Biografi Kiai Marogan Palembang

 
Biografi Kiai Marogan Palembang
Sumber Gambar: Dok. Laduni.ID

Daftar Isi Biografi Kiai Marogan Palembang

1.         Riwayat Hidup
1.1       Lahir
1.2       Nasab
1.3       Keluarga
1.4       Wafat

2.         Sanad Ilmu dan Pendidikan
2.1       Perjalanan Menuntut Ilmu
2.2       Guru

3.         Teladan
3.1       Giat Berbisnis

4.         Mendirikan Masjid

5.         Karomah

6.         Referensi

Kiai Marogan terlahir dengan nama Masagus H. Abdul Hamid bin Masagus H. Mahmud. Namun bagi masyarakat Palembang, julukan “Kiai Marogan” lebih terkenal dibanding nama lengkapnya. Julukan Kiai Marogan dikarenakan lokasi masjid dan makamnya terletak di Muara sungai Ogan, anak sungai Musi, Kertapati Palembang.

1.         Riwayat Hidup
1.1       Lahir

Mengenai waktu kelahirannya, tidak ditemukan catatan yang pasti. Ada yang mengatakan, ia lahir sekitar tahun 1811, dan ada pula tahun 1802. Namun menurut sumber lisan dari zuriatnya, dan dihitung dari tahun wafatnya dalam usia 89 tahun, maka yang tepat adalah ia lahir tahun 1802.

1.2       Nasab

Kiai Marago dilahirkan oleh seorang ibu bernama Perawati yang keturunan Cina, dan Ayah yang bernama Masagus H. Mahmud alias Kanang, keturunan priyayi atau ningrat. Dari surat panjang hasil keputusan Mahkamah Agama Saudi Arabia, diketahui silsilah keturunan Masagus H. Mahmud berasal dari sultan-sultan Palembang yang bernama susuhunan Abdurrahman Candi Walang. Berikut ini adalah silsilah beliau sampai ke Rasulullah:

  1. Masagus Haji Abdul Hamid (Kyai Marogan) bin
  2. Mgs. H. Mahmud Kanang bin
  3. Mgs. Taruddin bin
  4. Mgs. Komaruddin bin
  5. Pangeran Wiro Kesumo Sukarjo bin
  6. Pangeran Suryo Wikramo Kerik bin
  7. Pangeran Suryo Wikramo Subakti bin
  8. Sultan Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayyidul Imam bin
  9. Pangeran Sedo Ing Pasarean (Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI ) bin
  10. Tumenggung Manco Negaro bin
  11. Pangeran Adipati Sumedang bin
  12. Pangeran Wiro Kesumo Cirebon (Tumenggung Mintik) bin
  13. Sayyid Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin
  14. Sayyid Maulana Ishaq (Syeikh Al Umul Islam) bin
  15. Sayyid Ibrahim Akbar bin
  16. Sayyid Husain Jamaluddin Al Akbar bin
  17. Sayyid Achmad Syah Jalal Umri bin
  18. Sayyid Abdullah Azmatkhan bin
  19. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
  20. Sayyid Alwi bin
  21. Sayyid Muhammad Shohib Mirbat bin
  22. Sayyid Ali Khaliq Qosam bin
  23. Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin
  24. Sayyid Alwi bin Sayyid Abdullah bin
  25. Sayyid Ahmad Al Muhajir bin
  26. Sayyid Isa Arrumi bin
  27. Sayyid Muhammad An Naqib bin
  28. Sayyid Ali Al Ridho bin Sayyid Ja’far Shidiq bin
  29. Sayyid Muhammad Al Baqir bin
  30. Sayyid Ali Zainal Abidin bin
  31. Sayyidina Husain bin (Ali bin Abi Tholib dan Fatimah Az Zahro binti “Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam

1.3       Keluarga

Kiai Marogan (Mgs.H. Abdul Hamid) dan saudaranya Mgs.H Abdul Aziz. terlahir dari perkawinan orangtuanya (Ayah) yang bernama Mgs. H. Mahmud dan (ibu) Perawati (keturunan Cina) adapun saudaranya yang lain (Lain Ibu) bernama Msy.Khadijah dan Msy. Hamidah. Kiai Marogan hanya memiliki seorang adik yang bernama Masagus KH. Abdul Aziz, yang juga menjadi seorang ulama dengan sebutan Kiai Mudo. Sebutan ini dikarenakan ia lebih muda dari Kiai Marogan.

Kiai Mudo lebih dikenal di daerah Muara Enim seperti Gumay, Kertomulyo, Betung, Sukarame, Gelumbang, Lembak dan sekitarnya.

Kiai Marogan memiliki dua orang isteri yang bernama Masayu Maznah dan Raden Ayu salmah. Dari pernikahannya ia dikarunia tiga putra putri yaitu:

  1. Masagus H. Abu Mansyur,
  2. Masagus H. Usman, dan
  3. Masayu Zuhro.

1.4       Wafat

Kiai Maragon wafat pada 17 Rajab 1319 H yang bertepatan dengan 31 Oktober 1901.

2.        Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1      Perjalanan Menuntut Ilmu

Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan dari keluarga bangsawan, Kiai Marogan memperoleh pendidikan agama dengan istimewa. Hal ini dikarenakan di dalam lingkungan kesultanan Palembang, agama Islam mempunyai tempat yang terhormat, di mana hubungan antara negara dan agama sangat erat, sebagaimana dibuktikan oleh birokrasi agama di istana Palembang. Birokrasi ini dipimpin oleh seorang pegawai dengan gelar Pangeran Penghulu Naga Agama.

Di samping itu, Kiai Marogan memperoleh pendidikan langsung dari orang tuanya yang ternyata merupakan seorang ulama besar yang lama belajar di Mekah dibawah bimbingan ulama besar seperti Syekh Abdush Shomad al-Falimbani. Setelah wafat, ayah Kiai Marogan dimakamkan di negeri Aden, Yaman Selatan.

Melihat kecerdasan Kiai Marogan dalam menyerap ilmu agama kemudian orang tuanya mengirimkannya ke Mekah untuk belajar mendalami ilmu-ilmu agama. Kiai Marogan tercatat pernah belajar ilmu-ilmu agama seperti ilmu fiqih, hadis dan tasawuf. Hal ini dapat diperoleh dari isnad-isnad yang ditulis oleh Syekh Yasin al-Fadani, mudir (pimpinan) Madrasah Darul Ulum Mekah.

Dasar-dasar pendidikan agamanya diberikan oleh ayahnya sendiri, Ki. Mgs. H. Mahmud Kanang yang juga sebagai sufi kelana dan wafat di Kota Aden Yaman, yang makamnya terkenal dengan nama “Kubah al-Jawi”.

Ketika remaja Abdul Hamid belajar berbagai disiplin ilmu agama Islam kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu seperti: Syekh Pangeran Surya Kusuma Muhammad Arsyad (w.1884), Syekh Kemas Muhammad bin Ahmad (w.1837), Syekh Datuk Muhammad Akib (w.1849), dll. Ia berpegang kepada akidah ahlussunnah wal jamaah, bermazhabkan Imam Syafii'. Sedang dibidang tasawwuf, ia mengamalkan dan mendapat ijazah Tarekat Sammaniyah dari ayahnya sendiri dan Tarekat Naqsyabandiyah dari para gurunya.

Selanjutnya ia meneruskan studinya ke tanah suci, terutama Makkah dan Madinah kepada gurunya Sayid Ahmad Zaini Dahlan, Sayid Ahmad Dimyati dan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Sedangkan kawan seperguruannya saat itu antara lain Imam Nawawi Banten (1813-1897), KH. Kholil Bangkalan (1820-1925), KH. Mahfuz Termas (1824-1920), Kgs. Abdullah bin Ma’ruf, dan lain-lain.

Setelah merampungkan studinya di tanah suci, ia berkeinginan untuk hijrah ke Masjidil Aqsa, namun niat tersebut diurungkannya. Karena ia memperoleh petunjuk bahwa negerinya masih sangat memerlukannya, dimana beliau meninggalkan dua anak yatim yang tak lain Masjid Kiai Merogan dan Masjid Lawang Kidul.

2.2       Guru

  1. Mgs. H. Mahmud (Ayah), 
  2. Syekh Pangeran Surya Kusuma Muhammad Arsyad (w.1884),
  3. Syekh Kemas Muhammad bin Ahmad (w.1837),
  4. Syekh Datuk Muhammad Akib (w.1849), 
  5. Sayid Ahmad Zaini Dahlan,
  6. Sayid Ahmad Dimyati dan
  7. Syekh Ahmad Khatib Sambas

3.         Teladan
3.1       Giat Berbisnis

Pada masa mudanya Kiai Marogan dikenal giat berbisnis di bidang saw-mill atau perkayuan. Ia memiliki dua buah pabrik penggergajian kayu. Bakat bisnis mungkin diperoleh dari ibunya yang merupakan keturunan Cina. Berkat sukses dalam bisnis kayu ini memungkinkan Kiai Marogan untuk pulang pergi ke tanah suci dan menjalankan kegiatan penyebaran dakwah di pedalaman Sumatra Selatan.

4.         Mendirikan Masjid

Dari hasil bisnis usaha kayunya Kiai Marogan mampu mendirikan sejumlah masjid yang diperuntukkan sebagai pusat pengajian dan dakwah. Banyak ajaran Kiai Marogan yang masih melekat di sebagian penduduk Palembang, di antaranya adalah sebuah dzikir: “La ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin Muhammadur Rasulullah Shadiqul Wa’dul Amin”, yang artinya “Tiada Tuhan Selain Allah, Raja Yang Benar dan Nyata, Muhammad adalah Rasulullah Yang Jujur dan Amanah.”

Dzikir yang diamalkan oleh Kiai Marogan di atas, ternyata sumbernya di dalam hadis. Dari Sayyidina Ali Ra Karramallahu wajhahu berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa setiap hari membaca 100 x Lailahaillah al-Maliku al-Haqqu al-Mubin, maka ia akan aman dari kefakiran, jadi kaya, tenang di alam kubur, dan mengetuk pintu surga. Konon, amalan zikir ini dibaca oleh Kiai Marogan dan murid-muridnya dalam perjalanan di atas perahu. Sambil mengayuh perahu, beliau menyuruh murid-muridnya mengucapkan zikir tersebut berulang-ulang sepanjang perjalanan dengan suara lantang.

Zikir ini dapat menjadi tanda dan ciri khas penduduk apabila ingin mengetahui Kiai Marogan melewati daerahnya. Amalan zikir ini ternyata sampai sekarang masih dibaca oleh Wong Palembang, khususnya kaum Ibu-ibu ketika menggendong anak bayi untuk menimang atau menidurkan anaknya dengan irama yang khas dan berulang-ulang. Dan dzikir ini juga dipakai oleh penduduk untuk mengantarkan mayit sambil mengusung keranda sampai ke pemakaman.

5.         Karomah

Kiai Maragon memiliki banyak sekali karomah semasa hidupnya di antara keramat beliau yang masih dapat diingat sampai sekarang oleh wong Palembang yaitu:

  1. Ikan dalam Buah Kelapa,
  2. Dapat Menahan Perahu Agar Tak Karam,
  3. Ikan Mati Hidup Kembali, dll.

6.         Referensi

Dinukil dari berbagai sumber

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya