Biografi KH. Muhammad Ramli

 
Biografi KH. Muhammad Ramli

Daftar Isi Profil KH. Muhammad Ramli

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Berdakwah
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Kelahiran

KH. Muhammad Ramli lahir pada tahun 1906 M atau bertepatan pada tahun 1325 H, di Bone, Sulawesi Selatan. Beliau merupakan putra dari pasangan H. Masalah dan Hj. Aminah.

Sejak kecil, beliau diasuh dan besarkan dalam kultur keagamaan yang sangat kuat. Karena ia berasal dari keluarga agamis, maka ia pun menimba ilmu agama pertamanya dari kelaurga terdekat, yakni kedua orang tuanya.

Wafat

Pada tahun 1952, ketika KH. Wahid Hasyim menjabat sebagai menteri agama. Beliau berkunjung ke markas RU dan merundingkan pembentukan partai politik Islam untuk menghadapi Pemilu 1955. Musyawarah ini memberikan mandat kepada KH. Muhammad Ramli untuk mendirikan partai NU di Sulawesi Selatan.

Melalui partai NU inilah KH Muhammad Ramli terpilih sebagai anggota konstituante dari fraksi NU. Ketika sedang menghadiri rapat konstituante di Bandung, rupanya KH. Muhammad Ramli dipanggil menghadap Ilahi dalam usia 52 tahun pada 3 Februari 1958 sewaktu menjadi anggota Konstituante di Bandung, dan dimakamkan di Pemakaman Arab, Bontoala, Makassar.

Pendidikan

Ramli kecil memulai pendidikannya dengan belajar di Sekolah Rakyat (SR) di lingkungan rumahnya. Setelah beranjak dewasa, Ramli berangkat ke Mekkah untuk berhaji dan belajar ilmu agama selama tiga tahun di sana.

Sepulangnya dari Mekkah pun Romli tetap tawadhu’ dan tidak menyombongkan dirinya. Ramli mengunjungi para ulama di Sulawesi Selatan dan kembali berguru kepada mereka, seperti KH. Ahmad Bone, Syekh Mahmud al-Madani, Syekh Radhi dan Syekh Hasan al-Yamani. Karirnya dimulai sebagai badal Syekh jamaah haji Indonesia asal Sulawesi Selatan, kemudian diangkat menjadi Syekh jamaah haji selama tiga tahun.

Dari sinilah kemuadian KH. Ramli diangkat menjadi Imam Masjid Kajuara oleh Arung Kajuara dan kemudian memangku Jabatan Qadhi di Luwu. Puncak kariernya dalah menjadi anggota konstituante dari fraksi NU dan diangkat menjadi Imam Masjid Raya Ujung Pandang (Makassar sekarang).

Berdakwah

Dalam menjalankan misi dakwahnya, KH. Ramli mengembangkan metode-metode ceramah dan pengajian dengan gaya yang menarik dan disukai oleh masyarakat. Beliau sangat memegang teguh prinsip-prinsip Ahussunnah Waljamaah. Aqidah inilah yang diterapkan, baik kepada santri-santrinya maupun kepada masyarakat secara luas.

KH. Muhammad Ramli berprinsip bahwa hal paling pokok dalam Islama adalah akidah. Karenanya, ia berusaha semaksimal mungkin untuk menanamkan dasar-dasar akidah ini kepada masyarakat.

Dengan segala daya upaya, KH. Muhammad Ramli memberantas segala kemusyrikan yang masih melanda masyarakat Luwu pada waktu itu. Pada waktu itu masyarakat di Luwu masih banyak yang menyembah pohon-pohon, sungai, batu dan lain sebagainya. Meski dilarang oleh agama, namun pada waktu itu penyembahan-penyembahan seperti ini masih ditolelir oleh pihak kerajaan. Dengan demikian KH. Muhammad Ramli merasa berkewajiban untuk meluruskan kesalahan-kesalahan akidah masyarakatnya ini.

Beliau memberikan penerangan-penerangan dengan sikap yang tegas untuk menghilangkan seluruh praktek-praktek kemusyrikan yang masih melanda masyarakat di Sulawesi Selatan. Karena ketegasan-ketegasan sikap dalam setiap ceramah dan fatwa-fatwanya, maka kehidupan beragama Islam menurut tata cara Ahlussunnah Waljamaah di Luwu dapat dirasakan hingga saat ini.

Ketegasan KH. Ramli dalam menata perikeagamaan di masyarakat Luwu, misalnya dapat kita lihat pada perubahan yang dilakukan oleh KH. Ramli mengenai tata cara khutbah Jum’at. Meski gurunya, KH. M As’ad mewajibkan khutbah harus dengan bahasa daerah, namun KH. Ramli dengan mengacu pada kitab-kitab kuning, membolehkan khutbah dengan bahasa Arab.

Jadi menurut KH. Ramli, khatib cukup membaca rukun khutbah dalam bahasa Arab, kemudian menerangkan dengan secukupnya tentang ajakan untuk menambah kebaikan dan ketaqwaan dalam bahasa daerah, bahsa yang dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat setempat. Menurut KH. Ramli, ini adalah bentuk pelaksanaan dari perintah Rasulullah SAW untuk mengajak manusia pada kebaikan sesuai dengan kapasitas kemampuan mereka masing-masing.

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Rabithatul Ulama (RU), adalah embrio kelahiran NU pertama kali di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dibentuk pada 8 April 1950 atas prakarsa KH. Ahmad Bone, KH. Muhammad Ramli dan beberapa ulama sejawatnya.

RU merupakan tempat berhimpun para ulama dari berbagai daerah setelah mereka berpencar-pencar memperjuangkan kemerdekaan di masa revolusi sejak Proklamasi 1945.

Kiai Ahmad Bone, Wafat 12 Februari 1972 pada usia 102 tahun, yang juga dikenal sebagai “Kali Bone” (qadhi atau hakim agama di bekas Kerajaan Bone) berjuang bersama dengan Raja Bone Andi Mappanyukki. Raja Bone ini dikenal yang pertama kali membentuk organisasi ulama NU di wilayah kerajaannya pada tahun 1930-an.

Kiai Ramli berjuang di daerah Luwu, bersama dengan Raja Luwu, Andi Djemma. Kiai nasionalis ini dikenal sebagai seorang Sukarnois di Palopo masa itu. Sementara para ulama RU lainnya yang kebanyakan di kota Makassar, sebelumnya berjuang di kampung-kampung kota, seperti di Bontoala, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda.

Kepengurusan awal dipegang oleh Kiai Ahamd Bone sebagai ketua, sementara Kiai Ramli sebagai wakilnya. Sekretaris dijabat oleh KH. Saifuddin, Qadhi Polewali. Sedangkan KH. Sayid Jamaluddin Puang Ramma, seorang ulama termuda ketika itu dan pembantu pada Qadhi Gowa H. Mansyur Daeng Limpo, mengetuai Bidang Pendidikan dan Dakwah.

Para ulama lainnya yang bergabung dengan RU, di antaranya: KH. Sayid Husain Saleh Assegaf (waktu itu menjabat sebagai Konsul NU Sulawesi Selatan), KH. Paharu, KH. Muhammad Nuh, KH. Abdul Muin, KH. Muhammad Said, KH. Abdur Razaq, KH. Abdur Rasyid, KH. Abdul Haq, KH. Muhammad Saleh Assegaf, KH. Abdurrahman Daeng Situju, dan KH. Muhammad Asap.

Kantor RU, yang merupakan rumah kediaman Kiai Ahmad Bone, bertempat di Jalan Diponegoro, di distrik Matjini Aijo, Makassar. Di jalan itu pula berdiam makam pahlawan nasional Pangeran Diponegoro.

RU kemudian menfasilitasi terbentuknya Partai Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan pada tahun 1952 atas permintaan KH. Wahid Hasyim (waktu itu sebagai Menteri Agama dan Ketua PBNU). Semua pengurus dan anggota RU masuk ke NU. Kecuali KH Muhammad Saleh Assegaf dan KH Abdul Razaq tetap bertahan masing-masing di Masyumi dan di PSII. Demikian pula, ulama kharismatik KH Abddurrahman Ambo Dalle, pendiri DDI (Daruddakwah wal-Irsyad), yang sempat bertemu dengan Kiai Wahid juga bertahan di PSII. Tapi semuanya tetap mendukung perjuangan NU menegakkan Islam Ahlussunnah Waljamaah di tanah Bugis-Makassar.

Menurut penuturan Puang Ramma, RU dibentuk dengan tujuan memberikan pertimbangan kepada pemerintah mengenai masalah-masalah keagamaan yang muncul di tengah masyarakat. Para ulama RU bukanlah orang-orang yang jauh dari pusat pengambilan keputusan. Mereka adalah pejabat tinggi di daerah masing-masing dalam kapasitasnya sebagai qadhi. RU juga berfungsi sebagai forum bahtsul masail, yang membahas masalah-masalah keagamaan yang lebih aktual.

Selain itu, RU juga berfungsi sebagai wadah kaderisasi ulama. Metode yang digunakan oleh RU adalah melalui pengajian kitab kuning. Seorang calon ulama tidak hanya mengaji kepada seorang guru. Puang Ramma misalnya ditempa melalui keketatan dan ketaatannya dalam berguru kepada para seniornya di RU, seperti Kiai Ahmad Bone dan Kiai Ramli.

Cara lainnya adalah  melalui motivasi dan pemberian kesempatan untuk tampil di muka umum dalam acara-acara keagamaan. Apabila seorang calon sudah memenuhi syarat sebagai ulama, RU melakukan sidang penganugerahan gelar keulamaan tersebut.

Keanggotaan RU mencerminkan konfigurasi sosial masyarakat Bugis-Makasar, dengan empat pilarnya: to panrita (ulama), to sugi (pengusaha), to acca (cendekiawan), dan to warani (kaum bangsawan dan anak muda). Keempat pilar ini dihimpun dalam jajaran pengurus dan anggota RU. Dan, setelah RU bergabung ke dalam Partai NU, keempat pilar ini kemudian menjadi kunci kemenangan NU di Sulawesi Selatan pada Pemilu 1955. Mereka memberi kontribusi sekitar 12 persen bagi keseluruhan suara NU di tingkat nasional.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya