Biografi KH. Abdullah Ubaid

 
Biografi KH. Abdullah Ubaid

Daftar Isi Profil KH. Abdullah Ubaid

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Pelopor Berdirinya GP Ansor

Kelahiran

KH. Abdullah Ubaid lahir pada 4 Jumadil Akhir 1318 H atau bertepatan pada tahun 1899 M di Kawatan, Surabaya.

Beliau diambil anak angkat oleh KH. Yasin Pasuruan, lalu dibelakang namanya ditambah Ubaid (isim tashghir dari Abdu, yang berarti Abdullah Kecil), untuk membedakan dengan satu putra KH. Yasin Pasuruan sendiri, yang juga bernama Abdullah.

Wafat

KH. Abdullah Ubaid bisa dikatakan sebagai tokoh muda bangsa yang cemerlang di zamannya. Keilmuan, komitmen perjuangan, serta militansinya akan menasbihkan dirinya sebagai tokoh besar di kemudian hari. Namun, suratan takdir berkehendak lain. Allah SWT menakdirkannya mati muda.

Sepulangnya mengikuti Muktamar ke-13 NU di Menes Banten pada 13 Rabiuts Tsani 1357/ 12 Juli 1938, ia mengalami kecelakaan. Motor Harley Davidson yang dikendarainya oleng ketika sampai di Pekalongan. Ia lantas dibawa pulang ke Surabaya. Setelah dirawat hampir satu bulan, akhirnya KH. Abdullah Ubaid menghembuskan napas terakhirnya pada usia 39 tahun. Usia yang relatif muda bagi seorang tokoh bangsa.

Wafatnya KH. Abdullah Ubaid dipastikan pada Kamis 20 Jumadil Akhir 1358. Hal ini sebagaimana dimuat di beberapa kabar di Berita Nahdlatoel Oelama. Juga terdapat di buku “Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasjim“ yang ditulis oleh Aboebakar Atjeh.

Namun, tak dituliskan tanggal masehinya. Dalam perkembangannya, tanggal kematiannya dikonversi ke kalender masehi menjadi 8 Agustus 1938 M. Hal ini sebagaimana dimuat di “Menapak Jejak Mengenal Watak, Sekilas Biografi 26 Tokoh Nahdlatul Ulama” yang diterbitkan Yayasan Saifuddin Zuhri pada 1994. Dari sumber inilah kemudian 8 Agustus 1938 itu  oleh buku maupun artikel yang membahas tentang sosok Abdullah Ubaid.

Keluarga

KH. Abdullah Ubaid melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Syafi’ah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai tujuh putra dan putri, diantaranya Ali Ubaid, Nadzifah, Anisah, Lutfi, M. Yunus Ubaid (pensiunan perwira Angkatan Udara, tinggal di Singasari, Malang), KH. Zakky Ubaid (Mustasyar NU Pasuruan), KH. Shobih Ubaid (Jakarta), dan KH. Ali Ubaid (Jakarta).

Pendidikan

KH. Abdullah Ubaid memulai pendidikan dasar di Madrasah Al-Khoiriyah, Ampel, Surabaya. Lalu pada usia 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya dengan nyantri di Pondok Pesantren Nurul Kholil yang diasuh oleh KH. Kholil Bangkalan, Madura. Setelah selesai belajar di KH. Kholil Bangkalan, kemudian beliau melanjutkan dengan belajar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari. Ketika di Jombang beliau ia berkawan dekat dengan KH. Mahfudz Shiddiq.

Pelopor Berdirinya GP Ansor

Pada 1338 H atau 1920 M, KH. Abdullah Ubaid yang masih berusia 20 tahun diajak oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah untuk mengajar di Madrasah Nahdlatul Wathan. Keterlibatannya di Nahdlatul Wathan inilah, menjadikan ia tumbuh sebagai sosok penggerak dan nasionalis. Sebagaimana kita ketahui, visi nasionalisme dari Nahdlatul Wathan (kebangkitan Tanah Air) masih diwariskan hingga saat ini. Yakni, lagu “Syubbanul Wathan” atau “Yalal Wathan” yang kerap dinyanyikan di acara-acara kebangsaan, lebih-lebih di kegiatan NU.

KH. Abdullah Ubaid merupakan figur yang alim alamah di masanya. Tidak hanya alim ilmu agamanya, namun juga memiliki wawasan pengetahuan yang luas. Pandai menulis, berdebat, juga ahli dalam berpidato. Ia menjadi mubalig kondang yang mencatatkan dirinya dalam segelintir orang pribumi yang mendapat alokasi siaran di Radio Nirom, milik pemerintah Hindia Belanda.

Keunggulan KH. Abdullah Ubaid semakin menonjol di kalangan kawula muda. Selain karena keilmuannya sebagaimana di atas, ia juga menjadi sosok yang keren di masanya. Penampilannya selalu perlente, ke mana-mana selalu mengendarai Harley Davidson kendaraan yang masih dianggap paling keren hingga saat ini serta mahir bermain musik gambus. Salah satu genre musik yang paling digemari kala itu.

Seluruh hidup KH. Abdullah Ubaid tersebut, dapat dikatakan diwakafkan sepenuhnya pada dunia pendidikan dan pergerakan. Tak ada waktu untuk berleha-leha. Jam 6 pagi ia mengajar orang-orang dewasa di kediamannya di Kawatan, Surabaya. Dua jam kemudian ia mengajar di Nahdlatul Wathan hingga pukul satu siang. Sepulangnya dari sana, ia kembali mengajar untuk anak-anak hingga sore. Waktu malamnya ia pergunakan untuk tablig keliling.

Setelah NU berdiri pada 31 Januari 1926, KH. Abdullah Ubaid juga turut serta terlibat. Ia dipercaya menjadi anggota A’wan generasi pertama dalam struktur Hoofdbestur Nahdlatoel Oelama (HBNO/kini PBNU). Dalam open bar yang dihadiri oleh PBNU sebagaimana banyak diberitakan di Swara Nahdlatoel Oelama ia kerap didapuk sebagai pembicara.

Biasanya, KH. Abdullah Ubaid kebagian untuk menyampaikan konter terhadap fitnah-fitnah yang ditujukan kepada NU maupun kepada tokoh-tokohnya. Retorikanya yang mantap, pengetahuannya yang luas, serta logikanya yang cerdas bisa jadi merupakan salah satu pertimbangannya.

Aktivitas pergerakan KH. Abdullah Ubaid tidak hanya di NU. Sebelum NU berdiri, ia telah merintis organisasi Syubbanul Wathan yang segmentasinya adalah anak muda. Ketika NU berdiri, organisasi tersebut menjelma jadi Pemoeda Nahdlatul Oelama (PNO), walaupun daerah jangkauannya masih di seputar Surabaya.

Baru pada Muktamar ke-9 NU di Banyuwangi, gerakan pemuda tersebut menjadi bagian resmi NU secara nasional. Ia bersama KH. Mahfudz Shiddiq, KH. Wahid Hasyim dan tokoh muda NU lainnya berhasil memasukkannya ke dalam struktur departemen NU. Kala itu disebut Ansoru Nahdlatoel Oelama (ANO). Pascakemerdekaan, ANO berubah menjadi Gerakan Pemuda Ansor.

Tantangan yang mempertaruhkan nyawa tersebut, dapat dimaklumi. Kiprahnya yang moncer dan sikapnya yang nasionalistik, tentu membuat gerah Kompeni. Saat itu, KH. Abdullah Ubaid menjadi sosok penting yang menyandang jabatan-jabatan strategis dalam dunia pergerakan. Di antara jabatan yang disandangnya adalah ketua HBNO Bagian Ma’arif, Wakil Ketua HBNO Bagian Ansor, A’wan dan Mufattis NU Cabang Surabaya, serta penasihat Pimpinan Umum Poesoera.