu tak terulang lagi setelah beliau tamat sekolah MI.

Setelah mereka menamatkan belajarnya di tingkat Ibtidaiyyah di Tebuireng, sebagian ada yang pindah ke Lembaga Pendidikan yang lain dan sebagian meneruskan belajarnya di Tebuireng.

Pada tahun 1933 M, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Lirboyo. Pindahnya beliau dari Tebuireng bukan karena menghindari tugas, (sebab beliau mandengar dari temannya bahwa beliau akan diangkat jadi guru atau pembantu kiai) atau beliau takut dita'zir atau diusir. tetapi semua itu semata-mata dilakukan beliau karena sifat tawadunya yang merasa belum mampu.

Namun kenyataannya tak sesuai dengan harapan beliau karena baru tujuh bulan di Lirboyo beliau dipanggil oleh KH. Jauhari (ayah Gus Ma'sum) untuk diberi amanat : Faqih…! Koe saiki kudu mu lang moco lan nulis marang bocah cilik-cilik iku ! (Faqih kamu sekarang harus mengajar membaca dan menulis kepada anak-anak kecil). Dengan sepontan dalam hati kecil beliau beliau berkata : aku ngalih soko Tebuireng kerono kanggo nambah ilmu, e weruh-weruh pak kiai nindakake amanat marang aku. Ya… Allah mugi-mugi panjenengan tulung kulo lan jiwo kulo.

Timbulah kebingungan dalam hati beliau karena tujuan pindah ke Lirboyo untuk menambah ilmu, tapi malah mendapat amanat dari Kiai Jauhari. Setelah direnungkan secermatnya lantas beliau menyadari, Mungkin dengan jalan ngajar inilah ilmuku akan bertambah. Akhirnya beliau berkenan memenuhi amanat dari kiainya. Semua itu beliau lakukan dengan rasa tulus, ikhlas dan ridla Allah semata.

Terangkatnya beliau KH. Imam Faqih Asy'ary menjadi guru di Lirboyo adalah sebuah sosok seorang santri yang mempunyai jiwa besar dan hormat pada orang tuanya, ini terbukti begitu beliau terangkat menjadi guru, beliau terus pulang guna berpamitan dan sungkem kepada orang tuanya, kemudian berangkat lagi ke Lirboyo untuk memenuhi tanggung jawabnya.

Disamping diangkat menjadi guru beliau juga diberi tugas mendirikan suatu lembaga pendidikan berbentuk madrasah, hal ini bukan berarti beliau adalah pendiri pertama Madrasah Lirboyo, karena sebelumnya lembaga Madrasah di Lirboyo yang sudah pernah didirikan sebanyak tujuh kali. Namun begitu setelah didirikan lalu mati entah apa sebabnya.

Jadi dalam hal ini beliau hanyalah sebagai orang yang pertama menstabilkan dan mengefektifkan lagi lembaga Madrasah di Pondok Lirboyo, maka KH. Imam Faqih Asy'ari kemudian hari ditunjuk oleh kiai sebagai Roisul Madrasah (Kepala madrasah). Sedangkan sistem pendidikan di Madrasah Lirboyo disamakan dengan Madrasah salafiyah Syafi'iyah Tebuireng Jombang .

Di Lirboyo, KH. Imam Faqih Asy'ari terkenal sebagai seorang guru yang telaten. Waqila, belum pernah ditemukan seorang guru yang sangat telaten seperti halnya KH. Imam Faqih Asy'ari baik dalam mengajar 'amrithy, Alfiyah, Jauharul Maknun serta 'Uqudul Juman. Semuanya memakai sistim imla' setiap 9/10 bait ditulis terus diberi ma'na gandul kemudian pada keesokan harinya setiap murid harus berdiri disampingnya KH. Imam Faqih Asy'ari untuk hafalan.

Proses seperti ini selalu di lakukannya setiap hari. Bukti ketelatenan beliau yang lain misalnya dalam mengajar beliau sering memberi tafsiran yang dalam setiap seminggu sekali buku dari siswa-siswa di kumpulkan (waktu mengembalikan biasanya pada hari sabtu). Anehnya tidak satupun yang terlewatkan dalam pengoreksiannya.

Mendirikan Pesantren

Setelah menjadi menantu KH. Abu Umar, KH. Imam Faqih Asy'ari mendapat mandat penuh dari sang mertua untuk membantu proses belajar di Pondok Jombangan.

Setelah mendapat kepercayaan penuh, KH. Imam Faqih Asy'ari langsung mendirikan madrasah pada bulan Syawal. Walaupun sebelumnya sudah ada Madrasahnya, namun hanya untuk anak-anak kecil. Dengan kedatangan KH. Imam Faqih Asy'ari, Mardasah di Jombangan stabil, tertib dan lebih maju serta berkembang.

Untuk menarik simpati, Madrasah dimasukkan sore, beliau bukan saja membantu di Madrasah namun juga membantu pelaksanaan pengajian kitab kuning hingga tampak lebih maju. meski demikian, beliau tetap rutin pada hari kamis datang ke Pondok Lirboyo untuk sowan kepada kiainya.

Pada tahun 1949 M. Pendidikan rutin sempat terlambat dengan terjadinya Agresi. Setelah keadaan dirasa cukup aman, pendidikanya segera di lanjutkan kembali dan didirikan pula sebuah musalah yang sederhana dan terbangun dari bambu. Kemudian pada tahun 1957 M. beliau mulai membuat madrasah dan pondok yang berada disebelah utara musalah yang sampai sekarang masih berdiri kokoh (kamar umum).

Setelah itu, beliau KH. Imam Faqih Asy'ari dan Kiai Khamim berinisiatif untuk memberi nama madrasah tersebut beliau berdua selalu bermusyawarah dengan melihat lingkungan sekitar yang banyak ditanami pohon salam, maka beliau berdua mendapatkan inspirasi bahwa madrasah tersebut diberi nama Madrasah Islamiyyah Daarussalamah.

Sekitar beberapa bulan setelah agresi Belanda keadaanpun mulai pulih kembali seperti sediakala. Maka pendidikan segera dimulai, dan didirikan pula musalah yang sederhana (terbuat dari bambu). Bersama dengan berputarnya waktu para santri terus bertambah dan mengakibatkan pondokan dari bambu sudah tidak muat lagi untuk menampung.

Hal inilah yang mendorong hasrat beliau untuk membangun pondokan yang permanen. Baru pada tahun 1958 M. beliau berhasil membangun pondokan yang bahannya diambil dari bekas rumah beliau didesa Tretek Pare. Lokasi bangunan tersebut berada disebelah utara musholla, dan sampai sekarang masih berdiri kokoh (kamar umum).

Pada awalnya Pondok Pesantren Daarussalamah menyelengarakan pendidikan salaf saja yaitu : PAUD/TK dan Madrasah Diniyah Salafiyah/Klasikal ( MI,MTs, MA & MMD ). Kemudian pada tahun 1993 menyelengarakan Pendidikan Kesetaraan melalui Program Wajar Dikdas Salafiyah 9 tahun (tingkat ULA/SD, WUSTA/SMP & MA MU’ADALAH/SMA serta Program Paket C).

Kemudian pada tahun 2013 berdirilah Perguruan Tinggi STISFA (Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Faqih Asy’ari) sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agara RI, Nomor : 779 Tahun 2013, tentang Persetujuan Pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta tahun 2013.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya