Ibu Kota Baru, Kebahagiaan Baru

 
Ibu Kota Baru, Kebahagiaan Baru

LADUNI.ID - Ibu Kota baru dengan segala responnya telah menjadi narasi populer, baik di tingkat elit maupun di kalangan awam. Narasi optimisme dan pesimisme menjadi dua sayap yang mengepak bergantian, namun justru turut mendorong menuju titik kepastian. Sungguh suatu progresifitas yang patut diapresiasi, dimana kebebasan menyampaikan pendapat di negeri ini masih terlampau luas untuk suatu kemajuan yang lebih hakiki.

Puncak kepastian hijrahnya ibu kota disampaikan secara konkret oleh Presiden Joko Widodo yang jatuh pada pilihan Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai calon ibu kota baru. Kepastian tersebut sekaligus menggugurkan kepakan sayal oposisional antara optimisme dan pesimisme, di sisi lain justru memicu espektasi ataupun harapan baru. Artinya, kini wacana tersebut telah bergeser dari perdebatan antara setuju dan tidak setuju pada satu-satunya pilihan yaitu harapan baru.

Dalam sejarah panjang bangsa-bangsa dunia perpindahan pusat pemerintahan bukan hal yang istimewa, sehingga tidak perlu mendapat kerisauan luar biasa. Australia dari Sydney hijrah ke Canberra, dalam sejarah Islam juga terjadi perpindaha pusat pemerintahan berkali-kali dengan progresifitas kemajuan semakin membaik. Tentu harapan yang sama juga harus dijawab tegas oleh pemerintah, setegas pengumuman Joko Widodo saat penetapan calon lokasi ibu kota baru.

Di sisi lain keresahan pesimisme yang bergejolak juga tidak dapat sepenuhnya dieleminir, nota keresahan tersebut tetap menjadi catatan bagi pemerintah untuk dikonversi menjadi optimisme dan harapan. Hanya saja persoalan harapan inipun tidak sekedar persoalan kulit luarnya, harus berpijar dari unsur mendasar dan universal.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN