Apakah Perawi Pendusta Hadistnya Otomatis Palsu?

Apakah Perawi Pendusta Hadistnya Otomatis Palsu?

LADuNI.ID - Sebelumnya saya telah menulis sebuah tanggapan ringkas dalam kolom komentar pada status FB Ustadz Adhli Al-Qarni yang mengkritik Syaikh Ali Jum’ah terkait dengan hadits kemulian sahabat yang dibawakan oleh beliau dalam kitab “Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah”. Ringkasan tanggapan saya, bahwa perawi pendusta (kadzdzab) tidak secara otomatis hadits yang diriwayatkannya adalah palsu, kecuali riwayatnya sendirian (tafarrud). Kemudian beliau menulis jawaban balik kepada yang telah menanggapi tulisan beliau sebelumnya, yang sebagian isinya ditujukan kepada saya.

Dalam jawabannya, beliau menegaskan hanya mengkritik dua sumber riwayat yang dibawakan Syaikh Ali Jum’ah dari Imam al-Baghawi dan Imam Said bin Manshur, yang menurut penilaian beliau (Ustadz Adhli) "haditsnya palsu dengan dua sanad tersebut" (matan dengan sanad itu adalah palsu) sehingga mutlak tidak boleh dijadikan hujjah apapun. Beliau juga menegaskan tidak menghukumi palsu terhadap matan haditsnya secara mutlak.

Sekedar pengetahuan, memang ada hadits yang sebenarnya shahih dan mutawatir, tetapi ada satu jalur riwayat yang maudhu’ (palsu) dan ulama menyebutnya “maudhu’ dengan sanad ini”.

SANAD RIWAYAT AL-BAGHAWI DALAM TAFSIR-NYA

Berikut ini hadits dan sanad yang dinilai palsu oleh Ustadz Adhli:

أخبرنا أبو سعيد الشريحي، أخبرنا أبو إسحاق الثعلبي، أخبرني الحسين بن محمد بن فنجويه، أخبرنا محمد بن علي بن الحسين القاضي، أخبرنا بكر بن محمد المروزي، أخبرنا أبو قلابة، حدثنا عمرو بن الحصين، عن الفضل بن عميرة، عن ميمون الكردي، عن أبي عثمان النهدي قال: سمعت عمر بن الخطاب قرأ على المنبر: { ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا } الآية، فقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "سابقنا سابق، ومقتصدنا ناج، وظالمنا مغفور له"

Ada dua perawi yang dijadikan dasar penghukuman palsu Ustadz Adhli, yaitu: (1) ‘Amr bin Hushain, dan gurunya (2) Fadhl bin ‘Amirah. Kata beliau, ‘Amr bin Hushain adalah pendusta dan ditinggalkan (merujuk Tahdzib-nya al-Hafizh Ibn Hajar), sementara Fadhl bin ‘Amirah adalah dhaif dan memiliki hadits munkar.

Saya hanya akan fokus pada nama ‘Amr bin Hushain dan status kadzdzab-nya saja, karena dia-lah sumber utama riwayat al-Baghawi dinilai palsu oleh Ustadz Adhli. Adapun Fadhl bin ‘Amirah tentu sangat tidak masuk akal jika dia dijadikan alasan kepalsuan hadits.

Saya sepakat dengan Ustadz Adhli bahwa kritikus hadits menilai ‘Amr bin Hushain sebagai perawi kadzdzab (pendusta), tetapi sebagian besar ulama' menilai hanya matruk. Karena itu, tidak perlu saya nukilkan ucapan-ucapan ulama hadits tentang status ‘Amr bin Hushain. Walaupun Ustadz Adhli sendiri dalam tulisannya tidak membedakan antara matruk dan kadzdzab.

BERIKUT INI POIN-POIN TANGGAPAN SAYA:

MAKSUD UCAPAN “MAUDHU’ DENGAN SANAD INI”.

Ustadz Adhli yang menilai palsu riwayat al-Baghawi mengaku hanya menilai palsu riwayat tersebut yang di dalam sanadnya terdapat perawi kadzdzab. Oleh karena itu beliau berkata “haditsnya palsu dengan sanad Ini” dan tidak berkata: “haditsnya palsu” (mutlak).

Jawab saya:

Ucapan “haditsnya palsu (maudhu’) dengan sanad ini” penyebabnya bukan mutlak karena perawi “kadzdzab”, tetapi ungkapan tersebut digunakan ulama' karena banyak hal, salah satunya adalah karena terdapat kesalahan dari perawi, walaupun mungkin perawi tersebut tsiqah atau hanya dhaif ringan saja. Kita akan banyak menemukan ucapan ulama', Imam Abu Hatim misalnya, yang menilai palsu dengan ungkapan “haditsnya maudhu’ dengan sanad ini”, tetapi perawi yang membawakan hanya majhul atau dhaiful hadits. Yang padahal perawi majhul atau dhaiful hadits tidak otomatis riwayatnya palsu.

Tetapi sebenarnya saya merasa heran, mengapa Ustadz Adhli sama sekali tidak menyampikan nukilan ulama' “haditsnya maudhu’ (palsu) dengan sanad ini sebab perawi yang kadzdzab", sehingga hujjah beliau benar-benar menjawab tanggapan saya. Apa memang beliau tidak menemukan? Atau memang tidak ada? Beliau hanya menukil penjelasan Imam Suyuthi tentang pembahasan hadits dengan sanad lemah dan methode pembagian hadits dhaif oleh sebagian ulama' (hadits palsu bagian dari hadits dhaif) yang menurut saya sama sekali tak nyambung dengan issu yang sedang diperbincangkan. Oleh karena itu, dalam pandangan saya, jawaban beliau adalah murni analisis pribadi dan bukan dari ulama'.

APAKAH PERAWI “KADZDZAB” CUKUP UNTUK MENILAI HADITSNYA MAUDHU”?

Sangat tidak tepat menilai kepalsuan hadits hanya berdasarkan perawi kadzdzab yang wujud dalam silsilah sanadnya, walaupun dengan ungkapan diplomatis “Palsu dengan sanad ini”.

Al-Ustadz Ali bin Nayif asy-Syahud berkata:

فلا يكفي للحكم على الحديث بأنه موضوع مجرد أن يكون فيه راوٍ كذاب،أو يكون فيه راوٍ من مراتب الضعف الشديد، بل أكتفي بالحكم على إسناد الحديث بأنه إسناد شديد الضعف أو ضعيف جداً، ولا أقول : موضوع حتى تكون هناك قرينة .

Intinya, bahwa tidak boleh menilai kepalsuan hadits hanya karena didalam sanadnya terdapat perawi pendusta, tetapi cukup dengan mengatakan “sanadnya sangat lemah”. Karena penilaian palsu masih menunggu qarinah-qarinah yang lain.

AL-MUNDZIRI MEMBERIKAN CIRI-CIRI HADITS DHAIF:

Untuk menambah pengetahuan dan juga tanggapan, berikut saya sampaikan ciri-ciri hadits dhaif menurut al-Mundziri dalam Mukaddimah Targhib wa Tarhib (dikutip dari kitab al-Ustadz Ali bin Nayif asy-Syahud):

وإذا كان في الإسناد من قيل فيه كذاب أو وضاع أو متهم أو مجمع على تركه أو ضعفه أو ذاهب الحديث أو هالك أو ساقطٌ أو ليس بشيء أو ضعيف جدا أو ضعيفٌ فقط،أو لم أر فيه توثيقاً بحيث لا يتطرق إليه احتمال التحسين،صدَّرتهُ بلفظة (رويَ ) ولا أذكر ذلك الراوي،ولا ما قيل فيه البتة، فيكون للإسناد الضعيف دلالتانِ : تصديره بلفظة (رُويَ) وإهمالُ الكلام عليه في آخره

Ringkasnya, tidak serta merta perawi kadzdzab haditsnya adalah maudhu’, bahkan bisa saja hanya dhaif (jiddan) saja.

ULAMA TIDAK MENGATAKAN PALSU RIWAYAT ‘AMR BIN HUSHAIN

Mari kita simak baik-baik sanad yang terdapat ‘Amr bin Hushain (kadzdzab atau matruk) tetapi ulama tidak menilai riwayatnya palsu, dan hanya menilai dhaif (jiddan) saja.

1. ASY-SYAUKANI DALAM FAWAID MAJMU’AH:

قال في اللآلئ هذا الحديث أخرجه الحاكم في المستدرك وتعقبه الذهبي فقال في إسناده عمرو بن الحصين تركوه وأصبغ لين انتهى وعلى كل حال فقد أفرط ابن الجوزي في إدخال هذا الحديث في الموضوعات

“Memasukkan hadits yang terdapat ‘Amr bin Hushain ke dalam kitab al-Maudhu’at adalah berlebihan”.

2. AS-SAKHAWI DALAM AL-MAQASHID AL-HASANAH

القضاعي من حديث عمرو بن الحصين حدثنا محمد بن عبد الله بن علاثة حدثنا أبو سلمة الحمصي به مرفوعا وكذا هو في ترجمة عمرو بن الحصين من الميزان ولكن عمرو متروك وأبو سلمة واسمه سليمان بن سلم وهو كاتب يحيى بن جابر قاضي حمص لا صحبة له فهو مع ضعفه مرسل

“As-Sakhawi menilai hadits yang terdapat ‘Amr bin Hushain adalah dhaif, tidak palsu”.

3. IBN MULAQQIN DALAM KHULASHAH AL-BADR AL-MUNIR:

حَدِيث جَابر مَرْفُوعا مَا أكل لَحْمه فَلَا بَأْس ببوله رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيّ وَإِسْنَاده ضَعِيف فِيهِ عَمْرو بن الْحصين الْعقيلِيّ وَهُوَ واه بإجماعهم

“Sanadnya dhaif karena terdapat ‘Amr bin Hushain al-Uqaili”.

4. AL-MUNAWI DALAM FAIDHUL QADIR

قال الهيثمي : فيه عمرو بن الحصين وهو متروك انتهى ومن ثم قال شيخه العراقي كالمنذري : سنده ضعيف جدا.

“Sanadnya dhaif jiddan pada riwayat yang terdapat ‘Amr bin Hushain. Demikian kata al-Hafizh al-Iraqi”.

5. AL-BAIHAQI DALAM SYUAB AL-IMAN

أخبرنا أبو عبد الرحمن بن محمد بن عبد الله السراج أنا القاسم بن غانم بن حمويه الطويل نا أبو عبد الله البوشنجي نا عمرو بن الحصين نا محمد بن علاثة عن الأوزاعي عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : لا حسد ولا ملق إلا في طلب العلم قال الشيخ : وهذا الإسناد ضعيف وهذا لا يصح عن الأوزاعي وروي أوجه كلها ضعيفة

“Sanadnya dhaif dan didalam sanadnya terdapat ‘Amr bin Hushain”

6. HUSAIN BIN SALIM DALAM TAHQIQ MUSNAD ABI YA’LA

حدثنا عمرو بن الحصين حدثنا عبد العزيز بن مسلم عن ليث بن أبي سليم عن أبي محمد عن معقل بن يسار : حدثني أبو بكر ... : قال حسين سليم أسد : إسناده ضعيف

“Husain Salim Asad menilai sanadnya dhaif pada hadits yang terdapat ‘Amr bin Hushain pada riwayat Abu Ya’la”.

7. AL-BUSHIRI DALAM ITHAF KHAIRAH

قَالَ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ : حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الْحُصَيْنِ ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُلاَثَةَ ، حَدَّثَنِي الأَوْزَاعِيُّ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ عُرْوَةَ ، عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ الله عَنْهَا ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قَالَ : مَنْ نَامَ بَعْدَ الْعَصْرِ فَاخْتَلَسَ عَقْلُهُ ، فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ. هَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ

“Al-Bushiri menilai riwayat yang terdapat ‘Amr bin Hushain adalah dhaif”.

8. AL-HAKIM DALAM AL-MUSTADRAK

عمرو بن الحصين و محمد بن علاثة ليسا من شرط الشيخين و إنما ذكرت هذا الحديث شاهدا متعجبا

“Al-Hakim menilai riwayat yang terdapat ‘Amr bin Hushain sebagai syahid. Dan Syahid tidak boleh dari hadits palsu”.

RIWAYAT SAID BIN MANSHUR DALAM KITAB AL-HASAN

Sementara dalam riwayat Said bin Manshur, saya merasa ada janggal dari Ustadz Adhli, bagaimana bisa menilai palsu riwayat Said bin Manshur hanya karena beliau tidak membawakan sanadnya? Semantara Ustadz Adhli sendiri tidak memberikan penjelasan-penjelasan yang menguatkan argumentasinya.

Oleh: Ustadz Hidayat Nur