Dawuh KH. Maimoen Zubair untuk Hari Santri Nasional 22 Oktober

 
Dawuh KH. Maimoen Zubair untuk Hari Santri Nasional 22 Oktober

LADUNI.ID, Jakarta - Disarikan dari dawuh KH. Maimoen Zubair dalam peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017 di UIN Walisongo Semarang, beliau memberikan nasihat kepada para santri agar Hari Santri Nasional bukan cuma sekedar perayaan, tapi bagaimana menumbuhkan rasa nasionalisme, dan menumbuhkan rasa kesantrian. Dawuh KH. Maimoen Zubair sebagai berikut:

  1. Ana urid, wa anta turid wallahu yaf’alu ma yurid. Kamu punya keinginan, saya juga punya keinginan, tapi yang berlaku adalah keinginan Allah.
  2. Jangan (hanya) ramai-ramai Hari Santri Nasional, tapi bangunlah kesantrian.
  3. Ayah saya Kiai Zubair bukan pengurus PBNU, tapi Wakil Rais Akbar KH. Faqih Maskumambang selalu didampingi ayah saya.
  4. Ayah saya sejak kecil mengajarkan saya rasa nasionalisme. Jangan tinggalkan Islam, tapi Hubbul Wathon Minal Iman.
  5. NU itu tersusun dari 12 huruf. Lambangnya bola dunia, pada wilayah Indonesia diiputi huruf “Dhad”, “Dhad” itu menunjukan kesempurnaan Rasulullah Saw., yaitu "أنا أفصح من نطق بالضاد" (ana afshahu man nathaqa bid-dhad), aku adalah orang yang paling fasih melafalkan huruf Dhad.
  6. NU tidak bisa dipisahkan dengan negara. Resolusi Jihad di bulan Oktober membuahkan hasil Hari Pahlawan 10 November. Bila tidak ada Jihad 22 Oktober di Surabaya, maka November barangkali tidak dijadikan hari pahlawan.
  7. Bulan Oktober bulan yang kesepuluh, seorang anak 10 tahun akan dipukul manakala ia tidak shalat.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN