Penjelasan Shalat Sunah Lidaf’il Bala

 
Penjelasan Shalat Sunah Lidaf’il Bala
Sumber Gambar: Foto Dok. Laduni.ID (Ilustrasi Foto)

Laduni.ID, Jakarta - Shalat sunah Lidaf’il Bala’ (tolak bala’) merupakan shalat sunah hajat yang dikerjakan pada malam atau hari Rabu akhir bulan Safar, tepatnya pada hari rabu pekan keempat atau yang dikenal dengan istilah Rebo Wekasan. Shalat sunah ini dikerjakan empat raka'at dengan dua salam dan dilaksanakan secara berjamaah. Mengenai kedudukan hukum pelaksanaan shalat sunah Lidaf’il Bala’ (tolak bala’) pada Rebo Wekasan sebenarnya terdapat perbedaan pandangan antara ulama fiqih dan ulama ahli tarekat. Perbedaan tersebut terletak pada niat pelaksanaan shalat tersebut. Menurut kalangan fuqaha, melakukan shalat pada hari Rabu di akhir bulan Safar dengan niat sebagai shalat Rabu Wekasan tergolong bid'ah yang haram. Sedangkan menurut kalangan ulama tarekat/sufi yang mengamalkannya mendasarkan pada kasyaf sebagian ulama yang mengatakan adanya turun bala/bencana pada hari tersebut. Hal ini sudah kami bahas pada artikel sebelumnya.

Jika shalat sunah pada hari Rabu terakhir bulan Safar diniatkan sebagai shalat sunah mutlak atau shalat hajat, maka hukumnya adalah boleh-boleh saja. Shalat sunah ini dilakukan dalam rangka memperingati sekaligus menenangkan umat dalam rangka berlindung kepada Allah SWT akan datangnya bala’ dan bencana yang terjadi pada bulan Safar. Awal mula munculnya ibadah ini adalah berdasarkan ilham dan ijtihad para ulama salaf maupun ulama sufiyah terdahulu yang teringat bahwa bulan Safar hari rabu pekan keempat merupakan waktu diturunkannya sekitar 320.000 macam bala’. Syekh Ibnu Khothiruddin Al-Atthar (w. th 970 H/1562 M) dalam kitab Al-Jawahir Al-Khoms menyebutkan, Syekh Al-Kamil Farid-Din Sakarjanj telah berkata bahwa dia melihat dalam kitab Al-Awrad Al-Khawarija nya Syekh Mu’inuddin sebagai berikut:

أَنَّهُ يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ ثَلاَثُمِائَةِ اَلْفٍ وَعِشْرِيْنَ أَلَفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ وَكُلُّهَا فَيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِرَةِ مِنْ شَهْرِ صَفَرِ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبُ أَيِّمِ تِلْكَ السَّنَةِ، فَمَنْ صَلَّى فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرُأُ فِيْ كُلِّ مِنْهَا بَعْدَ الْفَاتِحَةِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ سَبْعَةَ عَشَرَ وَالْإِخْلاَصَ خَمْسَ مَرَّاتٍ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ مَرَّاةً وِيَدْعُوْ بِهَذَا الدُّعَاءِ حَفَظَهُ االلهُ تَعَالَى بِكَرَمِهِ مِنْ جَمِيْعِ الْبَلاَيَا  الَّتِيْ تَنْزِلُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَمْ تُحْمَ حَوْلَهُ بَلِيَّةٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلاَيَا إِلَى تَمَام السَّنَةِ

"Sesungguhnya dalam setiap tahun diturunkan sekitar 320.000 macam bala’ yang semuanya ditimpakan pada hari rabu akhir bulan Safar. Maka hari itu adalah hari tersulit dalam tahun itu. Barang siapa shalat empat raka'at pada hari itu, dengan membaca di masing-masing raka'atnya setelah Al-Fatihah yakni surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, mu’awwidzatain masing-masing satu kali dan berdoa–do’anya Insya Allah akan disebutkan setelah ini–, maka dengan sifat karomnya Allah, Allah akan menjaganya dari semua bala’ yang turun pada hari itu dan di sekelilingnya akan terhindar dari bala’ tersebut sampai genap setahun"

Baca Juga: Hukum Shalat Sunah Rabu Wekasan

Adapun selain melaksanakan shalat sunah terdapat adab dan amalan yang dikerjakan pada hari rabu terakhir bulan Safar sebagaimana yang dijelaskan dalam berbagai kitab seperti kitab Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf li Naf'il 'Abid wa Qam'i Kulli Jabbar 'Anid atau yang biasa disebut Mujarrabat Ad-Dairabi karya Syekh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (W. 1151 H), kitab Kanzun Najah was-Suraar fi Fadail Al-Azmina wasy-Syuhaar karya Syekh Abdul Hamid Al-Quds Al-Maky, kitab Nurun 'Uyun karya Syekh Al-Imam Syamsiddin Abi Abdillah Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Saidinnas, kitab Al-Futuhat Al-Haqqaniya karya Al Imam Asy-Syekh Adnan Al-Kabbani, kitab As-Sab’iyyaatu fil Mawaa’idhil Barriyyat karya Al Imam Syekh Abu Nashr Muhammad bin Abdurrahman Al-Hamdaani,  kitab Karunia Agung di Bulan-bulan Agung dari Allah yang Maha Agung karya Al-Habib Ahmad bin Naufal bin Salim bin Ahmad bin Jindan bin Syekh Abu Bakar bin Salim, dan kitab Al-Ad’iyyatul Hasanah Fiimaa Yamurru 'alal Insan Fiikulli Sanah karya KH. Ubaidillah Hamdan.

Status Hukum Shalat Sunah Lidaf’il Bala’
Sebeagiamana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya bahwa shalat sunah Lidaf’il Bala’ pada hari Rabu teralkhir di bulan Safar terdapat perbedaan pandangan khususnya dikalangan ulama fiqih dan ulama sufiyah. Walaupun shalat sunah ini oleh sebagian kalangan dikategorikan sebagai amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW dan bahkan menganggapnya sebagai bid’ah dan haram, namun oleh para ulama sufiyah dan tarekat, amalan shalat lidaf’il bala’ ini tetap boleh dikerjakan asalkan tidak menganggapnya sebagai keharusan yang mesti dilakukan. Pelaksanaan shalat sunah ini juga jangan sampai dijadikan hal yang membuat perselisihan sehingga timbul pertentangan di kalangan internal umat muslim. Akan tetapi justru amalan ini dijadikan momentum peningkatan kualitas ibadah kepada Allah SWT serta sebuah sarana agar dapat berlindung kepada-Nya dari segala macam bencana dan mara bahaya yang akan menimpanya. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 45:

وَ اسْتَعِيْنُوْا بِا الصَّبْرِ وَالصَّلَوةِ

"Carilah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat"

Begitu juga hadis dari Hudzaifah RA dalam riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud bahwa Rasulullah SAW ketika menemukan suatu kesulitan, maka neliau melaksanakan shalat.

عن حذيفة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم إذا حزبه أمر فزع إلى الصّلاة

"Dari Hudzaifah RA berkata: Apabila Rasulullah SAW menemui suatu kesulitan, maka beliau segera menunaikan shalat"

Baca Juga: Petunjuk Lengkap Pelaksanaan Shalat Sunah Lidaf’il Bala

Diluar perbedaan pandangan hukum pelaksanaan shalat sunah Lidaf'il Bala', tentu ada hikmah yang bisa kita ambil di antara pandangan para alim ulama yang semuanya memiliki dasar dan dapat dipertanggungjawabkan. Selama kita berniat menunaikan shalat hajat atau shalat sunah mutlak dan tidak mengkhususkan niat shalat sunah Rebo Wekasan serta tidak menganggapnya sebagai sebuah keharusan yang mesti dilakukan, maka hukumnya adalah boleh. Apalagi jika setelah selesai melaksanakan shalat diiringi dengan ibadah lain yang sangat baik seperti mauidhoh hasanah, shodaqoh dan silaturahim. Hal ini merupakan anjuran Rasulullah SAW sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani bahwa shadaqoh adalah salah satu pencegah bala'.

بَكِرٌوْا بِا الصَّدَقَةِ فَإِنَّ الْبَلاَءَ لاَ يَتَخَطَّاهَا

"Segeralah bershadaqah, sebab bala’ bencana tidak akan melangkahinya"

Namun memang terkadang terdapat kekeliruan yang terjadi di kalangan masyarakat umum dan orang awam seperti kita. Banyak di kalangan umat Islam meyakini bahwa amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya secara langsung dari Rasulullah SAW seperti halnya shalat Lidaf’il Bala’ dianggapnya sebagai keharusan yang mesti dikerjakan, akan tetapi ibadah-ibadah yang jelas-jelas ada tuntunannya dari Rasulullah SAW, oleh masyarakat tidak dianggap sebagai keharusan seperti shalat berjamaah, shadaqah dan semacamnya. Pandangan seperti inilah yang sangat keliru, dan perkara ini amat dekat dengan bid’ah. Padahal, perkara yang sifatnya qath’i (jelas dalil dan contohnya) harus didahulukan untuk diamalkan daripada perkara yang tidak langsung dicontohkan oleh Rasulullah SAW atau seperti praktek ritual ibadah yang sudah melalui akulturasi dengan budaya-budaya tertentu. Namun yang jelas, bentuk ibadah seperti di atas, bukan bermaksud untuk mengubah-ubah syari’at, tetapi sebagai bentuk ikhtiar dalam rangka meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah, dengan catatan tidak meninggalkan perkara-perkara yang jelas dalilnya.

Wallahu A'lam

Catatan: Tulisan ini terbit pertama kali pada tanggal 13 Oktober 2020 Tim Redaksi mengunggah ulang dengan melakukan penyuntingan


Referensi: Dikutip dari Berbagai Sumber