Biografi KH. Dahlan Kholil Rejoso

 
Biografi KH. Dahlan Kholil Rejoso

Daftar Isi Profil KH. Dahlan Kholil Rejoso

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Pengasuh Pesantren

Kelahiran

KH. Dahlan Kholil lahir pada 12 Sya'ban tahun 1899 M, di Rejoso. dengan nama bayi Khusni. Beliau merupakan anak pertama dari KH. Kholil Rejoso dengan Nyai Siti Fadmah.

Wafat

KH. Dahlan Kholil wafat pada tahun 25 Syaban 1377 H atau berteparan 16 Maret 1958 M.

Keluarga

KH. Dahlan Kholil melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Siti Fatimah, putri Kiai Ahmad Corogo, Jombang. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 3 putra dan 2 putri. Anak-anak beliau diantaranya: Muhammad, Siti Aisyah, Mahmud, Hafshah, dan Abdul Hamid. Dua putra terakhir telah diambil Allah Swt tatkala usia mereka menginjak remaja.

15 tahun kemudian, sekitar tahun 1950 M, Nyai Siti Fatimah meninggal dunia. Sehingga hal ini membuat Kiai Dahlan menikah lagi dengan cucu KH. Asyari Tebuireng ayah KH. Hasyim Asyari yang bernama Nyai Zubaidah (Sholihah). Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai beberapa anak, yaitu Kholil Dahlan, Chozin Dahlan, dan Cholishah Dahlan.

Pendidikan

KH. Dahlan Kholil memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada ayahnya. Setelah usia menginjak 12 tahun, beliau dibawa ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji ibadah haji ini  sesungguhnya memang dipersiapkan untuk memberi wawasan dan semangat padanya agar kelak ia nyantri di negara ini.

Menurut catatan harian yang ia tulis sendiri, ia mulai nyantri di Mekkah pada tahun 1343 H/1923 M. Tahun ini bertepatan dengan munculnya peristiwa pergolakan kaum Wahabi suatu gerakan keagamaan yang dipimpin secara langsung oleh Raja Saud, sang pendiri kerajaan Saudi Arabia, di mana gerakan ini dalam perkembangannya digunakan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab untuk menghancurkan situs-situs sejarah Islam.

Selama tinggal di Mekkah, karir pendidikannya berjalan amat cepat, sehingga beberapa waktu kemudian ia dapat menempati posisi sebagai guru besar di majelis ta'lim Syafi'iyah dan tilawatil Qur'an di betul ilmu-ilmu agama Islam, sekaligus hafal al-Qur'an secara lancar. Demikian pula di lembaga Madrasah Darul Ulum, Mekkah, ia dipercaya sebagai kepala guru yang mengatur jalannya managemen kurikulum setiap hari.

Setelah bertahan selama tiga belas tahun nyantri di tanah suci, akhirnya, pada tahun 1935 M. Kiai Dahlan kembali ke Tanah Air, beliau melanjutkan pendidikannya dengan memperdalam ilmu hadits kepada KH. Hasyim Asyari di Tebuireng, Jombang.

Pengasuh Pesantren

KH. Dahlan Kholil merupakan pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, beliau selalu menggunakan waktunya dengan kegiatan ajar-mengajar, terutama mengajar apa yang selama ini menjadi spesialisasi keilmuannya baik tatkala ia belajar dari ayahnya, Kiai Hasyim Asyari, maupun dari para ulama Mekkah yaitu al-Qur’an, ilmu tafsir, dan ilmu Hadits. Spesialisasi keilmuan inilah yang kemudian membuat ia selalu disegani di Lajnah Tashihul Mushaf al-Qur’an di Indonesia.