Saya lebih suka menyebut “Post-truth”, sebagai sebuah prilaku dishonesty and deception, ketidakjujuran yang dipadukan dengan penipuan. Sebuah upaya untuk menempatkan sesuatu yang tidak benar agar menjadi seolah-olah benar. Untuk mencapai tujuan itu, fakta-fakta diabaikan dalam mempengaruhi dan membentuk opini publik. Gantinya, disebarkanlah fakta-fakta palsu yang menggerakkan sentimen emosi publik. Semakin besar dan tak masuk akal kebohongannya akan semakin baik, itu salah satu ciri khasnya. Ciri lainnya, post-truth berpegang pada anggapan bahwa lebih mudah menyampaikan pesan atau mencapai apa yang diinginkan dengan cara membuat publik marah, benci, kesal, sebal dan sejenisnya (meskipun) dengan cara berbohong. Cara itu dianggap lebih berpengaruh ketimbang menyampaikan fakta-fakta. Post-truth selalu emosional dan menyesatkan.
Post-truth memperoleh percepatan pe
🔒
Lanjutkan membaca dengan Laduni+
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+