Biografi KH. Ma’ruf Mangunwiyoto

 
Biografi KH. Ma’ruf Mangunwiyoto

Daftar Isi Profil KH. Ma’ruf Mangunwiyoto

  1. Kelahiran
  2. Menjadi Pengasuh Pesantren
  3. Mendirikan NU di Solo
  4. Melawan Penjajah

Kelahiran

KH. Ma’ruf Mangunwiyoto dilahirkan di Kota Surakarta, Solo, Jawa Tengah. Beliau merupakan keturunan seorang ulama besar, yakni Kiai Abdul Mu’id bin Kiai M Tohir bin Nyai Syamsiah binti Kiai Imam Rozi Tempursari Klaten Jawa Tengah. Kakek buyut Kiai Ma’ruf, yakni Kiai Imam Rozi Tempursari merupakan seorang ulama yang juga menjadi seorang panglima (Manggala Yudha) perang pasukan Pangeran Diponegoro, yang bergelar Singa Manjat.

Gelar Mangunwiyoto ini didapatkannya setelah beliau berhasil menyelesaikan pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum Surakarta dan diangkat menjadi guru.

Menjadi Pengasuh Pesantren

KH. Ma’ruf Mangunwiyoto adalah pengasuh pesantren di daerah Jenengan Surakarta juga dikenal sebagai seorang ulama besar, khususnya dalam bidang hadist.

Mendirikan NU di Solo

KH. Ma’ruf Mangunwiyoto dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri NU di Kota Solo. Hal ini diungkapkan KH. Saifudin Zuhri, seorang Tokoh NU yang juga pernah nyantri di Kota Solo pada tahun 1930-an dalam buku “Berangkat dari Pesantren” (2013)

Melawan Penjajah

Pada zaman perang kemerdekaan, peran KH. Ma’ruf Mangunwiyoto begitu besar. Selain diharapkan nasihat-nasihatnya dalam peperangan untuk membakar semangat para pejuang, sebagian dari mereka juga ada yang memanggul senjata, ikut berperang di front terdepan.

Di Jawa Tengah, KH. Ma’ruf Mangunwiyoto merupakan sosok yang memimpin peperang bersama para kiai dan ulama di Kota Surakarta. Darah pejuang dari para leluhurnya ini lah barangkali yang menjadi semangat Kiai Ma’ruf bersama sejumlah kiai lain, seperti KH Abdurrahman KH. R Moh Adnan, Kiai Abdul Karim Tasyrif, Kiai Martoikoro, Kiai Asnawi, Kiai Amir Thohar dan ulama lain di barisan Kiai untuk ikut berjuang melawan penjajah.