Biografi KH. Mahfudz Siddiq

Biografi KH. Mahfudz Siddiq

KH. Mahfudz Siddiq adalah putra sulung dari K.H. Siddiq (penulis Nadzam Kitab Safinah) dari lbu Nyai H. Zaqiah (Nyai Maryam) binti K.H. Yusuf.¬ Beliau adalah kakak kandung dari K.H. Achmad Siddiq (1926-1991). Ibunda beliau meninggal dunia disaat beliau berusia 24 tahun dan empat tahun kemudian disusul dengan meninggalnya sang ayahanda.

KH. Mahfudz Shiddiq lahir di Jember, pada hari Kamis Pon, tanggal 27 Rabi’ul Awwal 1325 H/ 1907 M. Beliau wafat di Jember, tanggal 5 Muharram 1363 H/ 01 Januari 1944 M dan dimakamkan di pemakaman keluarga Turbah, Condo, Jember.

Semasa hidupnya, beliaulah yang menjadi pengasuh dan pengajar bagi adik beliau. Segala pola pikir dan kebiasaan beliau menjadi cerminan bagi adik beliau, K.H. Achmad Siddiq. Tentang agama Islam, beliau mencontoh apa yang ayah beliau ajarkan pada beliau dan adik beliau. Ayah beliau adalah sosok yang tegas dan sangat ketat, terutama dalam hal sholat berjama’ah. Beliau dikenal berwatak sabar, tenang, dan sangat cerdas.. Beliau juga Kyai yang suka berpenampilan necis dan rapi. Wawasan berfikirnya amat luas dan modern, baik dalam ilmu agama maupun pengetahuan umum.

KH. Mahfudz Siddiq Mondok ngilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, di bawah pengajaran K.H. Hasyim Asy’ari. Di masa remajanya, beliau adalah seorang aktivis dan organisatoris yang sangat piawai. Beliau adalah Ketua Tanfidziyah PBNU, Rois ‘Aam PBNU, Perumus Konsep “Mabadi Khaira Umah”, Perintis Gerakan Muawanan, Pemimpin Majalah “Berita Nahdlatul Ulama”. Beliau juga seorang Kyai yang pertama kalinya menulis buku “Ijtihad dan Taqlid untuk Rekonsiliasi”.

Mahfudz Siddiq, bersama tokoh lain yang lebih senior, merintis kegiatan penerbitan secara kontinu. Majalah Berita Nahdlatul Oelama terbit secara teratur dalam waktu yang lama. Selama beberapa tahun beliau memimpin langsung majalah ini. Dengan menggunakan nama samaran Garagus, terkadang Abu S. Barri, beliau menuliskan pikiran-pikiran tajam di dalam majalah yang dikelolanya.

K.H. Mahfudz Siddiq mula-mula terpilih sebagai Presiden (Ketua) Tanfidziyah HBNO (kini PBNU) pada Muktamar NU ke-12 di Malang, tahun 1937. Kemudian berturut-turut beliau terpilih lagi menduduki jabatan yang sama pada Muktamar ke-13 di Menes, Pandeglang (1938), Muktamar ke-14 di Magelang (1939), dan Muktamar ke-15 di Surabaya (1940). Muktamar merupakan institusi tertinggi dari organisasi berlambang jagat dan tali itu. Berbeda dengan sekarang, sebelum masa kemerdekaan muktamar NU diselenggarakan setiap tahun.

K.H. Mahfudz Siddiq sendiri pada mulanya menolak jabatan sebagai Ketua Tanfidziyah HBNO. Beliau tetap menolak, sekalipun berkali-kali sidang menetapkannya sebagai calon ketua. “Dari segi pengalaman dan pengetahuan tentang NU, saya masih belum apa-apa dibanding kiai lain yang lebih senior. Saya keberatan dengan jabatan itu,” tandasnya di depan muktamar.

Adalah K.H. Hasyim Asy’ari, satu-satunya tokoh yang berhasil meluluhkan hati K.H. Mahfudz Siddiq agar bersedia menerima amanat itu. “Kowe kudu gelem, Fudz! (Kamu harus bersedia, Fudz!),” kata K.H. Hasyim Asy’ari, setengah memaksa.

Sebagai santri, tentu saja K.H. Mahfudz tidak bisa berkutik lagi menghadapi permintaan sang guru. Dengan berat hati, amanat muktamar itu lalu diterima. Lalu terjadilah duet harmonis antara K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Mahfudz Siddiq yang tak ubahnya seperti duet kiai dengan santrinya.

Sekalipun masih terlalu muda ketika menerima amanat untuk memimpin NU, tak ada masalah bagi K.H. Mahfudz dalam mengelola organisasi besar itu. Sebelumnya, beliau sudah terlibat dalam merintis pembentukan organisasi pemuda di lingkungan NU, yaitu Ansor. Beliau letakkan dasar-dasar organisasi yang kuat dan sistem komunikasi yang baik di dalam NU. Selain itu, beliau menerapkan dan memperlakukan kehidupan organisasi secara profesional.

Jika dibanding dengan keadaan sekarang, lebih-lebih untuk ukuran waktu itu, yang dilakukan K.H. Mahfudz Siddiq dalam berorganisasi bisa dinilai terlalu modern. Coba bayangkan, sejak aktif di NU, terutama setelah terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah, beliau ngantor di sekretariat HBNO di Jalan Sasak No. 23 Surabaya secara teratur setiap hari.

Sebagaimana layaknya pegawai kantoran, setiap pagi beliau berangkat dati rumahnya, di kawasan Ampel Maghfur No. 2 Surabaya, ke kantor HBNO dengan pakaian resmi: berjas dan berdasi. Konon ketika itu K.H. Mahfudz memperoleh gaji rutin sehingga bisa berkonsentrasi penuh untuk mengurus organisasi. Sebuah model pengelolaan organisasi nonpemerintah yang masih jarang dilakukan, bahkan sampai saat ini.

Karena memperoleh gaji rutin itulah, K.H. Mahfudz meninggalkan segala pekerjaannya. Waktunya dicurahkan untuk mengurus NU. Ketika Jepang berkuasa dan selama beberapa waktu kegiatan organisasi dibekukan, beliau kembali menekuni pekerjaan lamanya, yaitu sebagai makelar dan berjualan sepeda reli.

Salah satu prestasi besar K.H. Mahfudz Siddiq adalah konsep Mabadi’ Khaira Ummah, sebuah konsep yang meletakkan dasar dan strategi untuk mengembangkan kehidupan ekonomi warga NU. Konsep ini sampai sekarang masih berlaku di kalangan NU, meskipun dimensi dan sasarannya sudah dikembangkan. Jelang akhir hayatnya, K.H. Mahfudz sempat merintis “Gerakan Mu’awanah”, gerakan tolong-menolong. Gerakan ini diselenggarakan dalam rangka mewujudkan dan menopang gerakan Mabadi’ Khaira Ummah, lepas landas menuju tergalangnya umat pilihan. Konsep yang diperkenalkan K.H. Mahfudz Siddiq ini bertumpu pada tiga pilar sikap, yaitu ash-shidqu, al-amanah, dan al-wafa’ bi al-ahdi.

K.H. Mahfudz Siddiq juga dikenal sebagai simbol modernitas di kalangan NU waktu itu. Sebagai kiai muda yang disegani masyarakat, beliau tak merasa canggung bila harus tampil di depan umum tanpa kopiah. Bahkan, konon, beliaulah tokoh di kalangan NU yang pertama kali berani tampil mengenakan dasi. Sebuah pilihan yang ketika itu oleh ulama NU sendiri diharamkan karena termasuk tasyabuh (menyerupai) kebiasaan kaum penjajah. Toh beliau mampu memberikan argumentasi di hadapan para kiai mengenai dasi sehingga dasi tidak lagi menjadi barang yang diharamkan untuk dipakai.

Menurut K.H. Wahid Hasyim, semasa K.H. Mahfudz masih memimpin NU, tidak ada persoalan berat yang tidak bisa segera diselesaikan olehnya. Di mata Gus Wahid, tak pelak lagi K. H. Mahfudz adalah sosok problem solver ulung. Di samping dipandang sebagai organisator ulung, beliau juga dinilai sebagai motor penggerak organisasi.

Ketika sedang meniti puncak karier organisasi dan berada pada awal puncak prestasinya, pada 14 Juli 1944 beliau dipanggil menghadap Allah untuk selamanya pada usia 38 tahun.