Biografi KH. Abdullah Ubaid

 
Biografi KH. Abdullah Ubaid

Riwayat dan Kelahiran

Kiyai Abdullah Ubaid lahir di Kawatan, Surabaya 4 Jumadil Akhir 1318 H/1899 M. Wafat pada 20 Jumadil Akhir 1357 H/8 Agustus 1938 M. Dengan nama asli Abdullah. Beliau diambil anak angkat oleh KH. Yasin Pasuruan, lalu dibelakang namanya ditambah Ubaid (isim tashghir dari Abdu, yang berarti Abdullah Kecil), untuk membedakan dengan satu putra Kiyai Yasin sendiri, yang juga bernama Abdullah.

Masa Pendidikan

Kiyai Abdullah Ubaid menyelesaikan pendidikan dasar di Madrasah Al-Khoiriyah, Ampel, Surabaya. Lalu meneruskan sebagai santri di Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura dan dilanjutkan belajar ke Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Beliau adalah pendiri Gerakan Pemuda Anshor (GP ANSHOR), dan Syubhannul Wathan.

Selain sebagai muballigh, beliau juga dikenal sebagai pembalap yang gemar bermotor dijalan raya. Hampir disetiap perjalanan tugasnya, beliau lebih suka mengendarai motor Harley Davidson. Termasuk ketika menghadiri Muktamar NU ke-13 di Menes, Surabaya tahun 1938. Diwaktu senggang Kiyai Abdullah Ubaid juga suka memainkan gambus kegemarannya.

Mula-mula Abdullah Ubaid belajar di Madrasah al-Chairiyah, Surabaya. Kemudian pada usia 14 tahun ia sempat nyantri di Syaikhona Kholil Bangkalan sebelum kemudian mondok di Tebuireng. Di pesantren yang diasuh oleh KH. M. Hasyim Asy’ari tersebut, ia berkawan dekat dengan Mahfudz Shiddiq. Seorang santri dari Jember yang dikemudian hari menjadi ketua PBNU termuda.

Pelopor Berdirinya GP Ansor

Pada 1338 H/1920 M, Abdullah yang masih berusia 20 tahun diajak oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah untuk mengajar di Madrasah Nahdlatul Wathan. Keterlibatannya di Nahdlatul Wathan inilah, menjadikan ia tumbuh sebagai sosok penggerak dan nasionalis. Sebagaimana kita ketahui, visi nasionalisme dari Nahdlatul Wathan (kebangkitan Tanah Air) masih diwariskan hingga saat ini. Yakni, lagu “Syubbanul Wathan” atau “Yalal Wathan” yang kerap dinyanyikan di acara-acara kebangsaan, lebih-lebih di kegiatan NU.

Abdullah Ubaid merupakan figur yang alim alamah di masanya. Tidak hanya alim ilmu agamanya, namun juga memiliki wawasan pengetahuan yang luas. Pandai menulis, berdebat, juga ahli dalam berpidato. Ia menjadi mubalig kondang yang mencatatkan dirinya dalam segelintir orang pribumi yang mendapat alokasi siaran di Radio Nirom, milik pemerintah Hindia Belanda.

Keunggulan Abdullah Ubaid semakin menonjol di kalangan kawula muda. Selain karena keilmuannya sebagaimana di atas, ia juga menjadi sosok yang keren di masanya. Penampilannya selalu perlente, ke mana-mana selalu mengendarai Harley Davidson kendaraan yang masih dianggap paling keren hingga saat ini serta mahir bermain musik gambus. Salah satu genre musik yang paling digemari kala itu.

Seluruh hidup suami Nyai Syafi’ah tersebut, dapat dikatakan diwakafkan sepenuhnya pada dunia pendidikan dan pergerakan. Tak ada waktu untuk berleha-leha. Jam 6 pagi ia mengajar orang-orang dewasa di kediamannya di Kawatan, Surabaya. Dua jam kemudian ia mengajar di Nahdlatul Wathan hingga pukul satu siang. Sepulangnya dari sana, ia kembali mengajar untuk anak-anak hingga sore. Waktu malamnya ia pergunakan untuk tablig keliling.

Setelah NU berdiri pada 31 Januari 1926, Abdullah Ubaid juga turut serta terlibat. Ia dipercaya menjadi anggota A’wan generasi pertama dalam struktur Hoofdbestur Nahdlatoel Oelama (HBNO/kini PBNU). Dalam open bar yang dihadiri oleh PBNU sebagaimana banyak diberitakan di Swara Nahdlatoel Oelama ia kerap didapuk sebagai pembicara.

Biasanya, Abdullah Ubaid kebagian untuk menyampaikan konter terhadap fitnah-fitnah yang ditujukan kepada NU maupun kepada tokoh-tokohnya. Retorikanya yang mantap, pengetahuannya yang luas, serta logikanya yang cerdas bisa jadi merupakan salah satu pertimbangannya.

Aktivitas pergerakan Abdullah Ubaid tidak hanya di NU. Sebelum NU berdiri, ia telah merintis organisasi Syubbanul Wathan yang segmentasinya adalah anak muda. Ketika NU berdiri, organisasi tersebut menjelma jadi Pemoeda Nahdlatul Oelama (PNO), walaupun daerah jangkauannya masih di seputar Surabaya.

Baru pada Muktamar ke-9 NU di Banyuwangi, gerakan pemuda tersebut menjadi bagian resmi NU secara nasional. Ia bersama Mahfudz Shiddiq, Wahid Hasyim dan tokoh muda NU lainnya berhasil memasukkannya ke dalam struktur departemen NU. Kala itu disebut Ansoru Nahdlatoel Oelama (ANO). Pascakemerdekaan, ANO berubah menjadi Gerakan Pemuda Ansor.

Tantangan yang mempertaruhkan nyawa tersebut, dapat dimaklumi. Kiprahnya yang moncer dan sikapnya yang nasionalistik, tentu membuat gerah Kompeni. Saat itu, Abdullah Ubaid menjadi sosok penting yang menyandang jabatan-jabatan strategis dalam dunia pergerakan. Di antara jabatan yang disandangnya adalah ketua HBNO Bagian Ma’arif, Wakil Ketua HBNO Bagian Ansor, A’wan dan Mufattis NU Cabang Surabaya, serta penasihat Pimpinan Umum Poesoera.

Meninggal di Usia Muda

Abdullah Ubaid bisa dikatakan tokoh muda bangsa yang cemerlang di zamannya. Keilmuan, komitmen perjuangan, serta militansinya akan menasbihkan dirinya sebagai tokoh besar di kemudian hari. Namun, suratan takdir berkehendak lain. Allah SWT menakdirkannya mati muda.

Sepulangnya mengikuti Muktamar ke-13 NU di Menes Banten pada 13 Rabiuts Tsani 1357/ 12 Juli 1938, ia mengalami kecelakaan. Motor Harley Davidson yang dikendarainya oleng ketika sampai di Pekalongan. Ia lantas dibawa pulang ke Surabaya. Setelah dirawat hampir satu bulan, akhirnya kiai Abdullah Ubaid menghembuskan napas terakhirnya pada usia 39 tahun. Usia yang relatif muda bagi seorang tokoh bangsa.

Wafatnya Kiai Abdullah Ubaid dipastikan pada Kamis 20 Jumadil Akhir 1358. Hal ini sebagaimana dimuat di beberapa kabar di Berita Nahdlatoel Oelama. Juga terdapat di buku “Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasjim“ yang ditulis oleh Aboebakar Atjeh. Namun, tak dituliskan tanggal masehinya. Dalam perkembangannya, tanggal kematiannya dikonversi ke kalender masehi menjadi 8 Agustus 1938 M. Hal ini sebagaimana dimuat di “Menapak Jejak Mengenal Watak, Sekilas Biografi 26 Tokoh Nahdlatul Ulama” yang diterbitkan Yayasan Saifuddin Zuhri pada 1994. Dari sumber inilah kemudian 8 Agustus 1938 itu  oleh buku maupun artikel yang membahas tentang sosok Abdullah Ubaid.

K.H. Abdullah Ubaid wafat, meninggalkan seorang istri dan tujuh putra-putrinya yang masih kecil-kecil. Anak bungsunya, Ali Ubaid, sewaktu ditinggal ayahnya, baru berusia 33 hari. Putra-putrinya yang masing-masing Nadzifah (meninggal ketika kecil), Anisah (meninggal menjelang nikah) Lutfi (meninggal ketika kecil), M. Yunus Ubaid (pensiunan perwira Angkatan Udara, tinggal di Singasari, Malang), K.H. Zakky Ubaid (Mustasyar NU Pasuruan), K.H. Shobih Ubaid (Jakarta), dan K.H. Ali Ubaid (Jakarta).

 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber