Biografi KH. Abdul Manan (KH. Jadug Banyuwangi)

 
Biografi KH. Abdul Manan (KH. Jadug Banyuwangi)

Daftar Isi Profil KH. Abdul Manan (KH. Jadug Banyuwangi)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Mendirikan Lembaga Pendidikan
  7. Pejuang Melawan Penjajah
  8. Teladan
  9. Karomah

Kelahiran

KH. Abdul Manan atau yang kerap disapa dengan panggilan KH. Jadug lahir pada tahun 1870, di Desa Grampang, Kabupaten Kediri. Beliau merupakan putra kedua dari KH. Moh Ilyas yang berasal dari Banten dengan Umi Kultsum, yang berasal dari Jatirejo, Kandangan (Kediri).

Saat berusia 1 tahun, Kiai Jadug dibawa KH. Moh Ilyas pindah dari Grempol ke Desa Ngadirejo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. Setelah pindah, ayahnya kemudian membuka pondok pesantren.

Wafat

KH Abdul Manan wafat pada hari Jumat Kliwon menjelang Subuh 15 Syawal 1399 H atau bertepatan pada tahun 1979 M. Jenazah beliau di makamkan masih di sekitar Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumberberas, Muncar, Banyuwangi Jawa Timur.

Keluarga

KH. Abdul Manan melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang putri dari dusun Sumberbiru Puhrejo, Pare (Kediri) bahkan sampai membangun pondok kecil. Namun karena KH. Abdul Manan tidak cocok dengan tempat itu, akhirnya ia cerai dengan istrinya dengan status belum punya putra dan ia akhirnya kembali ke Jatirejo, Kandangan (Kediri).

Di Jatirejo, rupanya ia tidak betah juga karena rasa ghirah (semangat) untuk berta’alum (mencari ilmu) masih sedemikian tinggi. Akhirnya ia kembali mondok ke pesantren Jalen Genteng (Banyuwangi) yang saat itu diasuh oleh KH. Abdul Basyar. Karena usianya paling tua, di Pondok Jalen ia diangkat menjadi kepala pondok atau banyak orang bilang lurahnya Pondok. Tak selang beberaqpa lama kemudian, ia diambil menantu oleh KH. Abdul Basyar dengan dinikahkan dengan salah satu putrinya yakni Siti Asmiyatun.

Pernikahan beliau dengan Siti Asmiyatun binti Abdul Basyar, beliau dikaruniai duabelas putra yakni Nyai Siti Robi’ah Askandar, Tabsyrul Anam, Ma’ariful Waro, Rofiqotuddarri, Nuryatun,Ma’rifatun, Khosyi’atun, Kamaludin, Abdul Malik Luqoni, Mutamimmah, Munawarroh dan Zubaidah.

Pada masa penjajahan Jepang, istrinya yakni Nyai Asmiyatun wafat. Ia kemudian menikah lagi dengan Hj Umtiyatun (Jalen) dan dari istri keduanya, beliau dikaruniai 9 putra-putri yakni Ny Asliyatun, Moh Soleh, KH Fahruddin, Moh Dalhar, Ny St Aisyah, Dewi, Dafi’ul Bala’, Ny Mariyati dan KH Toha Muntaha.

Pendidikan

Selepas mendapat didikan dari sang ayahanda, KH. Moh Ilyas, Abdul Manan kecil melanjutkan pendidikannya dengan belajar ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur. Saat berusia sekitar 12 tahun beliau masuk Pondok Pesantren Keling atau lebih masyhur dikenal Pondok Pesantren Ringin Agung yang diasuh oleh Mbah KH. Nawawi. Sekalipun usianya masih kecil, beliau mendapat didikan langsung dari Mbah Nawawi, sehingga saat beliau menjadi santrinya ia banyak dikenal sebagai “santri pemberani”. Dimana hanya orang dewasa saja yang semestinya mengaji dengan Mbah Kyai Nawawi, namun ia sudah mengeyamnya sejak pertama kali masuk pesantren.

Lepas dari Pondok Pesantren Ringin Agung, ia kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Gerompol yang tidak lain adalah pondok pesantren neneknya sendiri. Di Pondok Gerompol, ia banyak menimba ilmu hikmah dan ia dikenal sebagai jago gelut alias ahli jadug karena sering melawan kalangan berandalan dan perampok yang sering merajalela di daerah tersebut. Bahkan ia pernah berhadapan dengan lima puluh berandalan sekaligus dan ia melawan mereka dengan sendirian dan dari sekian banyak berandalan itu dapat dibrantasnya dengan mudah karena ia memang memeiliki jurus-jurus silat yang pernah ia pelajari di Pondok Pesantren Grompol.

Setelah selesai mempelajari ilmu hikmah dan silat di Pondok Gerompol, ia kemudian beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar keberbagai pondok pesantren untuk memperdalam ilmu-ilmu agama Islam. Dikalangan santri biasa disebut sebagai santri kalong karena mondoknya hanya sebentar saja.

Beberapa pondok pesantren yang pernah dirambah oleh KH. Abdul Manan diantaranya adalah Pondok Pesantren KH. Abas di daerah Wlingi (Blitar), Pondok Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo), Pondok Pesantren Gayam (Jombang), Pondok Pensatren Tegalsari (Ponorogo) dan terakhir ia mondok dengan KH. Kholil Bangkalan atau yang biasa disapa dengan pangilan Mbah Kholil Bangkalan.

Lepas mendapat didikan dari Mbah Kholil ia kemudian melanjutkan belajar ke Mekkah dan belajar dengan ulama-ulama Indonesia yang ada di Mekah dan juga beberapa rubath yang ada di sana selama 9 tahun.

Sepulangnya dari tanah suci, KH. Abdul Manan kembali ke daerah asalnya yakni desa Jatirejo, Kandangan, Kab Kediri untuk membantu orang tuanya menularkan ilmu-ilmu yang sudah didapatnya kepada santri-santri KH. Moh Ilyas.

Mendirikan Pesantren

Sebelum memilih daerah Berasan, ia sebelumnya berkeliling mulai dari Kalibaru, Silir, Pesanggrahan, Tamansari dan Berasan. Ternyata dari sekian tempat yang dijelajahi akhirnya terpilih daerah Berasan. Itu pun atas isyaroh dari KH. Cholil Canggan Genteng, Banyuwangi agar memilih daerah Berasan menjadi sentral peantren yang akan ia rintis.

Awalnya, ia berangkat ke Berasan dengan tujuh teman santri dari Jalen dan bertemu dengan warga desa Badegan, Rogojampi (Banyuwangi) yang juga adalah pemilik tempat yang akan dijadikan lokasi pondok pesantren yakni H. Sanusi. Pemilik tanah dan dan rumah di desa Berasan itu (H. Sanusi-red) akhirnya mau menjual rumah dan tanahnya kepada KH. Abdul Manan.

Tahun 1929, KH. Abdul Manan pindah dari Jalen ke Berasan dan mendirikan Pondok Pesantren Minhajut Thullab. Sedangkan Pondok Pesantren Jalen diteruskan olehh adik iparnya yakni Nyai Mawardi.

Awal berdiri pondok pesantren hanya berupa sebuah rumah dan musalah kecil dan bangunan pondok bambu yang beratap daun alang-alang, sangat memprihatinkan.

Semakin lama, santri mulai berdatangan dari berbagai daerah, bahkan mulai kerepotan menampung jumlah santri, sehingga ia menambah jumlah lokasi pondok dengan membeli sebagaian tanah penduduk setempat sekaligus membuat bangunan masjid dan bangunan kamar-kamar pondok pesantren yang permanen.

Mendirikan Lembaga Pendidikan

Tepat tahun 1945 ia membangun sebuah gedung yang bisa menampung banyak jamaah untuk mengaji, yakni gedung Jam’iyyah al Ishlah atau populer dengan jam’iyyah gedong. Pada waktu itu, memang Pondok Pesantren Minhajut Thullab belum ada sistem pendidikan serupa dengan pendidikan sekolah-sekolah, yang ada hanya sistem pengajian-pengajian ala pesantren sepereti sorogan, bandongan, khitobah dan lain-lain.

Baru pada tahun 1947, beliau mulai dibuka sekolah dengan materi khusus pendidikan agama atau madrasah diniyah yang dibimbing oleh KH. Suyuthi. Pada tahun 1951 dibuka sekolah setingkat Madrasah Ibtidaiyah yakni MI Miftahul Mubtadin. Baru pada tahun 1976 didirikan mulai dari tingkat kanak-kanak (TK Khodijah), MTs Miftahul Mubtadin dan SMA Al Hikmah.

Pejuang Melawan Penjajah

KH. Abdul Manan terkenal sangat gigih melawan penjajah Jepang dan Belanda. Banyak kiai di Banyuwangi pada masa penjajahan Jepang dan Belanda yang menderita karena ditangkap oleh penjajah. Akan tetapi berkat lindungan Allah SWT, KH. Abdul Manan dapat lolos dari tiap jeratan penjajah.

Pada masa itu, beliau diungsikan oleh para santri dan masyarakat di rumah-rumah penduduk. Nasib nahas memang banyak menimpa Kiai-Kiai besar pada masa penjajahan yang berhasil ditangkap oleh penjajah seperti KH. Manshur (Sidoresmo), KH. Moh Ilyas, KH. Askandar dan masih banyak lagi karena melawan penjajahan Kumpeni Belanda. Lepas dari penjajahan Belanda, dan Indonesia telah merdeka, ia tetap mengajar di pesantren.

Teladan

KH. Abdul Manan adalah sosok ulama yang soleh dan zuhud. Beliau mendidik putra putrinya di rumahnya dan kemudian anak-anaknya ia pondokan ke berbagai pesantren lain. Beliau dikenal sangat teliti dengan pendidikan anak-anaknya dan para santri bahkan juga masyarakat di mana bila sudah jam 20.00 mereka diwajibkan untuk istirahat (tidur).

Beliau adalah seorang yang aktif dan disiplin dengan apapun tugas. Memang awalnya beliau mendidik dan memberi pengajian kepada putra-putranya, santri dan masyarakat sendirian, belum punya tenaga pengajar dari kalangan santri. Namun setelah santri-santri sudah mampu mengajar dan mengaji, mereka dianjurkan untuk memberikan pengajian kepada santri-santri di bawahnya.

Uniknya, para santri atau tenaga pengajar yang ada di Pondok Minhajut Thulab tidak dibayar dengan uang. Namun mereka dijamin dan dicukupi dalam kebutuhan makan sehari-hari, ada yang makan di ndalemnya Mbah Kiai dan ada juga yang sebagian makan di rumahnya orang-orang desa yang diberi garapan berupa sawah atau kebun dari tanah KH. Abdul Manan.

Keseharian beliau adalah seorang Kiai dan seorang petani. Sedang dibidang pertanian cukup dipercayakan kepada orang lain. Beliau juga dikenal sebagai pedagang yang sukses. Cara beliau memasarkan daganagannya, beliau cukup dirumah. Kalau ada orang yang ingin menjual barangnya mereka datang ke rumah Mbah KH. Abadul Manan. Sedangkan kalau beliau menjualnya cukup di pasarkan oleh orang-orang yang dapat dipercaya.

Karomah

Setelah Indonesia merdeka justru ada peristiwa yang lebih kejam lagi yakni pemberontakan 30 September 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (Gerakan 30 S PKI). Kekejaman dan komunis lebih kejam lagi, banyak kiai dan santri menjadi korban PKI.

Melihat tindakan seperti itu, KH. Abdul Manan bersama santri dan penduduk tidak tinggal diam. KH. Abdul Manan mengutus beberapa santri untuk mencari beberapa batang rotan (Kayu penjalin) dan dijadikan azimat untuk melawan PKI.

Rotan-rotan itu oleh KH. Abdul Manan setelah didoakan dipergunakan oleh para santri dan masyarakat untuk melawan dan melumpuhkan orang-orang PKI yang masih sering berkeliaran di daerah Banyuwangi. Khasiat rotan itu juga bahkan dapat membakar rumah-rumah penduduk PKI cukup dengan memukulkannya. Tidak hanya rotan yang dapat di asma’ oleh KH. Abdul Manan, banyak orang yang datang sambil membawa barang kesayangannya untuk didoakan oleh beliau, seperti cincin, sorban, peci dan lain-lain.

Kelebihan dan kejadugan KH. Abdul Manan bukanlah sesuatu yang didapat secara instan, tetapi buah dari riyadhah sejak ia berusia muda. Saat masih menimba ilmu di pondok pesantren ia sering melakukan puasa mutih, ngrowot. Saat belajar di Makkah selama 9 tahun ia juga berpuasa secara terus menerus, kecuali 2 hari yang diharamkan untuk tidak berpuasa yakni hari Idul Fitri dan hari Idhul Adha (2 hari Idul Adha). Bahkan tak jarang ia hanya berbuka hanya sebutir kurma dan minumnya juga hanya segelas air zam-zam.

Amalan-amalan yang ia lakukan dari usia muda sampai menjelang wafat lewat memperbanyak puasa semata-semata demi keberhasilan dan kebaikan beliau untuk memperihatini (laku prihatin) agar anak-anak dan santrinya kelak dapat menjadi orang yang berhasil serta berguna bagi masyarakat banyak.