Biografi Sunan Gresik (Syaikh Maulana Malik Ibrahim)

 
Biografi Sunan Gresik (Syaikh Maulana Malik Ibrahim)

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Nasab Sunan Gresik
1.4       Wafat           

2.         Islamisasi di Jawa

3          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
3.1       Guru-Guru Beliau
3.2       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

4          Penerus Beliau
4.1       Anak-anak Beliau
4.2       Murid-murid Beliau

5          Karomah Beliau      
5.1       Menurunkan Hujan, saat Musim Kemarau yang Berkepanjangan
5.2       Dapat Mengubah Beras menjadi Pasir Beliau Gagal digusur

6          Keteladanan Sunan Gresik

7          Referensi

1 Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir

Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik lahir di Campa (Kamboja). Untuk tanggal lahirnya sendiri tidak diketahui dengan jelas. Namun, dari silsilah keturunannya, nasab Sunan Gresik sampai pada Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husain bin Ali RA. Sunan Gresik memperoleh didikan langsung dari ayahnya, Barokat Zainul Alam, seorang ulama kesohor di Kamboja.

Pada abad ke-14, ia hijrah ke daerah Jawa dan berlabuh di Gerwarasi atau Gresik. Sunan Gresik menginjakkan kaki pertama kali di Desa Sembalo, saat ini berada di daerah Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Tepatnya 9 kilometer ke arah utara kota Gresik.Pada saat itu, Gresik dikenal dengan bandar niaga yang maju dan terkenal di wilayah Asia Tenggara. Bersama rombongannya, ia berlayar ke Jawa pada 1371 dan menghadap Raja Majapahit Brawijaya untuk mendakwahkan Islam.

Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2016) menjelaskan bahwa Raja Majapahit menolak ajakan Islam Sunan Gresik, namun menyambut baik kedatangannya. Oleh Raja Majapahit, Sunan Gresik diangkat menjadi syahbadar dan diperbolehkan menyebarkan Islam kepada orang-orang setempat. Melalui restu itu, Sunan Gresik lalu mendirikan masjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.


1.2 Riwayat Keluarga


Sunan Gresik memiliki 3 isteri bernama:

1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak, bernama: M Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri.

2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu: Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad.

3. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu: Abbas dan Yusuf.

Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu Haji Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji (Sunan Ngudung). Selanjutnya Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq [Sunan Kudus].

1.3 Nasab Sunan Gresik

Nasab Sunan Gresik bersumber dari catatan dari As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari:

  1. Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
  2. Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti
  3. Al-Imam Al-Husain bin
  4. Al-Imam Ali Zainal Abidin bin
  5. Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin
  6. Al-Imam Ja’far Shadiq bin
  7. Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin
  8. Al-Imam Muhammad An-Naqib bin
  9. Al-Imam Isa Ar-Rumi bin
  10. Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin
  11. As-Sayyid Ubaidillah bin
  12. As-Sayyid Alwi bin
  13. As-Sayyid Muhammad bin
  14. As-Sayyid Alwi bin
  15. As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin
  16. As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin
  17. As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin
  18. As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
  19. As-Sayyid Abdullah bin
  20. As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin
  21. As-Sayyid Husain Jamaluddin bin
  22. As-Sayyid Barakat Zainal Alam
  23. As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)

1.4 Wafat

Syeikh Maulana Malik Ibrahim menghadap penciptanya pada tahun 1419 M. Beliau meninggal pada hari Senin 12 Rabiul Awal 822 H dan dikebumikan di daerah Gresik. Lokasi makamnya tepat berada di wilayah Gapura Wetan Gresik.

Di lokasi makam, terdapat dua buah bagian makam yang berisikan Sunan Gresik sendiri dan juga ulama Gresik lainnya. Tidak perlu khawatir akan akses menuju makamnya karena ia tidak terletak di pinggiran kota maupun di jalan yang menanjak, akan tetapi makam beliau terletak dekat dengan alun-alun Kota Gresik.

2 Islamisasi Jawa

 Sesampainya di Jawa, beliau melanjutkan kegiatan dakwahnya menggunakan beberapa cara atau metode. Dalam melakukan dakwahnya, beliau tidak pernah menggunakan kekerasan atau memaksa masyarakat, akan tetapi beliau dengan sabar mengenalkan Islam secara perlahan dan dengan kelembutan. Beliau juga berdagang berbagai macam kebutuhan pokok dengan harga murah dan mulai berinteraksi dengan masyarakat setempat. Melalui perdagangan, beliau bisa mendekati masyarakat dan sedikit-demi sedikit mulai bisa mengenalkan ajaran Islam.

Selain itu, beliau juga menawarkan diri untuk mengobati masyarakat yang sedang sakit dengan tidak memungut biaya alias gratis. Saat beliau masih di Campa, dikabarkan bahwa beliau pernah diundang ke salah satu kerajaan untuk mengobati seorang istri raja. Melalui ini lah seorang Maulana Malik Ibrahim ini dapat dengan mudah mendapatkan hati dan simpati rakyat.

Ulama Islam yang juga memiliki sebutan Kakek Bantal ini tidak berhenti hanya menggunakan metode perdagangan dan pengobatan. Namun, ia juga memanfaatkan profesi masyarakat yang rata-rata adalah seorang petani dengan cara mengajarkan mereka bercocok tanam. Beliau mengenalkan terobosan dan teknik baru dalam bercocok tanam sehingga menghasilkan panen yang lebih banyak.

Dengan ketiga metode dakwah di atas, Sunan Gresik berusaha untuk merangkul segala golongan khususnya masyarakat yang ada di kasta rendah di agama Hindu. Karena kasta rendah biasanya disisihkan dan tidak mendapat perhatian dari para pemimpin. Oleh karena itu, upaya Maulana Malik Ibrahim dalam merebut hati dan simpati rakyat menuai kesuksesan dimana saat itu juga bertepatan dengan terjadinya perang saudara dan kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat di sekitar, yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Pertama-tama yang dilakukan oleh Sunan Gresik adalah mendekati masyarakat melalui pergaulan dan berdagang. Budi bahasa yang ramah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari. Beliau tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan yang hidup dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kabaikan yang dibawa oleh agama Islam.

Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama Islam. Melalui berdagang beliau dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal. Setelah cukup mapan di masyarakat, Sunan Gresik kemudian melakukan kunjungan ke Ibukota Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura.

Demikianlah, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran Islam, Sunan Gresik membuka pesantren di daerah itu, yang merupakan kawah condrodimuko bagi estafeta perjuangan agama Islam di masa-masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih diziarahi oleh berjuta-juta umat Islam di Indonesia. Setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah. Ritual ziarah tahunan atau haul juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi'ul Awwal. Pada acara haul itu dilakukan khataman Al-Quran, mauludan (pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad), dan dihidangkan makanan khas bubur yang bernama harisah.

3 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

3.1 Guru-Guru Beliau


Guru beliau adalah:

Barokat Zainul Alam
Maulana Jumadil Kubro

3.2       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
Seiring waktu, masyarakat Gresik semakin tertarik memeluk Islam karena sosok Sunan Gresik yang santun, dermawan dan toleran. Kondisi ini mendorongnya membangun Masjid Pesucinan, kini dikenal dengan Masjid Maulana Malik Ibrahim, terletak di desa Leran, Kecamatan Manyar, wilayah pesisir utara Gresik. Masjid Pesucinan selain sebagai tempat ibadah digunakan juga sebagai tempat pembinaan mubalig, santri dan masyarakat, bahkan di tempat ini pula lahirnya pesantren pertama di Nusantara.

Sunan Gresik tidak hanya mengajarkan agama tapi pengetahuan tentang tehnik irigasi persawahan, dan tambak yang bertujuan memajukan ekonomi masyarakat pesisir di sekitar pantai utara Gresik.

4  Penerus Beliau

4.1 Anak-anak Beliau

  1. Raden Rahmat atau Sunan Ampel
  2. Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri.
  3. Abdullah,
  4. Ibrahim,
  5. Abdul Ghafur,
  6. Ahmad.
  7. Abbas
  8. Yusuf.

4.2      Murid-murid Beliau

01. Raden Paku (Sunan Giri)

5          Karomah

5.1.      Menurunkan Hujan, saat Musim Kemarau yang Berkepanjangan.

Pada saat mengembara disuatu tempat yang sangat amat panas dari kejauhan ia melihat kerumunan banyak orang. Orang-orang disitu mengelilingi panggung batu-batuan. Diatas batu-batuan itu terdapat seorang gadis berpakaian putih yang di apit oleh dua orang lelaki berbadan besar dan bengis. Dan memegangkan tangan sang gadis yang sembari meronta-ronta. Disitu juga ada seorang pendeta yang sedang membacakan mantranya. Si pendeta akan memulai upacaranya dengan memegang pisau.

Ditengah-tengah upacara itu, Sunan Gresik datang mengampirinya.

“Ada tontonan apa ini Tuan?”, tanya sunan. Lalu si pendeta menjawab “Upacara persembahan Tuan.

Dan kenapa gadis itu menjerit dan meronta-ronta..?. “Dialah gadis yang sebentar lagi akan dibunuh untuk dipersembahkan kepada dewa hujan.

Untuk apa..?, agar mendatangkan hujan karena daerah kami sudah mengalami kemarau yang berkepanjangan, sehingga ladang kami tidak bisa menghasilkan panen.

Sesaat lagi si pendeta akan menikamkan pisaunya ke tubuh sang gadis.

Hei Kalian ! Tunggu ! Jangan dibunuh gadis itu ! ucap Sunan Gresik .

Lalu Sunan Gresik memohon agar upacara ini diberhentikan akan tetapi kedua orang laki-laki berbadan besar langsung menyergap Sunan Gresik untuk ditangkapnya. Namun baru beberapa langkah saja kaki mereka berdua lumpuh tidak bisa bergerak.

Maaf tuan-tuan semuanya..! kami ingin membantu kalian, ucap Sunan Gresik .
Lalu dibantah oleh si pendetanya “Ah Omong Kosong! kalian tidak mungkin dapat membantu kami. Kami memerlukan air hujan!”.
Lalu Sunan Gresik berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Sudah berapa korban yang dibunuh?”, “Ini korban yang ketiga Tuan” ucap orang-orang disitu.

Apakah hujan sudah turun.. ?. “Belum Tuan…!  ucap orang-orang disitu.

Apakah kalian ingin tetap hujan turun..?. “Betul Tuan, kami sangat membutuhkan air hujan” ucap orang-orang secara serempak.

Baik Insya Allah Tuhan akan menolong kalian…!, ucap Sunan Gresik .

Sunan Gresik bersama santrinya menghadap ke kiblat, melakukan shalat sunah Istiqah (memohon hujan) dua rakaat. Beberapa saat kemudian langit terlihat mendung lalu hujan turun dengan lebatnya. Orang-orang bersorak gembira. sudah lama sekali mereka menantikan kehadiran hujan deras seperti ini.

Bapak-bapak Ibu-ibu sekalian berhentilah bersorak-sorak dan menari. Tenanglah.. !. Mari kita bersama-sama mengucap syukur Alhamudlilah…., ucap Sunan Gresik .

Lalu Sunan Gresik berkata jangan berterima kasih dan menyembah-nyembah kepadaku, karena hujan yang turun ini adalah kehendak Allah. Lalu orang-orang tersebut diajarkannya mengucap dua kalimat sahadat dan masuk agama Islam.

5.2  Dapat Mengubah Beras menjadi Pasir.

Sunan Gresik bersama seorang muridnya singgah di sebuah rumah. Rumah itu milik saudagar kaya. Menurut desas-desus pemilik rumah itu amat kikir. Padahal si empunya rumah adalah orang berada yang memiliki berton-ton beras. Saudagar kaya tersebut menerima dengan ramah kunjungan Sunan Gresik . Namun sesaat berselang, datanglah seorang pengemis, perempuan tua, ke hadapan orang kaya itu.
“Tuan, saya lapar sekali, bolehkah saya minta sedikit beras,” ujar perempuan tua itu sambil melirik ke karung beras yang berada di halaman.
“Mana beras..? Saya tidak punya beras, karung-karung itu bukan beras, tapi pasir,” ujar orang saudagar kaya itu.
Pengemis tua itu tertunduk sedih. Dia pun beranjak pergi dengan langkah kecewa. Kejadian itu disaksikan langsung Sunan Gresik . Ternyata apa yang di gunjingkan orang tentang muridnya ini benar adanya. Sunan Gresik bergumam dalam hati, dan beliau pun berdo’a. Tiba-tiba ramah-tamah antara murid dan guru itu terhenti dengan teriakan salah seorang pembantu orang kaya itu. “Celaka tuan, celaka..! Saya tadi melihat beras kita sudah berubah jadi pasir. Saya periksa karung lain, isinya pasir juga,” kata Pembantu itu dengan suara bergetar melaporkan.
Orang kaya itu terkejut, segera dia beranjak dari duduknya, di hampirinya beras-beras yang merupakan harta kekayaannya itu.

Ternyata benar, beras itu telah berubah menjadi pasir. Seketika tubuh orang kaya itu lemas. Dia pun bersimpuh menangis. Sunan Gresik lalu menghampirinya. “Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa beras yang kau miliki itu pasir, kenapa kau kini menangis,?”
“Maafkan saya Sunan. Saya mengaku salah. Saya berdosa,!” si murid meratap bersimpuh di kaki Sunan Gresik .
 “ Minta maaflah kepada Allah dan pengemis tadi. Kepada merekalah permintaan maafmu seharusnya kau lakukan,” ujar Sunan Gresik .

Penyesalan yang dalam langsung menyergap orang kaya itu. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berbuat kezaliman. Kepada Sunan Gresik dia berjanji akan mengubah semua perbuatannya. Sunan Gresik kembali berdoa, dan dengan izin Allah, beras yang telah berubah menjadi pasir itu menjadi beras kembali. Karena kekuatan yang berasal dari Allah memungkinkan kejadian itu. Orang kaya tersebut tidak membohongi lisannya. Dia berubah menjadi dermawan, tak pernah lagi dia menolak pengemis yang datang.

6   Keteladan Sunan Gresik

1.  Setelah pengikut beliau makin banyak, maka beliau mendirikan masjid. Beliau juga merasa perlu membangun bilik-bilik tempat menimba ilmu bersama. Model belajar seperti inilah yang kemudian dikenal dengan nama pesantren . Dalam mengajarkan ilmunya, Sunan Gresik punya kebiasaan khas: meletakkan Al-Quran atau kitab hadis di atas bantal. Karena itu beliau kemudian dijuluki ” Kakek Bantal ”.

2.  Beliau waktu itu bukan hanya berhadapan dengan masyarakat Hindu melainkan juga harus bersabar terhadap mereka yang tak beragama. Maupun mereka yang terlanjur mengikuti aliran sesat, juga meluruskan iman dari orang-orang Islam yang bercampur dengan kegiatan Musyrik.

 

7         Referensi
 

  1. Buku Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto,
  2. Buku Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Agus Sunyoto, Jakarta: Transpustaka, 2011
  3. Sejarah Perjuangan Sunan Ampel, Agus Sunyoto,
  4. Sejarah Wali Sanga, Purwadi,
  5. Dakwah Wali Songo, Purwadi dan Enis Niken,

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya