Biografi KH. Siradj Akram

 
Biografi KH. Siradj Akram

Profil

Kiai Siradj lahir di Klaten pada tanggal 01 Maret1913. Siradj kecil tumbuh dalam lingkungan agamis di Kadirejo. Nama kecilnya adalah Abdus Syakur dan berganti nama menjadi Siradj sejak pulang haji tahun 1927. Nama lengkapnya KH. Siradj binAkram bin Abdul Rahman untuk membedakan nama KH. Ahmad Siradj bin Umar Panularan Solo (wafat1963 Masehi) yang makamnya di Pajang Makam haji Solo.

Masyarakat seringkali membedakannya dengan menyebut Kiai Siradj Kadirejo dan Kiai Siradj Panularan. Keduanya juga sering bertemu karena kebetulan istri KH. Siradj Akram masih keponakan sambung dari KH. Ahmad Siradj Umar. Jumlah saudaranya adalah 14, KH. Siradj Akram merupakan anak laki-laki pertama di keluarganya.

Masa Pendidikan

Kiai Akram berkeinginan anak laki-lakinya menjadi orang yang alim dan mumpuni dalam ilmu agama. Oleh karenanya, saat sudah cukup umur, beliau mengirim putranya ke pesantren. Singkat kisah, Siradj kecil diantarkannya ke Pondok Pesantren Tremas. Perjalanan menuju pesantren asuhan KH Dimyati di Pacitan ditempuhnya dengan berjalan kaki.
 
Teman seangkatan Siradj muda di Tremas antara lain KH Hamid Kajoran (Magelang), KH Marzuqi Giriloyo (Imogiri), KH Hamid bin Abdillah (Pasuruan), dan KH Dimyati (Pandeglang). Semasa di Tremas, santri Siradj mendapat tugas khusus dari gurunya (KH Dimyati) untuk berdakwah kepada kalangan tukang judi sabung ayam dan tempat maksiat lainnya.

Keakhalakan Beliau

Sepulang nyantri, Kiai Siradj pun mulai berdakwah dan mengajar ngaji kitab kuning. Siapapun yang datang untuk mengaji selalu dilayaninya, satu orang santri sekalipun. Pintu rumahnya selalu terbuka bagi siapapun dan tak pandang bulu.
 
Kiai Siradj dikenal sosok yang gemar silaturrahmi. Menurutnya, tak harus selalu yang muda yang mesti mengunjungi yang lebih tua; namun, siapa saja yang punya kesempatan bisa saja beranjang sana.
 
Hal yang patut diteladani dari Kiai Siradj adalah sikap empati dan keikhlasan dalam membantu orang yang sedang kesusahan. Jika ada  tamu datang minta bantuan finansial untuk bayaran SPP anak, misalnya, Kiai Siradj langsung memberinya sejumlah yang diminta. Konon, beliau juga sering memberikan derma (baca: uang) kepada orang minta bantuan untuk membayar hutang maupun keperluan modal usaha.
 
Demikian pula sikap sosialnya kepada sanak keluarga. Hal yang terbilang unik adalah kebiasaan beliau mencuci pakaian sang istri, menjemur dan memungut-bereskan setelah kering.  

Resep agar tetap fit dan tidak gampang capek, menurut Kiai Siradj, adalah: usahakan posisi jongkok dan pantang berdiri pada saat buang air kecil. Nama aslinya Abdus Syakur; sepulang haji (1927), pria kelahiran 1 Maret 1913 tersebut berganti nama Siradj. Ulama nyentrik yang satu ini berasal dari Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten.
 
Gemar Berdzikir

Suara zikir dan bacaan shalawat hampir tak pernah berhenti terucap dari lisan beliau. Meskipun sudah larut malam, seringkali terdengar lamat-lamat lantunan zikir dan shalawat dari kamar beliau.
 
Dalam keadaan sakit serius sekalipun, Kiai Siradj tak pernah mengeluh. Sebaliknya, beliau tetap menampakkan keceriaan dan banyak membaca shalawat dengan suara keras. Sampai-sampai, orang-orang yang menjenguknya di Rumah Sakit ikut bershalawat. Dan, sebagai seorang tokoh panutan, Kiai Siradj tak merasa canggung untuk kumandangkan azan di masjid. Tak pelak, orang-orang yang mendengar merdunya lantunan azan beliau trenyuh hingga menitikkan air mata.

Karamah Beliau
 
Berbicara tentang karamah almarhum, setidaknya bisa dirunut dari kisah berikut. Putri beliau yang tinggal di Jawa Timur (Nyai Hamidah) sudah lama ingin sowan KH Hamid Pasuruan. Konon,  tidak mudah untuk bertemu dengan ulama sepuh yang dikenal kharismatik itu. Sehingga saat mendengar ayahnya akan ke Pasuruan, Nyai Hamidah pun serta-merta ikut nebeng sang ayah. Singkat kisah, sesampai di depan gerbang kediaman KH Hamid Pasuruan, ternyata beliau sudah berdiri menyambut kehadiran sang tamu (Kiai Siradj dan putrinya). Padahal, kunjungan Kiai Siradj ke Pasuruan tanpa pemberian kabar terlebih dahulu. Dan, masih banyak kisah karamah lainnya.

Berpulang ke Rahmatullah
 
Kiai Siradj wafat pada usia 87 tahun. Beliau menghadap Sang Khalik saat sedang melaksanakan salat Asar sembari berbaring di tempat tidurnya. Selasa tanggal 9 Ramadhan 1421, bertepatan dengan 5 Desember 2000, jenazah almarhum dikebumikan di samping Masjid Mujahidin Kadirejo Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten.

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber