Kisah Saat Hasan Al-Bashri Suudzon kepada Orang Tak Dikenal

 
Kisah Saat Hasan Al-Bashri Suudzon kepada Orang Tak Dikenal

LADUNI.ID, Jakarta - Gerak-gerik seoramg lelaki dan perempuan yang duduk berduaan di tepian Sungai Dajlah itu memang mencurigakan sekali. Hangat berbincang. Akrab bercanda. Mesra bahasa tubuhnya.

Yang lebih mencurigakan sekali, di dekat si pria teronggok sebuah botol tembikar ramping, jenis yang biasa dipakai untuk wadah khamr (minuman memabukkan).

Maka Imam para ‘ulama di zamannya, Hasan Al-Bashri, menggumam dalam hati ketika berjalan melewati pasangan yang asyik ini, “Betapa buruknya akhlaq sebegini, dan alangkah baiknya jika si lelaki seperti diriku ini.”

Selepas itu Hasan Al-Bisri melihat perahu penyebrangan terbalik, dan tujuh penumpangnya minta tolong dalam derasnya arus. Lalu, lelaki yang sedang berduaan itu dengan sigap meloncat ke dalam aliran sungai.

Dengan kecekatan dan keterampilan berenang yang hebat, dua demi dua penumpang naas berhasil ditariknya ke tepian. Namun tinggal satu yang lepas hanyut, sang penolong pun telah kelelahan untuk mengejarnya ke dalam pusaran air yang sangat deras.

Begitu si pemuda naik ke darat, dia mendekati Hasan Al-Bashri. Lalu si pemuda berkata kepada Hasan Al Bisri, “Aku tahu Tuan tadi berprasangka buruk menganggapku seorang yang amat buruk kelakuannya,” ujarnya.

Dan berkata lagi si pemuda, “Jika Tuan memang lebih baik daripada diriku, coba selamatkan seorang yang gagal kutolong itu!”

Sang Imam Hasan Al Bisri menggeleng malu, merasa tak mampu.

“Tuan hanya diminta menyelamatkan satu! Aku sudah berandil dengan menolong 6 orang lainnya bukan?”

Beliau mengangguk dan meminta maaf.

Lalu si pemuda menjelaskan, “Tuan ketahuilah, yang duduk bersamaku sejak tadi itu adalah Ibuku. Dan botol yang Tuan lihat itu sebenarnya hanya berisi air, bukan minuman memabukkan!”

Air mata meleleh bersama ketertegunan sekaligus sesal mendalam Imam Hasan Al Bashri.

“Jika demikian”, ujar beliau, “Sebagaimana telah kauselamatkan 6 orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah aku dari tenggelam dalam ke’ujuban dan ketakabburan.”

“Aamiin”, ujar si pemuda. “Semoga Allah selalu memberikan taufiq-Nya kepadamu.”

Sejak saat itu, Imam Hasan Al-Bashri dikenal dengan ungkapannya yang masyhur:

“Seorang zuhud itu”, kata beliau, “Adalah insan yang setiap kali berjumpa sesama, maka dia berkata kepada dirinya, ‘Orang ini lebih baik daripada saya’.”

***

Sahabat, kita tidak diizinkan untuk mengukur kemuliaan dari keturunan, kekayaan, ras, paras, pangkat, ataupun jabatan. Satu-satunya ukuran kemuliaan yang Dia izinkan adalah taqwa.

Seandainya taqwa itu tertanda zhahir di dahi, apalagi dengan skor berupa angka pasti, mudahlah kita bersikap.

Mencium tangan mereka yang lebih mulia, atau mengelus kepala mereka yang lebih rendah derajatnya mungkin jadi pilihan laku.

Tapi anehnya, taqwa yang jadi satu-satunya ukuran kemuliaan yang diakui-Nya itu Dia sembunyikan dalam dada.

Allahumma sholli wasallim wabarrik alaih...