Pusparagam Naskah Warisan Skriptorium Pecenongan dan Strategi Aktualisasinya di Zaman Sekarang

 
Pusparagam Naskah Warisan Skriptorium Pecenongan dan Strategi Aktualisasinya di Zaman Sekarang
Sumber Gambar: Dok. Dispusip DKI Jakarta, Ilustrasi: laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Taman bacaan ternyata bukan fenomena baru di Jakarta. Setidaknya sejak paruh kedua abad ke-19 pusat-pusat literasi rakyat sudah tumbuh dan berperan penting dalam sirkulasi pengetahuan. Salah satu yang paling menonjol adalah taman bacaan yang dikelola keluarga Fadli di kawasan Pecenongan. Dari ruang baca sederhana itu, Sapian bin Usman Al-Fadli, adiknya Sapirin, serta dua generasi penerus, yakni Muhammad Bakir dan Ahmad Beramka, menjadi penggerak utama geliat budaya literasi urban. Mereka tidak hanya mengoleksi naskah, tetapi aktif mengarang dan menyalin cerita-cerita baru, kemudian menyewakannya kepada masyarakat sekitar. Aktivitas ini menciptakan sebuah ekosistem pembacaan yang hidup, di mana teks tidak sekadar objek konsumsi, melainkan hasil kreasi yang terus diperbarui sesuai kebutuhan zaman.

Naskah-naskah yang beredar dari Pecenongan itu memuat spektrum yang luas. Dimulai dari cerita petualangan, lakon wayang, dan kisah Panji yang berakar pada tradisi istana, hingga syair-syair simbolik dan catatan mengenai peristiwa sezaman. Keragaman itu menunjukkan betapa ruang baca ini menjadi titik temu antara tradisi dan modernitas.

Apa yang kemudian dikenal sebagai Sastra Pecenongan menandai fase penting dalam sejarah sastra Indonesia. Bisa dibilang ini merupakan sebuah masa peralihan ketika hikayat-hikayat klasik perlahan memberi ruang bagi syair-syair kewartawanan yang lebih aktual, kontekstual, dan bercorak kritis. Dari sini, bibit-bibit sastra Indonesia modern sebenarnya mulai tumbuh. Dari tangan para penyalin dan pengarang lokal yang bekerja sunyi, tetapi membangun jembatan antara khazanah lama dan kesadaran literasi baru.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN