Biografi Sa’id Ramadhan Al-Buthi

 
Biografi Sa’id Ramadhan Al-Buthi

Daftar Isi Profil Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Nasab
  5. Karya

 

Kelahiran

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi yang mempunyai nama lengkap Muhammad Sa’id ibnu Mula Ramadhan ibnu Umar al-Buthi lahir pada tahun 1929 di Desa Jilka, Pulau Buthan (Ibn Umar), sebuah kampung yang terletak di bagian utara perbatasan antara Turki dan Irak. Ia berasal dari suku Kurdi, yang hidup dalam berbagai tekanan kekuasaan Arab-Irak selama berabad-abad.

Wafat

Beliau wafat diserang bom bunuh diri tepat saat beliau mengisi Ta'lim di Masjid Jami' Al Iman di Kota Damaskus, Suriah, ba`da maghrib hari Kamis, 21 Maret 2013. Beliau Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi adalah salah seorang tokoh ulama dunia yang menjadi sumber rujukan masalah-masalah keagamaan. Ketika kritikan terhadap tradisi Maulid dan dzikir berjama’ah, misalnya, dilontarkan para pengklaim “muslim sejati”, Al-Buthi hadir menjawab kritikan itu. Tak tanggung-tanggung, dalil yang digunakan sama persis dengan dalil yang diambil para pengkritik itu. Kata Al-Habib Ali Al-Jufri, "Aku telah menelefonnya dua minggu lepas dan beliau (Dr Ramadhan Al-Buti) berkata pada akhir kalamnya, ‘Tidak tinggal lagi umur bagi aku melainkan beberapa hari yang boleh dikira’. Sesungguhnya aku sedang mencium bau syurga dari belakangnya. Jangan lupa wahai saudaraku untuk mendoakan aku"

Pendidikan

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mendapatkan Pendidikan agama pertama dari sang ayah. Belaiu mempelajari tentang aqidah, sirah nabi, ilmu alat, nahwu, dan Sharaf. Beliau sanggup menghafal kitab Alfiyah Ibnu Malik dan mampu menghafal 1000 bait sya’ir kitab tersebut, padahal usia beliau masih 4 tahunan. Dan pada usia 6 tahun beliau sudah khatam Al-Quran.

Said Ramadhan al-Buthi juga menempuh pendidikan di Ma’had at-Taujih al-Islamy Damaskus, di bawah bimbingan al-‘allamah Syekh Hasan Habannakeh rahimahullah, dan pada tahun 1953 M beliau menyelesaikan pendidikannya. Di usia beliau yang belum melewati 17 tahun, beliau telah mampu naik mimbar untuk menjadi khatib.

Pada tahun tersebut al-Buthi menuju Cairo Mesir dan meneruskan studinya dengan spesialisasi ilmu Syariah hingga memperoleh Ijazah Licence. Pendidikan Diplomanya (setingkat S2) ia ikuti di Fakultas Bahasa Arab. Pada tahun 1965, beliau menyelesaikan program Doktornya di Universitas Al-Azhar dengan predikat Mumtaz Syaf ‘Ula. Disertasi beliau, “Dlawabit al-Mashlahah fi asy-Syari’at al-Islamiyyah” mendapatkan rekomendasi Jami’ah al-Azhar sebagai “Karya Tulis yang Layak Dipublikasikan”.

Nasab

Bersama ayahnya, Syaikh Mula Ramadhan, dan anggota keluarganya yang lain, Al-Buthi hijrah ke Damaskus pada saat umurnya baru empat tahun. Ayahnya adalah sosok yang amat dikaguminya. Dalam karyanya yang mengupas biografi kehidupan sang ayah, Al-Fiqh al-Kamilah li Hayah asy-Syaikh Mula Al-Buthi Min Wiladatihi Ila Wafatihi, Syaikh Al-Buthi mengurai awal perkembangan Syaikh Mula dari masa kanak-kanak hingga masa remaja saat turut berperang dalam Perang Dunia Pertama.

Kemudian menceritakan pernikahan ayahnya, berangkat haji, hingga alasan berhijrah ke Damaskus, yang di kemudian hari menjadi awal kehidupan baru bagi keluarga asal Kurdi itu. Masih dalam karyanya ini, Al-Buthi menceritakan kesibukan ayahnya dalam belajar dan mengajar, menjadi imam dan berdakwah, pola pendidikan yang diterapkannya bagi anak-anaknya, ibadah dan kezuhudannya, kecintaannya kepada orang-orang shalih yang masih hidup maupun yang telah wafat. Hubungan baik ayahnya dengan para ulama Damaskus di masa itu, seperti Syaikh Abu Al-Khayr Al-Madani, Syaikh Badruddin Al-Hasani, Syaikh Ibrahim Al-Ghalayayni, Syaikh Hasan Jabnakah, dan lainnya, yang menjadi mata rantai tabarruk bagi Al-Buthi. Begitu besarnya atsar (pengaruh) dan kecintaan sang ayah, hingga Al-Buthi begitu terpacu untuk menulis karyanya tersebut.  

Karya

Beliau juga merupakan seorang pemikir Islam moderat sekaligus penulis yang sangat produktif. Terhitung total jumlah karya yang beliau buat sebanyak 75 buku. Karya-karyanya juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti:

  1. Al-Hub fil Qur’an (Al-Qur’an Kitab Cinta).
  2. La ya’thil Bathil (Takkan Datang Kebathilan terhadap Al-Qur’an).
  3. Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah (Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasul Saw) dan masih banyak yang lainnya.

Dalam konteks kepesantrenan, terutama pesantren salaf, bukunya yang berjudul Dhowabitul Maslahah merupakan referensi primer dalam kajian Bahtsul Masail (BM).

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya