Biografi KH. Usman Abdurrohman Mranggen

 
Biografi KH. Usman Abdurrohman Mranggen

Daftar Isi Profil KH. Usman Abdurrohman Mranggen

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Mendirikan Madrasah
  6. Sosok Pendakwah

Kelahiran

KH. Usman Abdurrohman dilahirkan di Mranggen, Demak. Beliau merupakan putra pertama dari KH. Abdurrohman Mranggen. Adik kandung beliau adalah KH. Muslih al-Maraqi.

Wafat

KH. Usman Abdurrohman wafat pada tahun 1967. Beliau meninggalkan berbagai kemajuan selama masa kepemimpinan beliau di Futuhiyyah. Kemajuan selama masa kepemimpinan KH. Usman diantaranya penataan manajemen pesantren, penataan manajeman madrasah, dan pendidikan seni dan keterampilan.

Selain itu masih banyak kemajuan kemajuan dan peran sertanya dalam pendidikan pesantren atau dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

Pendidikan

KH. Usman Abdurrohman memulai pendidikannya dengan belajar langsung kepada orangtuanya. Setelah selesai, beliau melanjutkan dengan mondok ke Brumbung Mranggen Demak yang di asuh oleh KH. Ibrohim.

Selepas dari Brumbung, ia meneruskan belajar di pondok pesantren Lasem yang diasuh oleh KH Kholil dan KH. Ma'shum. Sekembalinya dari pesantren Lasem, pada tahun 1926 beliau berusaha mengembangkan pesantren Futuhiyyah dan pada tahun 1927 diserahi tanggung jawab mengelola pesantren di bawah pengawasan KH. Abdurrohman.

Mendirikan Pesantren

KH. Usman Abdurrohman akhirnya membuka pesantren khusus putri yang diberi nama An-Nuriyyah, sampai akhir hayat beliau tetap membantu pengajaran di pondok Futuhiyyah meski ia sudah memiliki pesantren sendiri.

Mendirikan Madrasah

Pada tahun 1927, KH. Usman Abdurrohman dibantu oleh adiknya, KH. Muslih, berusaha mendirikan madrasah yang kemudian diberi nama Futuhiyyah atas usulan adiknya. Namun madrasah yang baru berjalan satu tahun ini diminta NU untuk merealisasikan progam pendidikannya, tetapi perkembangan tersendat sendat dan akhirnya hilang. Selanjutnya tahun1929 beliau mendirikan madrasah lagi, namun tidak lama dibedol lagi oleh NU cabang Mranggen, dan nasibnya pun sama.

Sekitar tahun 1931, pimpinan diserahakan kepada KH. Muslih dan berhasil mendirikan madrasah tidak boleh dipindah atau dibedol. Setelah itu KH. Muslih pergi mondok lagi dan kepemimpinan pondok diserahkan lagi kepada KH. Usman dan madrasah diserahkan kepada KH. Murodi beserta para guru.

Setelah KH. Muslih pulang dari Termas sekitar tahun 1935 kepemimpinan pondok diserahkan kepadanya. Hal ini karena ia lebih memusatkan perhatiannya dakwah keliling dan NU cabang Mranggen, sedangkan KH. Murodi melanjutkan belajar di Makkah.

Sosok Pendakwah

Usaha dakwah yang dilaksanakan oleh KH. Usman Abdurrohman lebih banyak yang berorientasi keluar, dalam arti lebih sering melakukan dakwah keliling. Dakwah keliling yang beliau lakukan berbentuk masrokhiyah (seni teater, sandiwara) dengan musik rebana yang dipandu dengan tarian zipin dan pencak silat yang disisipi ceramah agama.

Beliau lebih terkenal sebagai sosok seorang pendekar yang alim, karena pada saat itu wilayah Mranggen lebih dikenal dengan kaum abangan, jadi dakwah dengan teater lebih menguntungkan.