Biografi KH. Siradj Akram

 
Biografi KH. Siradj Akram

Daftar Isi Profil KH. Siradj Akram

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Gemar Berzikir
  5. Kisah Teladan
  6. Karomah

Kelahiran

KH. Siradj Akram lahir di Klaten, Jawa tengah pada 1 Maret 1913. Beliau merupakan putra KH. Akram bin Abdul Rahman.

Nama kecil KH. Siradj Akram adalah Abdus Syakur dan berganti nama menjadi Siradj sejak pulang haji tahun 1927.

Wafat

KH. Siradj Akram wafat pada usia 87 tahun, atau pada Selasa, 9 Ramadhan 1421, bertepatan dengan 5 Desember 2000. Beliau menghadap Sang Khalik saat sedang melaksanakan salat Asar di tempat tidurnya. Jenazah almarhum dikebumikan di samping Masjid Mujahidin Kadirejo Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten.

Pendidikan

KH. Siradj Akram kecil dididik dan di asuh langsung oleh Ayahnya. Beliau diajarkan ilmu agama dan al-Qur’an oleh ayahnya.

Saat sudah cukup umur, ayahnya mengirim putranya ke Pondok Pesantren Tremas. Perjalanan menuju pesantren asuhan KH. Dimyati di Pacitan ditempuhnya dengan berjalan kaki.

Teman seangkatan Siradj muda di Tremas antara lain KH. Hamid Kajoran (Magelang), KH. Marzuqi Giriloyo (Imogiri), KH. Hamid bin Abdillah (Pasuruan), dan KH. Dimyati (Pandeglang). Semasa di Tremas, santri Siradj mendapat tugas khusus dari gurunya (KH. Dimyati) untuk berdakwah kepada kalangan tukang judi sabung ayam dan tempat maksiat lainnya.

Gemar Berzikir

Suara zikir dan bacaan salawat hampir tak pernah berhenti terucap dari lisan beliau. Meskipun sudah larut malam, seringkali terdengar lantunan zikir dan salawat dari kamar beliau.

Dalam keadaan sakit serius sekalipun, Kiai Siradj tak pernah mengeluh. Sebaliknya, beliau tetap menampakkan keceriaan dan banyak membaca salawat dengan suara keras. Hingga, orang-orang yang menjenguknya di Rumah Sakit ikut bersalawat. Dan, sebagai seorang tokoh panutan, Kiai Siradj tak merasa canggung untuk kumandangkan azan di masjid. Tak pelak, orang-orang yang mendengar merdunya lantunan azan beliau trenyuh hingga menitikkan air mata.

Kisah Teladan

Sepulang nyantri, KH. Siradj Akram mulai berdakwah dan mengajar ngaji kitab kuning. Siapapun yang datang untuk mengaji selalu dilayaninya, satu orang santri sekalipun. Pintu rumahnya selalu terbuka bagi siapapun dan tak pandang bulu.

Kiai Siradj dikenal sosok yang gemar silaturrahmi. Menurutnya, tak harus selalu yang muda yang mesti mengunjungi yang lebih tua, namun, siapa saja yang punya kesempatan bisa saja beranjang sana.

Hal yang patut diteladani dari Kiai Siradj adalah sikap empati dan keikhlasan dalam membantu orang yang sedang kesusahan. Jika ada  tamu datang minta bantuan finansial untuk bayaran SPP anak, misalnya, Kiai Siradj langsung memberinya sejumlah yang diminta. Konon, beliau juga sering memberikan uang kepada orang minta bantuan untuk membayar hutang maupun keperluan modal usaha.

Demikian pula sikap sosialnya kepada sanak keluarga. Hal yang terbilang unik adalah kebiasaan beliau mencuci pakaian sang istri, menjemur dan memungut-bereskan setelah kering. 

Karomah

Berbicara tentang karamah Kiai Siradj, setidaknya bisa dirunut dari kisah berikut. Putri beliau yang tinggal di Jawa Timur (Nyai Hamidah) sudah lama ingin sowan KH. Hamid Pasuruan. Konon,  tidak mudah untuk bertemu dengan ulama sepuh yang dikenal kharismatik itu.

Sehingga saat mendengar ayahnya akan ke Pasuruan, Nyai Hamidah pun serta-merta ikut nebeng sang ayah. Singkat kisah, sesampai di depan gerbang kediaman KH. Hamid Pasuruan, ternyata beliau sudah berdiri menyambut kehadiran sang tamu (KH. Siradj Akram dan putrinya). Padahal, kunjungan KH. Siradj Akram ke Pasuruan tanpa pemberian kabar terlebih dahulu. Dan, masih banyak kisah karamah lainnya.