Biografi Prof. Dr (HC) KH. Ma’ruf Amin

 
Biografi Prof. Dr (HC) KH. Ma’ruf Amin

Daftar Isi Profil Prof. Dr (HC) KH. Ma’ruf Amin

  1. Kelahiran
  2. Keluarga
  3. Pendidikan
  4. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  5. Kiprah di Politik
  6. Karier

Kelahiran

Prof. Dr. (HC) KH. Ma'ruf Amin lahir pada 11 Maret 1943 di Kresek, Tanggerang. Beliau merupakan putra dari KH. Mohammad Amin, sosok seorang ulama besar Banten.

Dari silsilah keluarga, KH. Ma’ruf Amin adalah keturunan dari ulama besar asal Banten yang pernah menjadi imam Masjidil Haram yaitu Syekh Imam Nawawi Al Bantani.

Keluarga

Pada tahun 1964, Prof. Dr. (HC) KH. Ma'ruf Amin melepas masa lajangnya dengan menikahi dengan Siti Churiyah, setelah menikah beliau Pindah ke Jakarta dan menetap di Jakarta Utara. Tapi sayangnya usia pernikahan beliau hanya bertahan 49 tahun, karena pada tahun 2013, sang istri telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Satu tahun paska wafatnya sang istri atau tepatnya pada tahun 2014, KH. Ma’ruf menikah kembali dengan Wury Estu Handayani.

Buah dari pernikahan dari kedua istrinya, beliau dikaruniai delapan orang anak. Putra-putri beliau diantaranya:

  1. Hj. Dra. Siti Marifah, SH.   
  2. Hj. Siti Mamduhah, SE. 
  3. Siti Najihah 
  4. Hj. Siti Nur Azizah  
  5. Ahmad Syauqi   
  6. Ahmad Muayyad   
  7. Siti Hannah   
  8. Siti Haniatunnisa 

Pendidikan

Aktifitas Ma’ruf Amin sewaktu kecil diwaktu pagi ia habiskan bersekolah di SD. Dan sorenya, ia habiskan belajar mengaji di Madrasah Ibtidaiah. Diketahui  Ma’ruf Amin sempat belajar agama selama beberapa bulan di Pesantren Citangkil, Silegon, Banten milik KH. Syam’un Alwiah.

Lahir dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU),  keluarganya kemudian menyekolahkan Ma'ruf Amin ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur pada tahun 1955.

Setelah selesai menimba ilmu di pesantren Tebu Ireng, Ma’ruf Amin melanjutkan pendidikannya di Jakarta tepatnya di SMA Muhammadiyah. Namun pendidikannya itu ia tidak selesaikan. Ma’ruf Amin memilih kembali ke Banten dan lebih mendalami agama islam di berbagai pondok pesantren lagi. Mulai dari Pesantren Caringin, Labuan, Pesantren Petir, Serang, dan Pesantren Pelamunan, Serang.

Setelah menikah, dan pindah ke Jakarta Utara, Ma’ruf Amin melanjutkan pendidikannya dengan kuliahdi Universitas Ibnu Chaldun, Bogor, Jawa Barat.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Ma'ruf Amin aktif berorganisasi di Nahdlatul Ulama. Bahkan ia telah menjadi Ketua Ansor Jakarta pada 1964-1966.

Pada tahun 1977 hingga 1989, dirinya didapuk menjadi pengurus Lembaga Da'wah PBNU Jakarta. pada tahun 1989, Nama Ma’ruf Amin mulai masuk di lingkaran PBNU setelah didaulat sebagai Khatib Aam Syuriah PBNU dalam sebuah Mukhtamar NU yang digelar di Pesantren Krapyak.

Pada tahun 1998, KH. Ma`ruf Amin menjabat sebagai ketua tim lima yang dibentuk oleh PBNU. Dari tim inilah kemudian lahir Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB.

KH. Ma'ruf Amin juga merupakan tokoh senior di Majelis Ulama Indonesia atau MUI. Pasalnya, ia telah bekecimpung di MUI sejak lama. Ia sudah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat pada 1996.

Pengalamannya yang sangat banyak di bidang agama dan juga politik mengantarkan KH. Ma`ruf Amin menjabat sebagai Rais ‘Aam atau ketua umum PBNU dari tahun 2015 hingga 2020. Selain itu beliau juga menjabat sebagai ketua MUI Pusat dari tahun 2015.

Kiprah di Politik

Karier Ma’ruf Amin di politik menanjak. Ia berhasil menjadi anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Golongan Islam pada gelaran pemilu 1971.

Setelah PKB berdiri, KH. Ma`ruf Amin menjabat sebagai anggota MPR RI dari perwakilan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia juga pernah menjadi Ketua Komisi VI DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Setelah Gusdur lengser, KH. Ma`ruf Amin lebih banyak menghabiskan aktifitasnya di Majelis Ulama Indonesia sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI dari tahun 2001 hingga 2007.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu menunjuk KH. Ma`ruf Amin masuk dalam Anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Watimpres.

KH. Ma'ruf Amin sendiri memiliki pengalaman yang panjang di jabatan publik. Dia memiliki pengalaman 7 tahun sebagai Anggota Dewan Presiden (2007-2014). Ma'ruf Amin juga memiliki pengalaman legislatif dari tahun 1971 hingga 1999.

Terakhir, Ma'ruf Amin merupakan anggota Badan Pertimbangan Ideologi Pancasila bersama Try Sutrisno, Ahmad Syafii Maarif, KH. Said Aqil Siradj, Mahfud MD, Sudhamek, Andreas Anangguru Yewangoe, dan Wisnu Bawa Tenaya. BPIP sendiri diketuai Megawati Soekarnoputri.

Pada Pilpres 2019, KH. Ma'ruf Amin digandeng Presiden Jokowi untuk maju sebagai Calon Wakil Presiden. Setelah melalui berbagai proses panjang, keduanya terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019-2024.

Karier

KH. Ma'ruf Amin mengawali kariernya sebagai guru sekolah di Jakarta Utara pada 1964 hingga 1970. Pada kurun waktu tersebut, KH. Ma'ruf Amin juga sudak aktif sebagai seorang pendakwah. KH. Ma'ruf Amin menjadi dosen di Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta pada 1968.

Adapun karier beliau yang lain diantaranya:

  1. Direktur dan Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan dan Yayasan Al-Jihad (1976)
  2. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (kehidupan beragama) (2007–2010)
  3. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2010–2014)
  4. Anggota DPRD DKI Jakarta dari Utusan Golongan (1971–1973)
  5. Ketua Fraksi Utusan Golongan DPRD DKI Jakarta
  6. Anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) (1973–1977)
  7. Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD DKI Jakarta
  8. Anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) (1977–1982)
  9. Pimpinan Komisi A dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
  10. Anggota MPR RI dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) (1997–1999)
  11. Anggota MPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
  12. Anggota DPR RI dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) (1999–2004)
  13. Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
  14. Anggota Panitia Anggaran DPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
  15. Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) (1999)
  16. Ketua Ansor, Jakarta (1964–1966)
  17. Ketua Front Pemuda (1964–1967)
  18. Ketua NU, Jakarta (1966–1970)
  19. Wakil Ketua Wilayah NU, Jakarta (1968–1976)
  20. Anggota Koordinator Da'wah (Kodi), Jakarta (1970–1972)
  21. Anggota Bazis (Badan amil zakat, infaq, dan shadaqah), Jakarta (1971–1977)
  22. Ketua Dewan Fraksi PPP (1973–1977)
  23. Anggota Pengurus Lembaga Da'wah PBNU, Jakarta (1977–1989)
  24. Ketua Umum Yayasan Syekh Nawawi Al Bantani (1987)
  25. Katib Aam Syuriah PBNU (1989–1994)
  26. Anggota MUI Pusat (1990)
  27. Rois Syuriah PBNU (1994–1998)
  28. Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (1996)
  29. Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) (1996)
  30. Ketua Dewan Syuro PKB (1998)
  31. Mustasyar PBNU (1998)
  32. Anggota Komite Ahli Pengembangan Bank Syariah Bank Indonesia (1999)
  33. Ketua Komisi Fatwa MUI (2001–2007)
  34. Mustasyar PKB (2002–2007)
  35. Ketua Harian Dewan Syariah Nasional MUI (2004–2010)
  36. Ketua MUI (2015–2019)
  37. Wakil Presiden Indonesia 2019-2024

Penghargaan

Dalam Biografi KH. Ma’ruf Amin diketahui bahwa KH. Ma`ruf Amin tidak pernah mengenyam pendidikan master hingga ke jenjang doktor di bidang agama. Namun pengetahuannya yang sangat luas tentang agama membuat ia tidak berbeda jauh dengan orang yang sudah bergelar doktor sehingga sangat wajar bila ia mendapat gelar sebagai Professor Doktor.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya