Pentingnya Akad Pada Setiap Transaksi

 
Pentingnya Akad Pada Setiap Transaksi

PERTANYAAN :

Salam. Punten, dalam mu'amalah seperti jual beli kan dalam syariat ada salah satu rukunnya yaitu ijab qabul, tetapi kebanyakan pada masa sekarang banyak yang tidak memakai ijab qabul, contoh kecilnya saja saya sendiri kalau makan di warteg, makan dulu baru bayar, bagaimana hukumnya ? suwun.

 

JAWABAN :

Wa'alaikumussalam. Ada pendapat yang memperbolehkan aqad tidak memakai ijab qabul, namun pendapat yang kuat dalam madzhab syafi`iyyah tidak sah.

- Bughyatul Mustarsyidin  :

(مسألة: ج): اشترى طعاماً كثيراً وأمتعة من غير صيغة بيع لا صريح ولا كناية جاز ذلك عند من جوّز بيع المعاطاة ولا إثم، وعلى المذهب يحرم ويطالب به في الدنيا لا في الآخرة على الأصح

- Al-Fqh al-Islaam IV/452-453

الثالث ـ مذهب الشافعية والشيعة والظاهرية (2) : لا تنعقد العقود بالأفعال أو بالمعاطاة لعدم قوة دلالتها على التعاقد؛ لأن الرضا أمر خفي، لا دليل عليه إلا باللفظ، وأما الفعل فقد يحتمل غير المراد من العقد، فلا يعقد به العقد، وإنما يشترط أن يقع العقد بالألفاظ الصريحة أو الكنائية، أو ما يقوم مقامها عند الحاجة كالإشارة المفهمة أو الكتابة. ونظراً لما يشتمل عليه هذا المذهب من تشدد وشكلية محدودة ومجافاة لمبدأ المرونة والسماحة واليسر، فقد اختار جماعة من الشافعية منهم النووي والبغوي والمتولي، صحة انعقاد بيع المعاطاة في كل ما يعده الناس بيعاً، لأنه لم يثبت اشتراط لفظ، فيرجع للعرف كسائر الألفاظ المطلقة، وبعض الشافعية كابن سريج والرُّوياني خصص جواز بيع المعاطاة بالمحقَّرات أي غير النفيسة: هي ما جرت العادة فيها بالمعاطاة كرطل خبز، أو رغيف، وحزمة بقل ونحوها

__________

(2) مغني المحتاج: 3/2 ومابعدها، المهذب: 257/1، المختصر النافع في فقه الإمامية: ص142، المحلى لابن حزم: 404/8،

Madzhab Syafi’iyyah, Syi’ah dan Zhohiriyyah :

Sebuah transaksi tidak terjadi dengan perbuatan atau dengan mu’aathah (serah terima tanpa perkataan) karena tidak kuatnya bukti hal tersebut menjadi sebuah transaksi karena kerelaan adalah hal samar yang tidak dapat dijadikan bukti kecuali dengan ucapan sedang perilaku terkadang tidak sesuai kehendak hingga menjadikan ikatan kuat dari sebuah transaksi…

Namun sebagian kalangan Syafiiyyah seperti Imam Nawaawy, al-Baghaawy, al-Mutawally menyatakan sahnya jual beli secara mu’aathah dalam setiap hal yang dipandang masarakat umum sudah dikatakan transaksi jual beli karena tidak terdapat dalil nash yang mensyaratkan dibutuhkan sebuah ucapan dalam terjadinya transaksi karenanya segalanya dikembalikan pada kebiasaan orang pada umumnya.

Sebagian kalangan syafi’iyyah lainnya seperti Ib Suraij dan ar-Rauyaani membatasi dibolehkannya jual beli secara mu’aathah sebatas hal-hal yang dianggap remeh oleh khalayak umum seperti ukuran sekati roti, seikat sayur mayor dan lain-lain. ( Mughni al-Muhtaaj II/3, al-Muhaddzab I/257, Mukhtashar an-naafi’ al-Imaamiyyah hal. 142, al-Mahalli Ibn hazm VIII/404 ). Al-Fqh al-Islaam IV/452-453. Wallaahu A'lamu Bis Showaab.


Sumber: Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah