01 Apr 2019 · 3.167 dibaca · Kolom
LADUNI.ID - Acapkali al-Qur'an jadi alasan untuk melegitimasi ambisi politik suatu kaum. Sejatinya al-Qur'an membimbing aktivitas setiap muslim, termasuk yang terjun di dunia politik. Politisasi al-Qur'an dan ayatnya bukan barang baru. Ketika perang Shiffin antara Khalifah Ali dan Muawiyah Gubernur Syam, pasukan Muawiyah terdesak dan hampir kalah. Untuk menunda kekalahan, Amru bin Ash komandan pasukan Muawiyah melakukan manuver mengacungkan mushaf al-Qur'an.
Al-Qur'an simbol persatuan umat. Dengan mengacungkan al-Qur'an, Amru bin 'Ash mengajak Khalifah Ali berdamai. Setidaknya menghentikan serangan. Sebenarnya Khalifah Ali paham itu hanya manuver di medan perang, tapi atas desakan sebagian anggota pasukannya, Khalifah Ali menerima ajakan damai dari Amru bin Ash.
Pada kasus kaum Khawarij, ayat al-Qur'an jadi dasar gerakan politik untuk memberontak. Hanya sepotong ayat dari surat Yusuf: 40 yang berbunyi:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّه.
Dengan sepotong ayat itu kaum Khawarij merasa benar atas perilaku kejam me
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+