03 Sep 2019 · 2.262 dibaca · Kolom
LADUNI.ID - Ibu Kota baru dengan segala responnya telah menjadi narasi populer, baik di tingkat elit maupun di kalangan awam. Narasi optimisme dan pesimisme menjadi dua sayap yang mengepak bergantian, namun justru turut mendorong menuju titik kepastian. Sungguh suatu progresifitas yang patut diapresiasi, dimana kebebasan menyampaikan pendapat di negeri ini masih terlampau luas untuk suatu kemajuan yang lebih hakiki.
Puncak kepastian hijrahnya ibu kota disampaikan secara konkret oleh Presiden Joko Widodo yang jatuh pada pilihan Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai calon ibu kota baru. Kepastian tersebut sekaligus menggugurkan kepakan sayal oposisional antara optimisme dan pesimisme, di sisi lain justru memicu espektasi ataupun harapan baru. Artinya, kini wacana tersebut telah bergeser dari perdebatan antara setuju dan tidak setuju pada satu-satunya pilihan yaitu harapan baru.
Dalam sejarah panjang bangsa-bangsa dunia perpindahan pusat pemerintahan bukan hal yang istimewa, sehingga tidak perlu mendapat kerisauan luar
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+