06 Jun 2019 · 2.156 dibaca · Kolom
LADUNI. ID, KOLOM- SAAT ITU sang surya mulai redup di hiasi mega merah di ufuk barat sebagai isyarah waktu akan berakhir memasuki putaran sa'atul jadid (waktu yang baru). Masyarakat menanti datangnya hari yang sangat dinantikan diiringan suara takbir. Tidak lama dimana-mana lantunan takbir terus bergema bersahautan.
Menandakan yaumil Aid telah tiba, sang gema takbir terus berkumandang di sudut bumi walau tidak semegah sahutan di lebaran Idul Fitrah mulai Magrib hingga menjelang pelaksanaan salat Idul Fitri.
Padahal antara ‘dua saudara’ kandung lebaran Idul Fitri dan Idul Adha kedua mempunyai kelebihan yang sangat besar dalam pandangan agama bahkan durasi sang “adik” nya Idul Adha gema takbiran hingga akhir hari Tasyrik masih dianjurkan untuk bertakbir.
Hiruk pikuk zaman “edan” bin zaman now alias era industri 4.0 kadang kala ulah khalifatul ardhi kerap mengikis syiar agama nan indah dan menggelora itu. Zamankah yang edan atau penghuni zaman yang semakin jauh dan edan denga
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+