Biografi Sunan Muria (Raden Umar Said)

 
Biografi Sunan Muria (Raden Umar Said)

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Nasab Sunan Muria
1.4       Wafat          

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Guru-guru Beliau

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau

4         Metode Dakwah Beliau    
4.1      Menitik Beratkan pada Rakyat Jelata
4.2      Dakwah Bil Hikmah dengan Akulturasi Budaya
4.3      Mempertahankan Kesenian Gamelan dan Wayang
4.4      Menciptakan Beberapa Tembang Jawa
4.5      Guyang Cekathak

5         Karomah Beliau 
5.1      Air Gentong yang Mujarab
5.2      Maling Kopo

6         Keteladanan Sunan Muria

7         Peninggalan Sunan Muria
7.1      Pelana Kuda
7.2      Buah Parijoto
7.3      Tembang Macapat Sinom Parijotho

8         Referensi

 

1  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir

Menurut versi pertama ini,  Sunan Muria lahir dengan nama  Raden Umar Said. Ia memiliki dua orang adik perempuan, yaitu Dewi Rukayah dan Dewi Sofi yah. Sewaktu dewasa,  Raden Umar Said menikah dengan Dewi Sujinah, adik kandung Jakfar Shadiq atau  Sunan Kudus putra Raden Usman Haji atau  Sunan Ngudung.

 Sementara itu, menurut versi kedua yang berdasar naskah  Pustoko Darah Agung yang disusun  R. Darmowasito dan diringkas oleh R.  Mohammad Yahya Mertowinoto  (1969),  disebutkan  bahwa   Sunan  Muria  adalah  putra   Sunan Ngudung. Disebutkan bahwa dalam pernikahan dengan Dewi Sarifah, Sunan Ngudung memiliki empat orang putra: (1)  Raden Umar Said, (2)  Sunan Giri III, (3) Raden Amir Haji  Sunan Kudus, dan (4)  Sunan Giri II. Jika versi silsilah ini benar, maka Dewi Sarifah istri Sunan Ngudung adalah adik Sunan Kalijaga. 

Sejalan dengan sumber  Pustoko Darah Agung, meski terdapat perbedaan- perbedaan, C.L.N. Van Den Berg dalam  Le Hadhramout et Les Colonies Arabes dans l’Archipel Indien (1886) menyatakan bahwa semua wali di  Jawa adalah keturunan Arab. 

Mengaitkan Sunan Muria dengan  Sunan Kalijaga sebagai ayah beranak dalam konteks kebenaran silsilah  Sunan Muria, tampaknya lebih didukung oleh data historis dibanding menempatkan  Sunan Muria sebagai putra  Sunan Ngudung.

1.2  Riwayat Keluarga

Istri pertama Sunan Muria adalah Dewi Sujinah putri Sunan ngudung Adik dari Sunan Kudus dan dikarunia 1 orang anak :
1.    Saridin

Istri kedua Sunan Muria adalah Dewi Roro Noyorono Putri Ki Ageng Ngerang dan karuniai tiga orang anak :
1.    Sunan Nyamplungan 
2.    Raden santri 
3.    Dewi Nasiki.

1.3  Nasab Sunan Muria

Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga dari istri Dewi Saroh, sehingga data sejarah tersebut dapat disusun sebagai silsilah genealogis yang didapati sebagai berikut :

1.    Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
2.    Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti
3.    Al-Imam Al-Husain bin
4.    Al-Imam Ali Zainal Abidin bin
5.    Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin
6.    Al-Imam Ja’far Shadiq bin
7.    Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin
8.    Al-Imam Muhammad An-Naqib bin
9.    Al-Imam Isa Ar-Rumi bin
10.    Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin
11.    As-Sayyid Ubaidillah bin
12.    As-Sayyid Alwi bin
13.    As-Sayyid Muhammad bin
14.    As-Sayyid Alwi bin
15.    As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin
16.    As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin
17.    As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin
18.    As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
19.    As-Sayyid Abdullah bin
20.    As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin
21.    As-Sayyid Ali Nuruddin bin
22.    As- Sayyid Maulana Mansur bin
23.    Ahmad Sahuri alias Raden Sahur alias Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban ke-8)
24.    Sunan Kalijaga alias Raden Said
25.    Raden Umar Said (Sunan Muria).

1.4   Wafat     

Makam Sunan Muria terletak di lereng Gunung Muria, Kecamatan Colo, 18 km utara Kota Kudus. Untuk mencapai makam maka  perlu menaiki sekitar 700 tangga dari pintu gerbang. Letak makam Sunan Muria berada persis di belakang masjid Sunan Muria. Yang membedakannya dari makam wali lainnya, yaitu letak makam beliau yang menyendiri dan berada jauh dari para punggawanya, sama seperti sifatnya yang suka menyendiri.  

Dari pintu gerbang masih naik lewat beratus tangga (undhagan) menuju ke komplek makamnya, yang terletak persis di belakang Masjid Sunan Muria. Mulai naik dari pintu gerbang pertama paling bawah hingga sampai pelataran Masjid jaraknya kurang lebih 750 meter jauhnya. Setelah kita memasuki pintu gerbang makam, tampak di hadapan kita pelataran makam yang dipenuhi oleh 17 batu nisan. 

Menurut Juru Kunci makam, itu adalah makamnya para prajurit dan pada punggawa (orang-orang terdekat, ajudan dan semacam Patih dalam Keraton). Di batas utara pelataran ini berdiri bangunan cungkup makam beratapkan sirap dua tingkat. Di dalamnya terdapat makamnya Sunan Muria. Di sampingnya sebelah timur, ada nisan yang konon makamnya puterinya perempuan bernama Raden Ayu Nasiki. Dan tepat di sebelah barat dinding belakang masjid Muria, sebelah selatan mihrab terdapat makamnya Panembahan Pengulu Jogodipo, yang menurut keterangannya Juru Kunci adalah putera sulungnya Sunan Muria

2   Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1 Guru-guru Beliau

Dalam konteks keilmuan, dapat ditafsirkan bahwa  Sunan Muria mempelajari ilmu pengetahuan agama maupun cara-cara dakwah dari ayahandanya sendiri, yaitu Sunan Kalijaga. Namun, ada juga sumber cerita lisan tentang “Maling Kapa” yang salah satu bagiannya menuturkan bahwa  Sunan Muria pernah berguru kepada  Sunan Ngerang (Ki Ageng Ngerang) bersama-sama dengan Sunan Kudus dan Adipati Pathak Warak serta dua bersaudara Kapa dan Gentiri.

Guru-guru Sunan Muria saat menuntut ilmu adalah:
1.    Sunan Kalijaga
2.    Sunan Ngerang

3   Penerus Beliau

3.1  Anak-anak Beliau

Anak-anak Sunan Muria yang menjadi penerus beliau adalah:
1.    Saridin
2.    Sunan Nyamplungan
3.    Raden Santri
4.    Dewi Nasiki

4  Metode Dakwah Beliau

Beliau mempunyai peran besar dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Muria tidak jauh berbeda dengan Sunan Kalijaga yaitu mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah. Beliau berdakwah pada rakyat jelata di daerah Colo, tempat beliau berdakwah. Namun tempat tinggal beliau terletak di puncak Gunung Muria. Beliau merasa nyaman di sana, karena beliau bergaul bersama rakyat jelata, seraya mengajarkan bercocok tanam, berdagang dan melaut.

Sebagaimana  Sunan  Kalijaga,  Sunan  Muria  menjalankan  dakwah   Islam melalui  pendekatan  budaya.  Dalam  seni  pewayangan,  misal,   Sunan  Muria diketahui  suka  menggelar  sejumlah  lakon  carangan  pertunjukan  wayang gubahan Sunan Kalijaga seperti  Dewa Ruci, Dewa Srani, Jamus Kalimasada, Begawan Ciptaning, Semar Ambarang Jantur, dan sebagainya. Melalui media pertunjukan  wayang,   Sunan  Muria  memberikan  penerangan-penerangan kepada masyarakat tentang berbagai hal dalam kaitan dengan tauhid. Dengan pendekatan  lewat  pertunjukan  wayang,  tembang-tembang,  tradisi-tradisi lama,  dan  praktik-praktik  keagamaan  lama  yang  sudah  diislamkan, Sunan Muria lebih senang mengembangkan dakwah  Islam dengan masyarakat kalangan bawah dibandingkan dengan kaum bangsawan. Daerah dakwahnya cukup luas yaitu daerah Jepara,  Tayu, di lereng Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Juwana hingga ke daerah pesisir utara. Demikianlah, kisah-kisah legenda tentang  Sunan Muria berkembang turun-temurun di daerah-daerah tersebut.

Sunan Muria dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan masalah betapapun rumitnya masalah tersebut. Solusi pemecahan masalahnya pun dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru.

4.1 Menitik Beratkan pada Rakyat Jelata

Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Muria lebih toleran dengan memusatkan pada rakyat jelata dan bukan kaum bangsawan. Beliau lebih senang mengasingkan diri bersama rakyat jelata dibandingkan tinggal di pusat kerajaan Demak. Metode dakwah beliau sering disebut dengan Topo Ngeli, yang berarti menghanyutkan diri di dalam masyarakat. Dengan begitu, maka Sunan Muria lebih mudah dalam mengajak masyarakat untuk masuk agama Islam.

Sementara itu, agar bisa berbaur dengan masyarakat sekitar pegunungan tersebut, maka beliau kerap sekali memberikan kursus atau keterampilan untuk para pelaut, nelayan, pedagang, dan rakyat jelata. Dengan demikian maka beliau bisa mengumpulkan mereka yang notabenenya adalah pekerja yang sangat sulit untuk meluangkan waktu belajar agama. Jadi dengan adanya kursus maka Sunan Muria dapat dengan mudah menyampaikan ajaran Islam kepada mereka.

4.2  Dakwah Bil Hikmah dengan Akulturasi Budaya

Meskipun Sunan Muria diterima dengan baik oleh masyarakat, namun bukan berarti proses dakwah beliau berjalan dengan lancar. Kebanyakan penduduk yang berada di kawasan gunung Muria masih menganut kepercayaan turun temurun yang sangat kental dan sulit untuk dirubah. Oleh karenanya beliau sama seperti para wali yang lainnya yaitu lebih kepada metode dakwah bil hikmah, atau dengan cara-cara bijak yang tidak memaksa.

Dalam menyikapi kebiasaan masyarakat yang sering melakukan adat kenduren, maka Sunan Muria meniru gaya moderat ayahnya, yang tidak mengharamkan tradisi peringatan telung dino hingga sewu dino. Tradisi yang dilakukan untuk memperingati hari-hari tertentu kematian anggota keluarga ini tidak dilarang, kecuali adat untuk membakar kemenyan atau memberikan sesajen di tempat tertentu, yang kemudian diganti dengan sholawat dan do’a untuk ahli kubur.

4.3  Mempertahankan Kesenian Gamelan dan Wayang

Sama seperti para wali yang lain, Sunan Muria juga tetap mempertahankan alat musik daerah seperti gamelan dan kesenian tradisional wayang untuk media dakwahnya. Beliau tidak mengubah budaya yang ada, namun memasukkan ajaran-ajaran Islam di dalamnya. Beberapa lakon pewayangan dirubah karakternya dengan membawa pesan-pesan Islam, seperti kisah Dewa Ruci, Petruk dadi Ratu, Jimat Kalimasada, Mustakaweni, Semar ambarang Jantur, dan lain sebagainya.

4.4  Menciptakan Beberapa Tembang Jawa

Selain mempertahankan kesenian daerah seperti gamelan dan wayang, Sunan Muria juga menciptakan beberapa tembang Jawa macapat yang berisi tentang ajaran Islam. Beberapa karyanya yang terkenal hingga saat ini yaitu tembang Sinom dan Kinanthi. Dengan menggunakan tembang atau lagu maka masyarakat akan dengan mudah menerimanya, dan mampu mengingat nilai-nilai serta ajaran Islam yang terkandung di dalamnya untuk bisa diterapkan dalam kehidupan.

Generasi awal masyarakat  Islam yang keberadaannya dikembangkan  Wali Songo,  dengan  pengetahuan  dan  pemahaman  yang  terbatas  pada  tradisi kakawin dan kidung, kemudian mengembangkan tradisi penulisan tembang gede (metrum besar). Sekalipun aturan persajakannya berdasarkan metrum kakawin  dengan  mempertahankan  bait-bait  yang  terdiri  atas  empat  baris dengan sejumlah suku kata tertentu, tetapi mereka melepaskan sama sekali kaidah-kaidah mengenai kuantitas metrum kakawin.
 
Para wali penyebar Islam bahkan mengembangkan lagi bentuk tembang gede menjadi tembang yang lebih  sederhana,  yaitu  tembang  tengahan  (metrum  madya)  dan  tembang cilik (metrum kecil). Jenis tembang gede disebut Girisa. Tembang tengahan diklasifi kasi menjadi lima jenis: (1) Gambuh, (2) Megatruh, (3) Balabak, (4) Wirangrong, dan (5) Jurudemung. 

Sedangkan tembang cilik diklasifi kasi menjadi sekitar sembilan jenis: (1) Kinanthi, (2) Pucung, (3) Asmaradhana, (4) Mijil, (5) Maskumambang, (6) Pangkur, (7) Sinom, (8) Dhandhanggula, dan (9) Durma.

Di dalam tradisi penulisan tembang, masing-masing tokoh  Wali Songo kecuali Sunan Ampel dan  Sunan Gresik yang berasal dari  Champa dihubungkan dengan  berbagai  penciptaan  tembang.  Tokoh   Sunan Giri,  misal,  dianggap sebagai pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Asmaradhana dan Pucung; Sunan Kalijaga dianggap sebagai pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Dhandhanggula;  Sunan Bonang dianggap sebagai pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Durma;  Sunan Kudus dianggap sebagai pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Maskumambang dan Mijil; Sunan Drajat dianggap sebagai pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Pangkur;  Sunan Muria dianggap sebagai pencipta tembang-tembang cilik (sekar alit) jenis Sinom dan Kinanthi.

Sunan Muria mempunyai peran besar dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Muria tidak jauh berbeda dengan Sunan Kalijaga yaitu mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah. Beliau berdakwah pada rakyat jelata di daerah Colo, tempat beliau berdakwah. Namun tempat tinggal beliau terletak di puncak Gunung Muria. Beliau merasa nyaman di sana, karena beliau bergaul bersama rakyat jelata, seraya mengajarkan bercocok tanam, berdagang dan melaut.

Bahkan, lewat kesenian itu sebagai media dakwah beliau menghasilkan sebuah tembang Sinom dan Kinanti. Adapun wilayah yang menjadi sasaran dakwahnya meliputi, Tayu, Juwana, Kudus, dan Lereng Gunung muria. Kemudian beliau dikenal dengan sebutan Muria, karena letaknya yang berada di Lereng Gunung Muria. Dengan tembang-tembang itu ia mengajak umat agar mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.  

4.5  Guyang Cekathak

Guyang Cekathak merupakan tradisi meminta hujan. Tradisi ini dikenal dengan mencuci (guyang) pelana kuda milik Sunan Muria. Ritual ini biasa dilakukan pada hari Jumat Wage di musim kemarau, sekitar bulan Agustus-September. Guyang Cekathak digelar di dekat Sendang Rejoso. Hujan yang diminta dalam ritual ini bertujuan agar air dari Sendang Rejoso ini tidak kering. Hingga saat ini Sendang Rejoso selalu mengalirkan air dan tidak pernah kering meski pada musim kemarau panjang.   

5     Karomah Beliau

5.1  Air Gentong yang Mujarab

Sunan Muria memiliki air yang disimpan didalam gentong (tempat air besar). Air yang sudah didoakan oleh beliau memilki khasiat yang luar biasa. Atas ijin Allah air ini bisa menjadi obat jika diminum. Air gentong ini dipercaya masyarakat memiliki keberkahan untuk mengobati segala penyakit. Air gentong ini juga dapat meningkatkan kecerdasan bagi orang yang meminumnya. Karena itu, hingga saat ini air gentong tersebut masih digunakan ketika peziarah datang.

5.2 Maling Kopo

Sunan Muria juga berguru kepada sunan Ngerang (Ki Ageng Ngerang) bersama dengan sunan Kudus dan Adipati Pethak Warak serta kedua saudaranya Kopo dan Gentiri. Maling Kopo adalah istilah yang diberikan kepada Kopo yang telah menculik istri sunan Muria yaitu Dewi Roroyono. Dewi Roroyono adalah putri dari sunan Ngerang.

Hal ini diketahui ketika Dewi Roroyono diculik oleh salah satu adik seperguruannya kemudian menyerang dan menggunakan aji pamungkas menuju Sunan Muria. Sunan Muria kemudian menjadikan serangan beserta aji pamungkas tersebut berbalik dan menyerang adik seperguruannya tersebut sehingga menyebabkan meninggal dunia. Hal ini yang dikatakan senjata makan tuan, niat jelek yang akan memberikan dampak buruk bagi pelakunya.

Dan istilah maling Kopo hingga saat ini masih terkenal. Maling Kopo adalah istilah kepada seseorang laki-laki yang menculik seorang wanita untuk dijadikan istrinya.

6  Keteladanan Sunan Muria

Beliau dengan ikhlas menyebarluaskan agama islam baik secara langsung maupun melalu kesenian Jawa. Nilai teladan : Toleransi, saling menghargai, kasih sayang pada sesama. Dakwahnya melalui kesenian sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil, selain itu menciptakan tembang tombo ati yang sekarang masih dikenal.

Bahkan sifat keteladanan yang dimiliki oleh Sunan Muria tersebut dapat tergambar dari cara beliau yang lebih memilih masyarakat kecil untuk berdakwah serta memilih untuk meninggalkan keramaian di kerajaan Demak.

7  Peninggalan Sunan

Beberapa ajaran Sunan Muria dalam meruwat bumi antara lain melalui tradisi Guyang Cekathak, buah Parijoto, hingga tembang macapat Sinom Parijoto.

7.1 Guyang Cekathak

Pelana kuda milik Sunan Muria biasanya digunakan ritual memanggil hujan biasanya digelar pada hari jumat wage di musim kemarau, ritual ini dikenal dengan tradisi guyang Cekathak Ritual diawali dengan membawa pelana kuda peninggalan Sunan Muria dari Komplek Masjid Muria ke mata air Sedang Rejoso di Bukit Muria.
Di mata air ini, pelana kuda kemudian dicuci lalu air sendang lalu dipercik-percikan ke warga. Usai mencuci pelana kuda, dilanjutkan dengan membacakan doa dan menunaikan salat minta hujan (Istisqa). Lalu ditutup dengan makan bersama dengan lauk-pauk berupa sayuran dipadu dengan parutan kelapa, opor ayam dan gulai kambing.
Disediakan juga makanan penutup berupa minuman khas warga Kudus berupa dawet yang melambangkan bahwa butiran dawet adalah lambang turunnya hujan

7.2  Buah Parijoto

Buah Parijoto menjadi salah satu oleh-oleh khas jika berziarah ke makam Sunan Muria. Konon, buah ini sudah dikonsumsi sejak Sunan Muria masih hidup. Bahkan Sunan Muria menganjurkan agar wanita hamil memakan buah Parijoto. Dengan memakan buah itu, diharapkan bayi yang lahir jika laki-laki akan berparas tampan, dan jika perempuan berparas cantik. Seiring perkembangan zaman, semakin terungkap bahwa buah Parijoto memiliki khasiat yang luar biasa untuk kesehatan. Baca juga: Strategi Dakwah Wali Songo

7.3   Tembang Macapat Sinom Parijotho

Tembang macapat merupakan salah satu bentuk kesusastraan Jawa yang syair atau lagu. Tembang macapat biasanya melambangkan perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga menghembuskan nafas terakhir. Tembang Macapat Sinom Parijotho ini merupakan tembang ciptaan Sunan Muria yang memiliki makna yang sangat mendalam. Sama seperti buah Parijoto, tembang macapat ini juga dianjurkan untuk diperdengarkan kepada wanita yang sedang hamil, dan yang sulit mendapat momongan. Tembang macapat Sinom Parijotho berisi pengingat bagi masyarakat Jawa agar menjadi sosok yang mampu meredam hawa nafsu dan membangun cinta kasih kepada sesama.

8  Referensi

1.    Buku Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto,
2.    Buku Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Agus Sunyoto, Jakarta: Transpustaka, 2011
3.    https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/makam-sunan-muria-di-kudus/
 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya