Biografi KH. Muhyiddin Pagelaran (Mama Pagelaran)

 
Biografi KH. Muhyiddin Pagelaran (Mama Pagelaran)

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Murid-murid Beliau

4          Jasa, Karier dan Karya
4.1       Jasa Beliau
4.2       Karier Beliau
4.3       Karya Beliau

5         Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir
KH. Muhyiddin adalah seorang ulama besar yang lahir di Garut, tepatnya di sebuah daerah yang bernama Kampung Banyuresmi. Beliau lahir tepat pada saat gunung krakatau meletus sekitar tahun 1882. KH. Muhyiddin adalah putra dari pasangan suami istri Bapak Ahmad Narif dan ibu Eno. sejak kecil KH. Muhyiddin sudah terlihat cerdas dan pintar, karena itu, beliau kemudian dimasukan ke beberapa pesantren yang berada didaerah Garut.

KH. Muhyiddin merupakan pendiri Pesantren Pagelaran, salah satu pondok pesantren tertua di Jawa Barat. Pesantren ini berdiri di tiga tempat. Dua diantaranya di Kabupaten Subang, yaitu Pagelaran I di Cimeuhmal, Kecamatan Tanjungsiang dan Pagelaran III di Desa Gardusayang, Kecamatan Cisalak. Sementara satu lagi berada di pusat Kota Sumedang, yaitu Pesantren Pagelaran II.

1.2       Wafat
Beliau meninggal dunia pada tahun 1973 dalam usia 93 tahun dan dimakamkan di kompleks Pesantren Pagelaran I Cimeuhmal Kecamatan Tanjungsiang.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
Pesantren terakhir tempat beliau menuntut ilmu adalah pesantren milik KH. Abdul Hamid, yang kemudian menjadi mertuanya; ayah dari istri pertamanya yaitu Ibu Quraesyin. KH. Muhyiddin telah menjadi seorang ulama walaupun usianya masih muda. Beliau menjadi tokoh panutan yang begitu dekat dengan masyarakat yang pada saat itu sangat mendambakan sosok tokoh yang mengerti tentang agama Islam. bersama KH. Abdul Hamid, beliau berdakwah dan mendidik masyarakat yang masih sangat minim terhadap pengajaran agama. Berkat dakwah beliau, kekacauan-kekacauan yang kerapkali terjadi di masyarakat pun akhirnya bisa terkendali.

2.2       Guru-guru Beliau
KH. Abdul Hamid

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
Dalam perjalanannya, KH. Muhyiddin mendirikan pesantren di tiga lokasi, yang diberi nama ‘Pagelaran’. Yakni, Pagelaran I di Kampung Cimeuhmal Kecamatan Tanjungsiang, Subang; Pagelaran II di pusat Kota Sumedang; dan Pagelaran III di Desa Gardusayang Kecamatan Cisalak, Subang.

Pada 1900, Bupati Sumedang, Pangeran Mekkah, meminta Bupati Limbangan (sekarang Garut) mengirim tokoh agama untuk menyebarkan Islam di daerahnya. Saat itu, atas permintaan Bupati Limbangan, KH. Muhyiddin berangkat untuk mengajarkan Islam di Sumedang, tepatnya di daerah Cimalaka, yang sekarang dikenal Kampung Pesantren.

Belakangan, kepemimpinan pesantren tersebut diserahkan kepada muridnya, yang bernama KH. Nahrawi, sementara KH. Muhyiddin sendiri pindah ke daerah Cimeuhmal Kecamatan Tanjungsiang, Subang.

Di daerah Cimeuhmal inilah, sekitar tahun 1918, Muhyidin resmi mendirikan sebuah pesantren yang diberinya nama ‘Pagelaran’ (kini bernama Pagelaran I). Yang menarik, pesantren ini pernah dijadikan sebagai basis dan markas Laskar Hizbullah, yakni sebuah organisasi tentara pejuang dari kaum muslimin yang diantaranya para santri untuk melawan kaum penjajah Belanda.

Akibat aktivitas perlawanannya terhadap tentara Belanda ini, Muhyidin pun ditangkap oleh Belanda dan dijebloskan ke Rutan Kebonwaru di Kota Bandung. Pada tahun 1945, pasca Proklamasi Kemerdekaan RI dan selepas dari Rutan Kebonwaru, KH. Muhyiddin kembali ke pesantrennya di Cimeuhmal. Namun, situasi saat itu ternyata sedang kacau karena muncul gerombolan akibat pergolakan politik di Indonesia.

Kondisi tersebut memaksa KH. muhyiddin dan keluarga meninggalkan pesantrennya dan mengungsi ke Sumedang sekitar tahun 1950, tepatnya di daerah yang sekarang berdiri Mesjid Agung Kota Sumedang. Di daerah ini, kedatangan KH. Muhyiddin disambut masyarakat, yang mendorongnya kembali mendirikan sebuah pesantren, yang  juga diberinya nama’Pagelaran'(kini bernama Pagelaran II).

Belakangan, setelah situasi politik mulai mereda, seiring ditumpasnya gerombolan oleh pemerintahan Presiden Soekarno, sejumlah santri (murid) KH. Muhyiddin dan masyarakat Cisalak, memintanya untuk kembali ke Subang dan mendirikan pesantren baru. Maka pada 1962, Muhyidin pulang ke Subang, tepatnya ke daerah Gardusayang Kecamatan Cisalak, dan kembali mendirikan pesantren baru, yang lagi-lagi diberinya nama ‘Pagelaran’ (kini bernama Pagelaran III). Di pesantrennya yang ketiga inilah, KH. Muhyiddin menetap cukup lama hingga akhir hayatnya.

3          Penerus Beliau

3.1       Murid-murid Beliau
            KH. Nahrawi

4          Jasa, Organisasi, Karier dan Karya

4.1       Jasa Beliau
Dalam dakwahnya, KH. Muhyiddin selalu mengajak rakyat untuk menantang penjajahan pemerintahan Kolonial Belanda, sehingga Mama Pagelaran ini sempat ditawan pada 1939. Berdasarkan catatan sejarah, KH. Muhyiddin melakukan pengabdian yang luar biasa terhadap bangsa ini melalui pengorbanan dan perjuangannya dalam membela tanah air dengan melakukan perlawanan terhadap penjajahan.

Bahkan akibat dari perjuangan itu pada 1939 beliau pernah ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan ditahan di penjara Sukamiskin Bandung, salah satu bentuk perjuangan lain KH. Muhyiddin yakni ketika tentara NICA atau Nederlands Indie Civil Administration datang ke tanah air pada 1946 dan berniat ingin kembali menjajah NKRI, dengan semangat nasionalismenya KH Muhyidin memimpin langsung pertempuran melawan pasukan NICA di Jawa Barat khususnya di daerah Ciater, Isola, dan Cijawura.

Tak hanya itu, setahun berikutnya yakni pada 1947, beliau juga ikut meredam pemberontakan yang dilakukan DI/TII atas pemerintahan Republik Indonesia. KH. Muhyiddin dengan tegas bersikap menolak keberadaan DI/TII. Sayangnya, justru terdapat sejumlah murid KH. Muhyidin di Hizbullah yang masuk dalam gerombolan pimpinan Kartosuwiryo itu. Kondisi ini merugikan KH. Muhyiddin karena beliau dianggap masuk ke gerombolan DI/TII dan pasukan TNI pun mencurigainya menjadi salah satu pemberontak.

Melihat kecurigaan dan khawatir ditanggap TNI, KH. Muhyiddin dan pengikutnya kemudian lari dan mengungsi ke Kabupaten Sumedang pada tahun 1950, tepatnya di daerah yang sekarang berdiri Mesjid Agung Kota Sumedang. Di daerah ini, kedatangan KH. Muhyiddin disambut masyarakat, yang mendorongnya kembali mendirikan sebuah pesantren Pagelaran II.

4.2       Karier Beliau
Pengasuh pesantren Pagelaran I, II, dan III

4.3       Karya Beliau
Kitab tersebut ialah karya terjemahan Sunda Pegon atas Hâsyiah al-Dardîr berbahasa Arab karya al-Imâm al-Dardîr (w1786)

5         Referensi

https://pesantren-pagelaran3.sch.id/about/

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya