Konsultasi Keluarga: Dampak Perceraian Orang Tua terhadap Anak

Konsultasi Keluarga: Dampak Perceraian Orang Tua terhadap Anak

Assalamu’alaikum

“Kami keluarga yang baru bercerai dengan tiga anak (4, 8 dan 12 tahun). Saya bingung menghadapi anak-anak pasca perceraian ini. Adakah tanda atau gejala umum yang biasa terjadi pada anak pasca perceraian, sehingga kami bisa memberi reaksi yang tepat?”

Wassalamu’alaikum

Jawaban:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bapak/Ibu yang berbahagia, perceraian adalah satu pilihan berat dalam sebuah pernikahan. Manakala perceraian terjadi, maka dampaknya tidak hanya pada orang tuanya tapi juga pada anak-anaknya. Memang betul, ada beberapa gejala yang biasanya dialami oleh anak pasca perceraian orang tuanya, diantaranya:

1. Marah. Anak biasanya cenderung menjadi marah dengan situasi baru dalam keluarganya. Anak akan bersikap menantang, tidak kooperatif, tidak patuh, mudah tersinggung atau mudah meledak-ledak.

2. Malu. Anak juga akan merasa malu dengan perceraian orang tuanya. Si anak bisa aja kemudian malu bertemu siapa saja, termasuk orang tuanya.

3. Cemas. Anak bisa mengalami kecemasan, stres, tertekan, menjadi sulit konsentrasi, sulit tidur, atau sering mimpi buruk.

4. Mengubah pola interaksi dengan teman sebayanya. Bisa saja anak akan menarik diri dari sosialnya, mengasingkan diri, cenderung menjadi pendiam atau bisa mudah mengalami konflik dengan temannya.

5. Tidak peduli dengan diri sendiri. Cenderung tidak merawat tubuh, membiarkan kamar berantakan, terlihat kusut, malas makan, suka begadang dan tidak memperhatikan kebersihan serta kesehatan.

6. Kebergantungan. Ada juga yang justru mengalami kemundurun perkembangan. Anak berubah menjadi sangat lekat dengan orang tuanya, tidak mau berpisah, menjadi sangat manja, takut kehilangan orang tuanya dan tidak mau berpisah walau sebentar.

7. Masalah akademis. Biasanya performans akademisnya menurun. Nilainya menurun, mengalami kesulitan di sekolah, atau bahkan malah sekolah, sulit konsentrasi dalam belajar.

8. Konflik dengan orang tua. Anak-anak cenderung menyalahkan salah satu atau kedua orang tuanya. Konflik yang berkepanjangan bisa berbahaya bagi perkembangan si anak.

9. Mengubah pandangan hidup. Merasa hidup itu susah, muncul pandangan negatif tentang pernikahan dan keluarga, merasa dikhianati, merasa Tuhan tidak adil, cuek atau bahkan benci dengan lawan jenis.

10. Perubahan pada diri, baik percaya diri atau harga diri yang menurun, konsep diri yang menjadi negatif. Keyakinan diri yang juga berkurang.

11. Larut dalam kesedihan. Merasa kehilangan yang mendalam, sering menangis, mengurung diri. Jika dibiarkan, bisa berkembang ke arah depresi.

Namun demikian, anak-anak korban perceraian bukan berarti tidak bisa menjadi anak yang sukses. Dengan pendampingan dan perhatian yang tepat, mereka juga bisa sukses. Perceraian hanya merubah status hubungan suami dan istri, tapi tidak akan merubah hubungan orang tua dengan anak. Mungkin demikian penjelasan kami., mudah-mudahan ada manfaatnya.

 

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Salam hormat
Dr. Muhammad Fakhrurrozi, M.Psi