Biografi KH. Abdullah Mubarok Tasik

 
Biografi KH. Abdullah Mubarok Tasik

Daftar Isi Profil KH. Abdullah Mubarok Tasik

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Sosok Mursyid

Kelahiran

KH. Abdullah Mubarok atau yang kerap disapa dengan panggilan Abah Sepuh lahir tahun 1836, di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang. Sekarang, kampung tersebut masuk ke dalam Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Beliau merupakan putra dari R. Nurapraja.

Wafat

Abah Sepuh wafat pada tangal 25 Januari 1956 dalam usia yang cukup panjang, yaitu 120 tahun.

Ia meniggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat manusia. Pesantren tersebut dilanjutkan putranya yang sudah dipersiapkan sejak awal, Abah Anom. Putranya yang kelima tersebut juga melanjutkan dan menggantinya dalam mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah.

Pendidikan

Abah Sepuh memulain pendidikannya dengan belajar mengaji kepada ayahnya, R. Nurapraja yang bekerja sebagai upas kecamatan.

Abah Sepuh kemudian dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kiai Jangkung. Sejak kecil, sudah gemar mengaji dan mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat.

Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya, ia melanjutkan menimba ilmu agama ke pesantren Sukamiskin Bandung. Di Pesantren Sukamiskin, ia mendalami fiqih, nahwu, dan shraf. Selain di pesantren tersebut, ia juga belajar tarekat kepada pada Syekh Tolhah di Trusmi, Cirebon dan dan Syekh Kholil Bangkalan, Madura.

Mendirikan Pesantren

Pada tahun 1890, ketika usianya setengah abad, ia membuka pengajian. Mula-mula di kampung Tundangan, kemudian ke kapung Cisero. Dan baru tahun 1902, ia pindah ke kampung Godebag. Karena itulah ia dikenal dengan sebutan Ajengan Godebag. Pada tahun 1905, ia mendirikan pesantren Suryalaya yang ternyata menarik minat masyarakat dan kemudian berkembang subur dan masih berdiri dan berkembang hingga sekarang.

Pada tahun 1907, guru tarekatnya dari Cirebon, Syekh Tolhah, sempat mengunjungi pesantren Godebag. Gurunya tersebut melihat pesantren sebagai masa depan cerah untuk mengembangkan ilmu agama, termasuk tarekat. Maka, sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun,  ia diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syekh Tolhah.

Di dalam tarekat itu, ia juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syekh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim.  Sejak diangkat menjadi mursyid, ia semakin dikenal sebagai kiai dan pemimpin tarekat.

Pada tahun 1950, ketika usianya memasuki 114 tahu, Abah Sepuh mengangkat salah seorang putranya, KH Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin, sebagai pendamping yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin. 

Pada tahun 1952, karena menghebatnya gangguan keamanan disamping usianya yang sudah uzur, Abah Sepuh beristirahat di Kota Tasikmalaya.

Sosok Mursyid

Abah Sepuh adalah mursyid Tarekat Qodiriyyah Naqsababandiyah (TQN) yang diangkat sebagai mursyid tahun 1908. 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya