Biografi Habib Ali bin Husin Alatas (Habib Ali Bungur)

 
Biografi Habib Ali bin Husin Alatas (Habib Ali Bungur)

Daftar Isi Profil Habib Ali bin Husin Alatas (Habib Ali Bungur)

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Murid-Murid
  5. Teladan Habib Ali Bungur

Kelahiran

Habib Ali bin Husin Alatas atau yang dikenal dengan panggilan Habib Ali Bungur dilahirkan di Huraidhah, Hadramaut, pada tanggal 1 Muharram 1309 Hijiriyah atau 1889 Masehi.

Wafat

Habib Ali bin Husin Alatas pada akhirnya memenuhi panggilan Allah, beliau berpulang ke haribaan Allah SWT pada usia 87 tahun, tepatnya bulan februari 1976.

Pendidikan

Sejak usia enam tahun Habib Ali Bungur memulai pendidikanya di ma’had atau pesantren di Hadramaut. Pada usia yang menginjak  23 tahun atau pada tahun 1912, beliau berangkat untuk menunaikan ibadah haji.

Di kota suci ini, Habib Ali menetap selama lima tahun. Waktunya dihabiskan untuk menuntut ilmu kepada beberapa ulama. Kemudian pada tahun 1917, beliau kembali ke Huraidhah, dan mengajar di kota yang banyak memiliki pesantren.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1920, pada usia 41 tahun, ia pun berangkat ke Jakarta. Ketika di Jakarta beliau menetap di daerah Cikini, berdekatan dengan Masjid Cikini. Masjid tersebut adalah masjid yang dibangun oleh Raden Saleh.

Habib yang dikenal sebagai guru dari sejumlah ulama terkemuka di Betawi itu, pada masa hidupnya dikenal sebagai ulama ahli dalam bidang fikih, falsafah, tasawuf, dan perbandingan mazhab. Menguasai berbagai kitab kuning dari berbagai mazhab.

Murid-Murid

Habib Ali Bungur, selama 56 tahun telah mengabdikan diri untuk perjuangan agama. Bukan saja di Indonesia, juga di Malaysia dan Singapura, banyak muridnya.

Di Indonesia, menurut putranya, Habib Husein, yang kini menjadi penerus dari majelis taklim ‘Al-Khairat’ di Condet, mengatakan bahwa ayahnya itu sebetulnya memilik banyak murid, karena ayah mengisi dan mengajar dibeberapa daerah juga seperti, Bogor, Cianjur, dan Sukabumi.

Di bawah ini adalah beberapa nama-nama murid Habib Ali Bungur :

  1. KH. Abdullah Syafi’ie, (Pimpinan Majelis Taklim Assyfi’iyah)
  2. KH. Tohir Rohili (Pimpinan Majelis Taklim Attahiriyah)
  3. KH. Syafi’i Hadzami (Ketua Umum MUI Jakarta)
  4. KH. Abdurahman Nawi (Pimpinan Majelis Taklim Al-Awwabin di Tebet Jakarta Selatan)
  5. Habib Husein Almachdor (Bondowoso)
  6. Habib Abdullah Bilfaqih (Surabaya)
  7. Buya KH. Abdullah bin Nuh
  8. Prof. Dr. Abu Bakar Atjeh
  9. Hamka
  10. Habib Muhammad Alhabsyi (Putra Habib Ali Kwitang)
  11. Habib Abdul Kadir bin Abdullah Bilfaqih (Malang)
  12. KH. Abdul Razaq Ma’mun
  13. KH. Nur Ali (Bekasi)

Bahkan menurut sebuah cerita, para muridnya itu kemudian menjadi guru para mubaligh, dan perguruan tinggi Islam.

Teladan Habib Ali Bungur

Seperti dikemukakan oleh salah satu muridnya, Habib Ali bin Abdurahaman Assegaff, salah satu pimpinan jamaah subuh di Tebet, ”Setiap orang yang mengenal Habib Ali Bungur selalu akan berkata, hidupnya sederhana, dan tawadhu”.

”Setahu saya, kata Habib Ali Assegaff, Beliau tidak pernah menyakiti sesama manusia, teguh memegang prinsip, menolak pengultusan, berani membela kebenaran, luas dalam pemikiran”.

Selain itu, Habib Ali Assegaff pernah mengatakan yang perlu diikuti dari beliau adalah agar kita tidak membeda-bedakan kaya dan miskin.