Biografi KH. Ma’shum Mahfudhi

 
Biografi KH. Ma’shum Mahfudhi

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Murid-murid Beliau

4          Organisasi, Karier, dan Politik
4.1       Riwayat Organisasi
4.2       Karier Beliau
4.3       Kiprah Politik

5         Menjadi Mursyid

6         Mendidik Santri melalui Riyadhah

7         Referensi

1  Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1  Lahir
KH. Ma’shum Mahfudhi lahir pada hari Jum’at, 5 Ramadhan 1347 H/15 Februari 1929 dari pasangan Kiai Yasir dan Nyai Aminah Secara harfiyah, kedua lafadz tersebut memiliki kesamaan makna. Lafadz Ma’shum memiliki makna ‘yang terpelihara’, namun lafadz ini berkaitan dengan sifat Nabi. Sementara lafadz Mahfudh juga memiliki makna ‘yang terpelihara’ namun dituju­kan kepada para wali Allah. Tampaknya kedua lafadz tersebut kelak semakin meneguhkan pribadi dan karakter Kiai Ma’shum sebagai ulama’ yang terpelihara dari sifat-sifat tercela.

Kiai Yasir dikarunia 5 anak, yaitu Abdullah Zaini, Ma’shum Mahfudhi dan Sholihul Hadi yang berasal dari istri pertamanya, Nyai Aminah. Sementara dari istri kedua, Nyai Hafshah memiliki anak Khomsatun dan Syahid.

Ada pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jika dilihat dari sisi nasab, pepatah tersebut berlaku bagi keluarga Ma’shum Mahfudhi. Ayahnya, Kiai Yasir adalah putra dari Kiai Tobri bin Kiai Rofi’i bin Mustofa Singodrono. Singodrono sendiri adalah salah satu abdi Kerajaan Mataram. Pada zaman penjajahan dulu, Mbah Singodrono bersama temannya dikejar-kejar oleh tentara Belanda. Saat pengejaran itulah mereka berpisah dan Singodrono memilih untuk berkelana dan menempati daerah yang dinamakan Desa Babadan Kecamatan Sayung. Kemudian salah satu keturunannya pindah daerah Sidorejo.

1.2   Riwayat Keluarga

KH. Ma’shum Mahfudhi menikah dengan seorang perempuan ber­nama Sayyidah, putri KH. Umar, seorang ulama Undaan Kidul Karanganyar Demak yang pernah mukim di Mekah.

Pernikahan Kiai Ma’shum dengan Sayyidah di­lak­sanakan pada hari Senin Wage, tanggal 26 Agustus 1963, ber­te­patan dengan 6 Rabiul Tsani 1382 bertempat di Undaan Kidul Karanganyar Demak. Saat itu Kiai Ma’shum berusia 35 tahun, sedangkan Sayyidah berusia 21 tahun.

Pasangan Kiai Ma’shum dan Nyai Sayyidah dikaruniai tujuh orang anak, yaitu KH. M. Zainal Arifin Ma’shum, Hj. Nur Izzah Ma’shum, Ainistiqamah Ma’shum (wafat saat kecil), Hj. Nur Aliyah Ma’shum, KH. Luthfin Najib Noor Ma’shum, Gus M. Badruddin Ma’shum dan Gus Abdul Lathif Ma’shum.

1.3   Wafat

Beliau wafat pada hari Senin 24 Rajab 1426 H atau 29 Agustus 2005. Jenazah KH. Ma’shum Mahfudhi dimakamkan di samping makam orang tuanya dan temannya, KH. Abdullah Rifa’i, Cebolek Pati di pemakaman umum Dusun Kuripan Desa Sidorejo.

2  Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1  Mengembara Menuntut Ilmu

KH. Ma’shum Mahfudhi kecil tumbuh sebagaimana anak pada umumnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa kelak dia akan menjadi tokoh besar. Hanya saja, kedua orang tuanya sangat memperhatikan pendidikan agama anak-anaknya. Ma’shum kecil beserta saudara-saudaranya mulai dari kecil sudah belajar membaca al-Qur’an dari ayah dan ibunya. Selain itu, KH. Ma’shum Mahfudhi juga diperintahkan untuk mengaji di kediaman K. Nawawi, seorang Kyai ter­pandang di Kuripan Sidorejo, sebuah Dusun di sebelah timur Karanggawang.

Namun upaya Kiai Yasir membimbing anak-anaknya mengenal agama terhenti saat KH. Ma’shum Mahfudhi berumur 12 tahun. Tepatnya tanggal 20 Rajab 1362 H Mbah Yasir meninggal dunia. Praktis, saat itulah KH. Ma’shum Mahfudhi beserta saudara-saudara­nya menyandang gelar yatim. Semua kebutuhan keluarga dan pendidikan ditangani oleh ibu mereka masing-masing. Oleh Nyai Aminah, KH. Ma’shum Mahfudhi kecil kemudian diantarkan ke Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen untuk belajar agama di hadapan KH. Mushlih, seorang tokoh di Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyah (JATMAN).

Selama di Mranggen, KH. Ma’shum Mahfudhi belajar ilmu dasar selama kurang lebih enam tahun. Ilmu-ilmu yang dipelajari KH. Ma’shum Mahfudhi di Mranggen adalah fiqih, tajwid, nahwu, sharaf, bahasa Arab, tauhid, akhlak dan lain-lain. Menurut beberapa teman seperjuangan, KH. Ma’shum Mahfudhi dikenal sebagai santri yang rajin muthalaah dan riyadhah puasa.

Di pondok Futuhiyah, suasana belajar Ma’shum sangat berat karena pada saat itu adalah masa proklamsi kemerdekaan Indonesia. Tidak jarang wilayah Mranggen dihujani bom oleh penjajah karena saat itu KH. Muslih adalah salah satu kiai yang menentang keras penjajah.

Setelah ilmu yang didapat terasa cukup, KH. Ma’shum Mahfudhi kemudian melanjutkan pendidikannya ke sejumlah pesantren. Beberapa pesantren yang pernah disinggahi belajar adalah Pesantren Bareng Kudus, Pesantren Pondowan, Pati dan Pesantren Darul Hikam Bendo, Pare, Kediri.

Pesantren Bareng Kudus saat itu diasuh oleh KH. M. Yasin, mujiz Dalail al-Khairat di Indonesia. KH. Ma’shum Mahfudhi sendiri mulai mondok di pesantren Mbah Yasin se­kitar tahun 1947. Beliau mengaji, selama kurang lebih tiga tahun. Dari gurunya ini, Ma’shum menerima ijazah Dalail al-Khairat dan Kitab Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilany yang dijalani melalui riyadhah puasa. Dan bahkan bukan hanya itu, di Pesantren yang dikenal sebagai pesantren riyadhah ini, tidak sedikit ijazah yang diterima Ma’shum dari KH. Yasin.

Dari pesantren Bareng Kudus, Ma’shum meneruskan pendidikannya ke pesantren Pondowan Pati yang diasuh oleh KH. Muhammadun. Di hadapan Mbah Madun, Ma’shum memperdalam ilmu tauhid, nahwu, sharaf, fiqh, balaghah, ushul fiqh, tafsir dan ta­sawuf. Pada bidang nahwu, Mbah Madun yang dikenal sebagai Sibawaih Jawa, begitu telaten mengajar santri-santrinya. Misalnya saat membaca sebuah kitab, beliau sering mencontohkan aplikasi ilmu nahwu.  Jadi setiap membaca, ke­mudian pembacaan kitab berhenti sejenak guna untuk mem­bedah lafadz yang bersangkutan dalam segi nahwu, sambil mengingatkan santri pada pelajaran nahwu yang sudah lewat. Hal ini beliau lakukan supaya santri-santrinya memahami nahwu tidak hanya sebatas teori saja tapi juga aplikasinya dalam struktur bahasa Arab.

Kepada KH. Muhammadun, KH. Ma’shum Mahfudhi mengaji selama kurang lebih dua tahun lantas kembali ke tempat kelahirannya, Karanggawang. Kiai Ma’shum kemudian mengajar agama di masjid Al-Amin dan menikah dengan seorang gadis bernama Hikmah. Namun beberapa saat setelah menikah, konon pada suatu malam kiai Ma’shum bermimpi bertemu dengan ayahnya, Kyai Yasir.  Saat itu ayahnya memerintahkan KH. Ma’shum Mahfudhi untuk belajar lagi karena apa yang sudah dia dapat masih belum cukup dalam memuliakan agama Islam.

Maka KH. Ma’shum Mahfudhi menceraikan istrinya dan lantas melanjutkan belajarnya ke Pesantren Darul Hikam Bendo, Pare, Kediri yang diasuh oleh KH. Muhaji, murid Syaikhona Kholil Bangkalan Madura yang dikenal memiliki banyak keramat dan luas keilmuannya. Seorang ulama yang berhasil menelurkan sejumlah kiai besar di seantero Jawa.

Di Bendo KH. Ma’shum Mahfudhi memperdalam ilmu tasawuf dan fiqih. Kitab-kitab yang dikaji di hadapan Kyai Muhajir antara lain Ihya’ Ulumiddin, Mahalli, Fathul Wahab, Fathul Mu’in, Bajuri, Taqrib, dan kitab-kitab kecil lainnya. Di sana KH. Ma’shum Mahfudhi bertemu dan berdiskusi dengan teman santrinya yang berasal dari ber­ba­gai daerah yang memiliki berbagai macam keutamaan masing-masing. KH. Ma’shum Mahfudhi sendiri dikenal sebagai santri yang gemar riyadhah. Ada banyak teman seperjuangan Ma’shum saat mondok di Bendo, antara lain adalah Kyai Sahal Mahfud Kajen, KH. Abuya Dimyathi Banten, Kyai Mas’ud Cilacap, KH. Syam’ani, Jember, KH. Salman Dahlawi Popongan Klaten dan lain-lain.

Di mata teman-temannya, KH. Ma’shum Mahfudhi merupakan sosok santri yang khusyuk dan wira’i. Konon, ia pernah ‘ditantang’ salah seorang temannya untuk mendoakan agar segera mendapat kiriman uang. Padahal zaman dulu, sangat jarang sekali seorang santri mendapat kiriman bekal dari rumah karena perekonomian sangat sulit. Temannya tersebut bersedia memberi imbalan jika permintaannya tersebut bisa ter­wujud. Benar juga, setelah didoakan KH. Ma’shum Mahfudhi, selang beberapa saat ternyata ada kiriman untuk temannya tersebut. Alhasil KH. Ma’shum Mahfudhi mendapatkan apa yang dijanjikan kepadanya.

Di sela-sela mondok di Bendo,KH. Ma’shum Mahfudhi menyempatkan pergi ke berbagai daerah di Jawa Timur untuk tabarrukan kepada para kiai. Salah satunya adalah Kyai Ma’ruf Kedonglo Kediri. Dari Syekh Ma’ruf lah beliau menerima sanad ijazah Puasa al-Qur’an.

2.2  Guru-guru Beliau
Guru-guru Beliau saat menuntut ilmu adalah:

1. KH. Muslih 
2. KH. M. Yasin
3. KH. Muhammadun
4. KH. Muhaji
5. Syekh Ma’ruf

2.3  Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

Pada tahun 1958, KH. Ma’shum Mahfudhi pulang dari Bendo Pare Kediri. Beliau segera menyebarkan ilmunya dengan mengajar mengaji anak-anak kampung di masjid Al-Amin. Selang beberapa waktu, datanglah enam santri dari Madiun secara bergantian. Usut punya usut ternyata mereka mendapat amanat dari almarhum guru mereka untuk menuntut ilmu kepada KH. Ma’shum Mahfudhi . Selain mereka juga ada beberapa santri dari desa sekitar. KH. Ma’shum Mahfudhi kemudian membangun pesantren di lahan peninggalan ayahnya, sebelah timur kurang lebih 200 meter dari masjid Al-Amin. Pondok Pesantren tersebut kemudian dinamakan Fathul Huda.

Semakin lama, santri KH. Ma’shum Mahfudhi semakin bertambah. Tidak hanya dari Demak, Jawa Tengah, ada yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat dan luar Jawa. Perlahan tapi pasti, Pondok Pesantren Fathul Huda mengalami perkembangan yang signifikan.

Selain pengajian kitab kuning di pondok dan madrasah diniyah, KH. Ma’shum Mahfudhi juga membuka pendidikan formal mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan saat ini putranya, KH. M. Zainal Arifin Ma’shum tengah merencanakan pendirian perguruan tinggi.

3  Penerus Beliau

3.1  Anak-anak Beliau

Anak-anak beliau yang meneruskan perjuangan beliau menjadi ulama:
1. KH. M. Zainal Arifin Ma’shum
2. Hj. Nur Izzah Ma’shum
3. Hj. Nur Aliyah Ma’shum
4. KH. Luthfin Najib Noor Ma’shum
5. Gus M. Badruddin Ma’shum
6. Gus Abdul Lathif Ma’shum.
 

3.2  Murid-murid Beliau
Murid-murid Beliau adalah para santri di pesantren Pesantren Fathul Huda

4  Organisasi, Karier, dan Politik

4.1  Riwayat Organisasi

Pada sekitar tahun 1970 sampai 1980 beliau diberi amanah sebagai Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang (MWC NU) Sayung. Kemudian pada tahun 1985 beliau diberi amanah sebagai Mustasyar Pegurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Demak hingga wafat.
 

4.2  Karier Beliau

Pengasuh pesantren Fathul Huda
 

4.3  Kiprah Politik

Ketika NU menjadi partai politik, beliau merupakan tokoh NU yang gigih dalam berjuang di tengah intimidasi dari partai penguasa. Selanjutnya saat partai NU berfusi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 5 Januari 1973, KH. Ma’shum Mahfudhi pun masuk ke dalam PPP. Kemudian setelah NU melaksanakan muktamar ke-27 di Situbondo dan memutuskan untuk kembali ke khittah 26, beliau lantas masuk di partai Golkar. Kiprah beliau di partai Golkar berakhir pada era reformasi dengan lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan oleh para kiai NU. Dalam kepengurusan di DPC PKB Demak, KH. Ma’shum Mahfudhi menjabat sebagai penasehat partai hingga wafat.

5  Menjadi Mursyid

Tarekat yang dijalani KH. Ma’shum Mahfudhi adalah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang dia pelajari dari KH. Muslih Mranggen. Oleh KH. Muslih, Kiai Ma’shum Mahfudhi diangkat menjadi mursyid yang kemudian diberikan ijin untuk mengembangkan dan mengajarkan Thoriqoh kepada masya­ra­kat. Tempat pengajian tarekat berpusat di masjid pondok pesantren Fathul Huda.

Semenjak membuka pengajian ini, sudah ada ribuan orang yang berbaiat dan mengikuti pengajian tarekat beliau, baik dari Demak maupun luar kota. Juga ada yang dari luar jawa. Diantaranya adalah KH. Sulaiman Thoha (Ngawi), KH. Yasin Masyhadi (Demak), KH. M. Zainal Arifin Ma’shum (Demak), KH. Abdul Muhid (Maluku), KH. Mahfud (Sumatera Selatan), KH. Ali Utsman Dahlan (Jambi) dan lain-lain.

6  Mendidik Santri Melalui Riyadhah

Semenjak kecil saat belajar di Pondok Futuhiyah Mranggen, KH. Ma’shum Mahfudhi sudah sudah mulai menjalani laku riyadhah puasa sepanjang hari. Riyadhah ini dijalani hingga akhir masa hayatnya. Beliau layak disebut sebagai ahli riyadhah lantaran selama lebih dari tiga perempat umurnya beliau habiskan untuk menjalani puasa dan berdzikir.

KH. Ma’shum Mahfudhi berhasil mendidik santri-santrinya karena kedalaman ilmu, akhlak mulia dan keikhlasan. Wajar bila banyak santri KH. Ma’shum Mahfudhi menjadi “orang” sekembalinya ke rumah. Metode mendidik yang diterapkan KH. Ma’shum Mahfudhi sebenarnya sangat sederhana tapi membuahkan hasil yang sangat luar biasa.

Pertama, memahami kitab kuning. Kitab kuning yang membahas bidang ilmu nahwu, sharaf, fiqh, ushul fiqh, hadits, tafsir, tasawuf dan sebagainya semua beliau ajarkan. Tahap awal yang dilakukan beliau adalah mengajarkan ilmu alat yaitu ilmu nahwu dan sharaf. Kepada para santri, KH. Ma’shum Mahfudhi mewajibkan meng­hafal kedua ilmu tersebut di luar kepala.

Tahap selanjutnya setelah menguasai ilmu alat adalah memahami isi kitab kuning. Pada tahap ini sistem bandongan dan sorogan beliau lakukan. Selain belajar kepada KH. Ma’shum Mahfudhi, para santri juga memliki kesempatan berdiskusi dengan santri lain dalam musyawarah yang membahas isi kitab kuning. Tahap terakhir adalah mempersiapkan santri me­nye­bar­kan ilmu dengan cara mengkader santri senior untuk meng­ajar santri yunior.

Kedua,KH. Ma’shum Mahfudhi mendorong santri-santrinya untuk melaksanakan shalat berjamaah. Shalat berjamaah sebanyak lima kali dalam sehari. Beliau meyakinkan bahwa seseorang yang rajin melanggengkan shalat berjamaah, pasti akan mendapat keberkahan dalam hidup.

Ketiga, melatih riyadhah. Selain mewajibkan santri-santrinya belajar yang tekun dan giat, KH. Ma’shum Mahfudhi juga mendorong mereka untuk melakukan riyadhah. Bagi beliau, belajar saja belum cukup. Seorang santri juga harus melakukan riyadhah puasa agar ilmu yang telah mereka kuasai dapat menjadi berkah dan manfaat.

Para santri dianjurkan untuk melakukan riyadhah puasa mulai dari Manaqib Syekh Abdul Qadir selama 40 hari, puasa Al-Qur’an selama satu tahun dan puasa Dalail al-Khairat selama tiga tahun. Selain ketiga macam puasa tersebut, Kiai Ma’shum juga menganjurkan puasa-puasa lainnya. Tak heran jika banyak santri KH. Ma’shum Mahfudhi yang tidak makan minum saat siang hari. Ijazah-ijazah wirid juga tak luput dari pendidikan yang diajarkan KH. Ma’shum Mahfudhi kepada santri-santrinya.

Keempat, menggembleng mental santri seperti mu­ja­hadah, zuhud, sabar dan qanaah. Gemblengan seperti ini biasanya disampaikan kepada santri senior dalam sebuah pengajian kitab atau di saat kesempatan sowan.

7  Referensi

Biografi KH. Ma’shum Mahfudhi


o.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya