DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Secara hukum dalam literatur fikih kita adalah diperbolehkan membalas setimpal kepada orang yang berbuat buruk kepada kita. Namun dalam kemuliaan akhlak hal tersebut tidak dianjurkan. Demikian itu banyak diteledankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Hidup bahagia tanpa harus bermaksiat adalah pilihan hidup yang sangat mulia. Hal ini pernah disampaikan oleh KH. Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, dalam salah satu ceramahnya.
Menjadi buruh, budak, atau pekerja kasar bukanlah aib. Justru, jika dijalani dengan keimanan dan keikhlasan, pekerjaan itu menjadi jalan mulia menuju ridho Allah.
Ketika si anak sudah semakin besar, maka wajib bagi orang tuanya untuk menjelaskan penjelasan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang tepat dan komprehensif bahwa Allah wujud tanpa bertempat.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Dalam berbagai kesempatan—sebagaimana banyak rekaman yang diposting di kanal YouTube, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha sering menekankan bahwa agama seharusnya dihadirkan dengan cara yang menyenangkan.
Kisah ini mengajarkan bahwa dalam Islam, kekayaan bukanlah aib atau sesuatu yang harus dijauhi. Yang penting adalah bagaimana kekayaan itu digunakan. Jika berada di tangan orang yang sholeh dan bertakwa, harta justru menjadi alat untuk memperluas manfaat dan kebaikan.
Jihad memiliki spektrum yang luas, mencakup segala bentuk perjuangan di jalan Allah, termasuk di antaranya berbakti kepada kedua orang tua.
Amalan ini tampak sederhana, namun mengandung kekuatan besar. Dalam kehidupan sehari-hari, menghidupkan adab kecil seperti ini adalah bagian dari menjaga hubungan kita dengan Allah dan makhluk-Nya. Dengan salam yang penuh berkah, rumah menjadi tempat datangnya rahmat, ketenangan, dan pintu-pintu rezeki yang terbuka lebar.
Mendidik anak, bagi Gus Baha, bukan hanya mengajarkan disiplin, tapi juga menumbuhkan rasa cinta, hormat, dan tanggung jawab terhadap masa depan agama dan kemanusiaan.