Biografi KH. Muhammad Idris Wonogiri

 
Biografi KH. Muhammad Idris Wonogiri

Daftar Isi Profil KH. Muhammad Idris Wonogiri

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Masjid
  5. Mendirikan Pesantrent
  6. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  7. Menjadi Anggota DPRD

Kelahiran

KH. Muhammad Idris lahir di Kampung Karangan Kecamatan  Bareng Kabupaten Jombang, pada 23 Maret 1921. Beliau adalah putra dari pasangan Nyai Miyatun binti Abdul Jalil dengan KH. Muhammad Hasan bin KH. Muhammad Ilyas.

Pada tahun 1927 ketika masih kecil sekitar umur 6 bulan , ibunya meninggal dunia. KH. Muhammad Idris kemudian di ambil (di asuh) oleh kakeknya yang bernama KH. Muhammad Ilyas di desa Suruhan yang sekarang berganti menjadi Desa Cangkring Kidul, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri.

Selama diasuh oleh kakeknya KH. Muhammad Idris ditugasi untuk mengasuh putra dari Mbah Hasan Ngabeni yang bernama Mabsiatun saat itu umurnya sudah menginjak dewasa.

Tetapi dia dalam keadaan sakit yang membuat dia di pasung. Dalam tugasnya mengawasi Mabsiatun,  KH. Muhammad Idris gagal sehingga Mabsiatun bisa melarikan diri, beliau dimarahi oleh kakeknya, tidak lama kemudian, KH. Muhammad Idris juga melarikan diri dan pergi ke Ponorogo dengan jalan kaki

Keluarga

Pada tahun 1946 kurang lebih berumur 33 Tahun KH. Muhammad Idris melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyonya Partiyem putri dari Bapak Karto Sentono seorang punggowo atau pun (lurah desa).

Setelah menikah beliau ikut hidup dirumah mertuanya. Buah dari pernikahannya beliau dikaruniai 9 putra dan putri, diantaranya:

  1. Drs. Dimyathi
  2. Mawardi
  3. Nukman Suhari
  4. Zaenuri
  5. Siti Mahmudah
  6. Maskur
  7. H. Mukhsin
  8. Asrori
  9. K. Rooyani

Pendidikan

Pendidikan KH. Muhammad Idris di mulai pada tahun 1938, beliau belajar di Pondok Pesantren Dresmo Surabaya. Untuk membiayai mondok beliau membagi waktunya untuk bekerja.  

Selain di Dresmo beliau meneruskan belajar di Pondok Pesantren Denayar Jombang yang saat itu Gus Dur (Abdurrahman Wahid) masih kanak-kanak. setelah dari Denanyar KH. Muhammad Idris pergi menuju ke Pondok Pesantren Mangkang Semarang, di perjalanan antara Jombang ke Mangkang, beliau jalan kaki menyusurui rel kereta api.

Setelah beliau tiba di Mangkang beliau mengabdi kepada Pak Kyai, dan beliau mendapat tugas mengabdi yaitu menjaga tambak ikan bandeng yang saat itu sering dicuri yang kisahnya setiap maling itu mau mencuri harus berhadapan dengan KH. Muhammad Idris, kata KH. Muhammad Idris “maling-maling itu boleh mengambil ikan dengan syarat bisa memotong salah satu rambutnya dan si maling boleh mengambil ikan, tetapi sebaliknya apabila tidak bisa memotong maka tidak boleh mangambil  ikan tersebut”.

Selain ditugasi menjaga tambak KH. Muhammad Idris juga di tugasi mengantarkan kerbau ke sawah Kiai.

Dari Mangkang KH. Muhammad idris meneruskan belajar di Pondok Pesantren Kaliwungu. Lalu pada tahun 1942 melanjutkan lagi ke Pondok Pesantren Tremas di perjalanan dari Kaliwungu ke Tremas dengan jalan kaki, perjalanan antara Kaliwungu Batu beliau jalan kaki menelusuri rel kereta api, setiap di perjalanan ketika beliau merasa lapar dan haus, beliau ikut kerja orang di pingir jalan yang lagi kerja.

Sampai di Tremas beliau mondok tetapi beliau mengginap di Kampung, yaitu Kampung Borang, Ketika mondok ngaji dengan KH. Dimyathi.

Beliau mondok dari awal sampai di Tremas berusia 32 Tahun beliau baru pulang ke kampung Cangkring, Ketika di Cangkring beliau sering tidur di depan musalah (langgar) yang didirikan oleh KH. Muhammad Ilyas untuk meyebarkan agama islam.

Mendirikan Masjid

KH. Muhammad Idris mendapat wangsit perintah dari Allah untuk membuat masjid di belakang rumah beliau sendiri, tempat untuk pembuatan masjid dulunya tempat gupakan kerbau yang tanah tersebut tidak ada yang berani untuk membuat rumah.

Saat KH. Muhammad Idris mendapat perintah membuat masjid, beliau mendapat perintah bahwa kayu bahan pembuatan masjid adalah kayu jati dari hutan Donoloyo Slogohimo.

Sesuai dengan mimpi yang impikan oleh Beliau kayu tersebut terdapat di Hutan Donoloyo yang berjumlah 4 pohon, 3 pohon di antaranya di utara sungai dan yang 1 di selatan sungai pohon yang berada di sebelah selatan sungai itu hanya memiliki satu dahan yang dahan tersebut sering sudah dibuat sarang burung Kokobeluk, yang ketika kayu itu sudah di pasang masih saja burung tersebut berada di wilayah masjid.

Pagi-pagi sekali KH. Muhammad Idris mulai menebang kayu, sedangkan sang istri dengan sergap membuatkan sarapan, Ketika dalam penebangan rombongan melihat pohon yang lebih besar dan lurus.

Tetapi KH. Muhammad  Idris tidak mengijini menebang pohon tersebut karena dalam mimpinya pohon tersebut tidak masuk dalam mimpi. Tetapi oleh rombongan terlajur di tebang dan tidak tahu kenapa ketika pohon itu terjatuh tiba-tiba pecah dan tidak bisa digunakan.

Penebangan kayu selesai KH. Muhammad Idris dan rombongan membawa kayu pulang ke Cangkring dengan cara diangkat (dipikul) bersama-sama dengan syarat tidak boleh menegok kebelakang, apabila sampai ada yang melanggar kayu yang diangkat akan serasa semakin berat.

Dalam perjalanan KH. Muhammad Idris dan rombongan beristirahat, setiap berhenti untuk beristirahat tempat tersebut bisa diislamkan, dan lapisan masyarakat ditempat tersebut telah membuat Masjid dengan bantuan KH. Muhammad Idris, setelah sampai di Cangkring, beliau dan rombongan sekaligus lapisan masyarakat dalam pembuatan masjid memerlukan bantuan dari mbah Imam Nawawi Mangkang dalam pelurusan ka’bah yang saat itu mbah Imam Nawawi Mangkang sudah memiliki kompas arah.

Setelah pembuatan masjid bersama-sama pada tahun 1954, Beliau dalam meyebarkan agama pindah yang semula dari musalah (langgar) pindah ke masjid yang selesai dibangun. Karena merasa tidak bisa meyebarkan agama sendiri beliau mengambil ustad dari Banyumas, Cilacap yang bernama ustad Ikhwanuddin, setelah Ikhwanudin pulang  KH. Muhammad Idris mengambil ustad lagi dari Jombang yang bernama Abdul Halim dan sampai sekarang masjid itu masih berdiri.

Mendirikan Pesantren

Setelah mendirikan masjid, pada tahun 1957 beliau mendirikan Pondok Pesantren sekaligus mendirikan pendidikan formal dan diniyah, yaitu mendirikan Madrasah Tsanawiyah Cangkring. Mts tersebut diganti nama menjadi Madrasah Tsanawiyah Al Ma’arif 1 Tirtomoyo pada tahun 1985.

Setelah penggantian nama, KH. Muhammad Idris memberi perintah (mandat) kepada putranya yang bernama Mawardi untuk menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah Al Ma’arif 1 Tirtomoyo dari tahun 1983 sampai 2005 yang pada saat itu Madrasah Tsanawiyah sudah melaksanakan Ujian sendiri. Yang sampai sekarang Madrasah Tsanawiyah tetap berdiri.

Lalu pada tahun 1989 Beliau mendirikan Yayasan Gani Tirtoasri bersama putra pertama beliau yaitu Drs. Dmyathi mendiirkan MA Gani Tirtoasri dan panti asuhan Titonugoho didirikan oleh Drs. Dimyathi yang lama kelamaan semakin berkembang hingga sekarang.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Setelah pulang dari pondok KH. Muhammad Idris bergabung dengan Hisbullah yang beliau bertugas menjadi pasukan perang melawan DITII. Setelah di Hisbullah KH. Muhammad Idris ikut kegiatan Ansor, yang tak lama setelah ikut kegiatan Ansor.

Pada tahun 1955  KH. Muhammad Idris mendirikan organisasi NU di Wonogiri. Ketika di NU KH. Muhammad Idris berjuang dan mempertahankan dengan curahan tenaga, pikiran dana, dan harta yang beliau miliki, beliaulah satu-satunya yang mengibarkan NU di zaman Orde Baru. Pada waktu KH. Muhammad Idris sakit, NU di pegang oleh KH. Abdul Aziz dan rekan-rekan.

Menjadi Anggota DPRD

Pertama kali Indonesia melaksanakan pemilu pertama kali kurang lebih tahun 1951 KH. Muhammad Idris terpilih menjadi DPRD sampai dengan pemilu tahun 1971, setelah terlaksananya Pemilu berdiri lagi partai politik yaitu Golkar, setelah berdirinya Golkar KH. Muhammad Idris keluar dari DPRD lantas KH. Muhammad Idris melanjutkan pendidikan di pondok pesantren terutama pengajian rutin mingguan sambil tetap mempertahankan NU.

Ketika di NU KH. Muhammad Idris bisa membuka daerah-daerah yang masih rawan Islam antara lain:

  1. Kecamatan Tirtomoyo berdiri MWC, lembaga pendidikan MA’ARIF
  2. Kecamatan Pracimantoro berdiri MWC
  3. Wonogiri kota berdiri ANSOR dan MWC
  4. Kecamatan kismantoro berdiri MWC, lembaga pendidikan MA’ARIF

Setelah keluar dari DPRD KH. Muhammad Idris meneruskan perjuangannya dengan mendirikan partai politik di NU yaitu PPP Wonogiri, partai yang didirikan oleh KH. Muhammad Idris dipimpin oleh beliau sendiri selang dua kali periode NU keluar dari PPP dengan Kongres Situbondo.

Setelah keluar dari PPP NU mendirikan lagi partai yaitu PKB yang KH. Muhammad Idris tidak menjadi pemimpin partai melainkan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Mawardi. Organisasi yang di jabat oleh KH. Muhammad Idris selain di NU:

  1. Menjadi ketua pengurus koperasi di Tirtomoyo yang salah satu rekannya adalah H Sulama Salam
  2. Menjadi anggata koperasi gabungan batik Indonesia