DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. lahir pada 23 Juni 1959, di Ujung Bone, Sulawesi Selatan. Beliau merupakan putra dari pasangan Andi Muhammad Umar dengan Andi Bunga Tungke.
KH. Sholeh Iskandar lahir di Bogor pada tanggal 22 juni 1922 dari pasangan H. Muhammad Arif Marsa dan Hj. Atun Halimah yang menetap di Kampung Gunung Handeuleum, Desa Situ Udik Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Habib Umar adalah salah seorang keturunan Alawiyah yang lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal 1298 H. bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1888 M. di Arjawinangun Cirebon (± 25 KM ke arah Barat Laut kota Cirebon).
KH. Abdul Djalil Mustaqim putra dari KH. Mustaqim Husain yang juga seorang mursyid dan seorang pejuang kemerdekaan
KH. Majid Kamil Maimoen Zubair atau yang kerap disapa dengan panggilan Gus Kamil lahir pada tanggal 20 Juni 1971 di Desa Karangmangu, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Maimoen Zubair dengan Nyai. Hj. Masthi'ah binti KH. Idris asal Cepu, Blora.
KH. Ahmad Solehan Toyyib, Pendiri Pesantren Hidayatul Mubarok Lampung Tengah. Beliau lahir di Tulung Agung, Jawa Timur, pada tanggal 19 Juni 1951 M
KH. Ahmad Athoillah Bisri, adalah putera pertama dari KH. Bisri Syansuri dan Hj. Chadidjah. KH. Ahmad Athoillah Bisri lahir di Jombang pada 18 Juni 1916 M. bertepatan dengan 17 Sya’ban 1334 H.
KH. Muhammad Hidayat memulai pendidikan agamanya di Pesantren Langgen asuhan KH. Sanusi. Kemudian melanjutkan di Pesantren Lasem asuhan KH. Ma’shum. Teman seangkatan pada masa nyantri di Lasem antara lain: KH. Mustholih Badawi Kesugihan dan KH. Fuad Hasyim Buntet.
Asy-Syaikh Al-Imam Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi lahir pada 16 April 1911 M di Desa Daqadus, Distrik Mith Ghamr, Provinsi Daqahlia, Republik Arab Mesir. Di usia yang masih dini, 11 tahun, ia sudah hafal al-Quran.
KH. Abdul Qodir Hasan memulai pendidikannya dengan mengaji di Martapura. Guru-guru beliau di antaranya, KH. Abdur Rahman (Guru Adu) Tunggul Irang, dan KH. Muhammad Kasyful Anwar.