Biografi KH. Moh. Ali Yasin

 
Biografi KH. Moh. Ali Yasin

Daftar Isi Profil KH. Moh. Ali Yasin

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama
  6. Karier

Kelahiran

KH. Moh. Ali Yasin, lahir pada tahun 1917 M, di Boyolali, Jawa Tengah. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Yasin dan Nyai Hj. Masruroh.

Wafat

KH. Moh. Ali Yasin wafat pada 3 Juli 1985. Beliau meninggal dunia menjelang shalat Dhuha. Jenazah beliau di makamkan di Jember Lor.

Keluarga

Ketika sudah dirasa cukup menuntut ilmu, Ali Yasin pulang kampung, dan tak lama kemudian menyunting seorang Siti Asiyah, gadis asal Ngawi, Jawa Timur. Buah dari pernikahannya, beliau dikarunia 12 orang anak.

Pendidikan

Sebagaimana anak seorang ulama pada waktu itu, tempaan pendidikan Ali Yasin muda pun lengket dengan ilmu-ilmu pesantren. Mula-mula, ia dikirim mondok ke Solo. Lalu pindah ke pesantren Tebuireng, Jombang asuhan KH. Hasyim Asy’ari.

Cukup lama di Tebuireng, namun tak membuat Ali Yasin hilang rasa dahaganya akan ilmu. Maka, atas restu gurunya, KH. Hasyim Asy’ari, ia pindah ke pesantren Termas, Pacitan. Di situlah Ali Yasin muda bertemu dengan Saifuddin Zuhri, Mukti Ali dan Idham Kholid, yang juga sama-sama nyantri.

Peranan di Nahdlatul Ulama

Bersama para kiai yang lain, ia memelopori pengumpulan uang dengan cara menarik zakat maal dari warga NU. Setelah uang cukup, maka dibelilah sebidang tanah yang berlokasi di sebelah barat Pendopo Jember. Tanah tersebut dibeli atas nama Kiai Ali Yasin (selaku Ketua NU), namun atas permintaannya, tanah tersebut lalu dibalik namakan bagi NU Jember. Dan berdirilah kantor NU ala kadarnya di lokasi tersebut.

Sekian tahun kemudian, pengurus NU Jember menjual tanah tersebut berikut bangunannya kepada Bank Bumi Daya (sekarag milik Bank Mandiri), yang hasil penjualannya digunakan untuk membeli tanah yang lebih luas di Kaliwates dan sebidang tanah lain yang sekarang ditempati Universitas Islam Jember. Tanah di Kaliwates itu sekarang ditempati Kantor NU, tepatnya Jalan Imam Bonjol Nomor 45.

Karier

Setelah menikah, Kiai Ali Yasin diangkat menjadi Kepala KUA. Karena kepemimpinannya yang menonjol, ia kemudian terpilih sebagai Ketua PCNU Ngawi (1942-1952). 

Dalam rentang waktu tersebut, Kiai Ali Yasin merangkap sebagai Kepala Staf Barisan Sabilillah. Lima tahun ia bergerilya di lereng gunung Lawu untuk mengusir penjajah.

Tahun 1954 ia pindah tugas ke Jember, karena panggilan tugas. Ia tetap berkhidmat di birokrasi, hingga diangkat menjadi Kepala Depag Kabupaten Jember. Baginya, birokrasi adalah lahan pengabdian sekaligus medan untuk memperjuangkan kepentingan umat melalui jalur struktural.

Kesibukan Kiai Ali Yasin pun tambah padat. Ia harus bolak-balik Jember-Surabaya karena terpilih sebagai anggota DPR GR Jawa Timur (1966-1971). Posisi tersebut diraihnya lantaran ia menjadi Ketua Partai NU Jember. Politik lancar, birokrasi pun juga jalan, bahkan akhirnya ia menempati kursi Kepala Kanwil Depag Jawa Timur (1971-1975). 

Yang menarik, Kiai Ali Yasin pernah menolak dilantik jadi anggota DPR RI, karena ada sinyal kurang baik dari Kiai Hamid Pasuruan. Ceritanya, dalam Pemilu 1971, Kiai Ali Yasin terpilih sebagai anggota DPR RI. Sebelum dilantik, ia pamitan kepada Kiai Hamid. 

Dan kiai kharismatik itupun berpesan, “Mugi-mugi Njenengan kiyat dienciki tiyang NU sak Indonesia, nggih (mudah-mudahan sampeyan kuat dinaiki orang NU se-Indonesia, ya)," ujar Kiai Hamid sambil memijit-mijit pundak Kiai Ali Yasin.

Kalimat pendek yang meluncur dari lisan Kiai Hamid itu membuat Kiai Ali Yasin berpikir seribu kali untuk menjadi anggota DPR. Ia menangkap isyarah kurang baik dari dawuh sang kiai. 

Sebelum dilantik Kiai Ali Yasin akhirnya memutuskan mundur dari anggota DPR, karena terngiang-ngiang ledekan Mbah Hamid. Ia merasa tak sanggup menanggung beban yang akan dipikulnya kelak di Senayan. Posisi Kiai Ali Yasin lalu diganti oleh H. Soewardi (tokoh NU Jember juga).  Kendati asyik dengan politik dan birokrasi, namun Kiai Ali Yasin tak pernah lalai dengan tugasnya di NU. Ketika menjadi Ketua PCNU Jember (1964-1969), Kiai Ali Yasin merintis pengadaan tanah untuk kantor NU.