31 Dec 2021 · 2.226 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta – Ketika matahari pagi yang cerah, 32 Desember 2009 telah bertengger sedepa, peti jenazah Gus Dur yang sudah dibungkus rapi dengan rangkaian bunga khas dan diletakkan di atasnya itu kemudian dibawa ke luar rumah.
Seluruh hadirin berdiri sambil menundukkan wajahnya dengan dada berdegup-degup. Mereka hanyut dalam suasana hati yang berduka. Ibu Shinta dan ke empat anaknya, Alissa, Yenni, Anita dan Inayah, mengiringi di belakang peti jenazah dengan wajah sendu, lesu, tanpa gairah. Sesekali tangan mereka menyeka air mata yang masih menetes pelan-pelan.
Suasana hening dalam kepiluan, semua bisu. Lagu pengiring jenazah yang syahdu dan melankoli, begitu menggetarkan dada semua yang hadir. Jenazah selanjutnya dibawa menuju Lapangan Terbang Halim Perdanakusuma, untuk selanjutnya diterbangkan menuju Bandara Surabaya terus ke Jombang, Jawa Timur.
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+