Perempuan Pemimpin Kerajaan Islam, Membaca Kembali Kisah Empat Sultanah Aceh
Laduni.ID, Jakarta - Ketika berbicara tentang sejarah Islam di Nusantara, sebagian besar orang mungkin langsung mengingat nama-nama sultan, ulama, atau panglima perang laki-laki. Gambaran tersebut kemudian melahirkan anggapan bahwa perempuan hanya hadir sebagai pendamping penguasa dan tidak memiliki peran penting dalam menentukan arah sejarah. Padahal, jika menengok kembali salah satu bab penting sejarah Nusantara, kita akan menemukan kenyataan yang jauh lebih kompleks.
Pada abad ke-17, Kesultanan Aceh salah satu kerajaan Islam terkuat di Asia Tenggara saat itu pernah dipimpin oleh empat perempuan secara berturut-turut selama hampir enam puluh tahun. Mereka bukan sekadar simbol atau pengganti sementara, melainkan penguasa yang memegang kendali pemerintahan dalam periode yang tidak singkat. Fakta ini sering luput dari perhatian publik, meskipun keberadaannya menjadi bukti bahwa perempuan pernah menempati posisi tertinggi dalam politik Islam Nusantara.
Kisah para Sultanah Aceh menarik bukan hanya karena menghadirkan perempuan sebagai pemimpin, tetapi juga karena menunjukkan bagaimana masyarakat dan ulama pada masa itu merespons persoalan kepemimpinan secara lebih fleksibel daripada yang sering dibayangkan saat ini. Di tengah perdebatan mengenai boleh atau tidaknya perempuan memimpin, Aceh justru memberikan contoh bahwa realitas sejarah tidak selalu berjalan sesuai dengan stereotip yang berkembang belakangan.
UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN
Masuk dengan GoogleDan dapatkan fitur-fitur menarik lainnya.
Support kami dengan berbelanja di sini:
Rp644.000
Rp0
Rp450.000
Rp65.000
Memuat Komentar ...